Terima kasih, telah sedemikian tak adil pada hatiku yang sempat kamu minta berkali-kali. Kamu tahu aku, bukan? Aku bukan laron yang selalu terbang menuju terang, tapi kemudian habis sebelum kelam datang. Cahaya menyilaukan, bahkan membutakan. Sementara, redup ini kerap menyampaikan pesan. Seperti saat-saat itu; setiap aku bertemu dengan untaian waktu di balik irismu, ada kamar tergelap yang memohon untuk diterima lebih dulu. Kamar yang sama sekali tak pernah perempuan lain elukan darimu, karena memang terlalu suwung dan penuh debu.
Terima kasih, telah sedemikian bengis pada jerihku yang tersulut tangguhmu, demi tetap tangguhmu. Aku yang manakah yang tak bisa kamu pahami? Bukankah pernah kamu saksikan sendiri, bahwa puncak keberanianku hanya sampai menelan sekaratku seorang diri? Bukan sampai membiarkanmu bertekuk lutut, bahkan bersujud di kaki perempuan ini. Sungguh, aku muak bila harus menangis dengan bangga, hanya karena dapat meruntuhkan harga diri seorang pria. Karena, Sayangku, tak peduli bagaimana kamu, menjaga kehormatanmu selalu terasa sebagai tanggungjawabku.
Terima kasih, telah sedemikian jahat pada seluruh lembut yang tersisa di dalam raga yang kasatmata. Aku yakin, kamu mengerti. Betapa besar keinginanku, untuk dapat memelihara benci dan dendam atas segala perlakuan burukmu pada tulus, atau naif, atau bodohku ini. Tapi kemudian aku sadar dan kamu memahami, betapa cinta tak pernah baik karena selalu melemahkan, hingga membinasakan keinginan nakal yang ingin berpulang pada kenyataan. Buasku dibuatnya benar-benar lenyap, hingga urusan paling ringan hanya bisa dilakukan dengan berharap. Seperti berharap membenci dan mendendam kekasihku sendiri. Atau, seperti berharap mencintai lelaki lain setelah kamu pergi.
Terima kasih, telah sedemikian kejam pada ingatan, tentang cara paling baik untuk berpamitan.
0 komentar:
Posting Komentar