Dimana bumi di pijak, disitu langit di jungjung. sesaat pepatah lama terbesit dalam jiwa membekas di dasar hati. siapa sangka, 39 huruf dan 9 kata tersebut adalah pepatah sederhana yang sulit terbantahkan dengan theori apapun, semacam ayat2 Tuhan yang belum sempat di firmankan, entah karna tidak berbahasa arab ataukah bahasa ibrani entah karna tidak berbahasa suryani, ataukah itu adalah simpulan ayat-ayat Tuhan yang di alih bahasakan dengan kearifan Lokal. Di dalam pepatah tersebut mengandung penafsiran yang luas yang mungkin perlu berjilid2 untuk menafsirkannya. sesaat ku cermati dan ku kenang masa lalu di saat bersekolah di MI Cipasung tercinta, kalimat tersebut hanyalah alat yang di gunakan oleh guruku untuk mengakali kami agar kami mampu menulis lalu mendapat nilai yang sesuai dengan kualitas tulisannya, disamping itu, tiap2 pecahan kalimat yang kami tulis, secara berangsur2 menyelamatkan kami dari derita buta huruf dan buta aksara, sehingga karenanya, kami bisa berkomunikasi satu sama lain lewat media apapun dan bisa menikmati hidup dengan santai karna jendela dunia serasa memancarkan tabir cahayanya. setiap huruf bergabung dan bersenyawa lalu berubah menjadi kata, kata kata bergabung menjadi sebuah kalimat, kalimat demi kalimat berjajar lalu terbangun sebuah paragraf, paragraf demi paragraf bergabung dan bersinergi menjadi sebuah artikel, dan artikel demi artikel bergabung dan berharmonisasi lalu terbentuklah sebuah buku, buku berjajar dan terjejal lalu menjelma lah menjadi ilmu, ilmu bersatu lalu menjelma lah menjadi sebuah peradaban manusia. yah, huruf2 yang menjadi konsumsi anak2lah yang menjadi cikal bakal sebuah peradaban manusia, bahkan peradaban alam semesta. maju dan mundurnya sebuah peradaban, itu tergantung daripada kualitas ilmunya dan kecintaannya terhadap tatapan pada huruf2 yang tertera di dalam wadah yang bernama buku.
sebagaimana di dalam Alquran dinyatakan.
sebagaimana di dalam Alquran dinyatakan.
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
ayat tersebut tidak mendiskriminasi dan tidak sembarangan mengklaim golongan manapun yang akan di angkat derajatnya, disana hanya disebutkan "الذين امنوا" orang2 yang beriman, tidak disebutkan orang2 yang berislam, bernasroni, beryahudi, berhindu,berbudha,berkonghucu bahkan beratheis sekalipun. secara Pragmatif, ayat tersebut adalah berisi indikasi bagi siapapun yang memang benar2 mampu merasionalkannya dan mampu merealisasikannya. Hanya dua syarat, yaitu "percaya atau Optimis" dan "diberikan ilmu" yaitu orang2 yang mencintai proses pembelajaran baik secara Visual, auditorial maupun kinestetik, baik itu secara kognitif, apektif maupun secara psikomotorik.
dua syarat itu mutlak dan berhak di percayai oleh agama manapun, ras apapun dan golongan apapun. dua hal itu adalah transendetal karna menjadi nodal utama yang bisa dibuktikan secara empirik.
Aku pernah melakukan semacam observasi sederhana mengenai hal ini, bahwa kaum yang lebih universal dalam memaknai tafsiran ini dengan metode "burhani", itu jelas adalah kaum muslimin yang menjadi tuan rumah dari sumber ayat tersebut, begitu banyak tafsir berjilid2 dalam mengomentari ayat tersebut bahkan diselingi hadis serta opini mufasir yang di legalkan dalam kitabnya. jika menggunakan metode "isyroqi" ayat ini cenderung ditafsirkan oleh orang2 spiritualis dengan segala ilhamnya yang memancarkan cahaya bagi siapa yang menerima. mereka selalu mengilhami dan menginspirasi dengan segala hikmah yang tercurah dalam hatinya. jika menggunakan metode tafsir "Amali", saya rasa ayat ini di tafsirkan oleh orang2 jepang, china, ilmuwan barat, dan bangsa bangsa lain yang saat ini memiliki peran sebagai negara adikuasa dan berfaham imperialis. secara empirik, derajat mereka benar2 diangkat oleh Allah ke derajat yang tinggi sama persis seperti yang di janjikan oleh Allah dalam ayat tersebut.
jadi jelas Alquran itu adalah kitabnya umat islam yang di bawa oleh nabi Muhammad Saw yang bertugas sebagai "Rahmatan Lil ALAMIN" Rahmat bagi semesta alam. bukan sebagai Rahmatan lil-MUSLIMIN dan bisa dibuktikan oleh seluruh manusia yang ada di jagat raya.
Saya heran lho, kenapa kebanyakan tuan rumah firman ini hanya mengerti dengan otak saja, tanpa menghayati dengan hati dan mengamalkan dengan dengan seluruh anggota badan secara universal? ada apa ini sebenarnya?. secara apriori, maka seharusnya yang di angkat derajatnya adalah mereka yang sehari2nya bercengkrama dengan Alquran itu. namun faktanya, sedikit saja diantara mereka yang sadar sesadar2nya menyadari kedalaman makna ayat ini, dan ayat ayat yang lain benar2 sebagai petunjuk bahkan penuntun kehidupan secara global dan automatis. bahkan justru diantara mereka, ada yang sibuk merancang ayat2nya sebagai legalitas untuk menghancurkan kehidupan dan merusak tatanan kemanusiaan sehingga manusia jauh dari kesejatiannya.
Aturan ya aturan, apabila ia di ikuti, maka ia akan beroleh pahala, dan jika di tinggalkan bahkan di langgar akan mendapat siksa. maka siapapun yang melanggar aturan peradaban, maka ia akan mendapat siksaan berupa kehancuran peradabannya, serta binasa segala rekonstruksinya.
secara kasat mata, underbow dari realita penderitaan ini diakibatkan dari konsumsi "huruf,kata,kalimat dst" yang kurang memadai, dan miskin kosakata yang mampu mewakili keseluruhan isi hati dan cita2nya. otak yang menjadi gudang dan tempat "ilmu" itu kosong serta sepi. akibatnya kekosongan itu akan di isi oleh hal-hal yang berlawanan dengan ilmu itu, yah hal itu adalah kebodohan, kedunguan, emosi, keserakahan dan segala daya cipta yang bersifat material. sulit rasanya untuk melawan dan memerdekakan diri dari jajahan para rivalis ilmu itu. mereka akan cenderung kejam dan jelas2 akan menjerumuskan pemilik otaknya kedalam tempat yang paling hina, singkatnya Allah akan menurunkan derajat orang2 yang tidak mengisi otaknya dengan ilmu dan hanya di isi oleh hal yang bernama kebodohan tersebut. maka untuk itu, kita harus tunduk pada aturan2 yang di ciptakan oleh kebodohan, kita harus menyetujui segala perintah kedunguan, menaati semua kebijakan kesombongan, tunduk atas semua indikasi kesombongan dan keserakahan. sulit rasanya jika harus memerdekakan kenegaraan otak kita dari imperialisme yg di dalamnya hanya ada iman dan ilmu yang sedikit karna perlu tenaga yang lebih untuk menggempur tentara kebodohan dan kedunguan. pendek kata, kita harus menjunjug tinggi bendera kemenangan kebodohan diri kita sendiri.
Teritorial negara otak kita adalah 100 milyard sel otak neuron, yang satu sel otak jika di isi 1 ilmu tiap 1 detik akan penuh setelah 30 juta tahun. bayangkan lah pahlawan kita hanya ada iman dan ilmu. lalu ada berapa persen sel kah yang telah berbaiat menjadi anggota ilmu dan iman? dan berapa juta batalyonkah penjajah kita? itu adalah perlawanan yang tidak akan pernah sebanding selamanya, karna kita akan kehabisan waktu untuk menggempurnya.
Lalu dengan apa kita menghadapinya? apakah kita hanya berputus asa dan berpasrah saja kepadanya tanpa memedulikan masa depan kita yang akan menjadi pemeran utama dalam peradaban? sekali sekali tidak. Lagi2 aturan Allah lah yang harus kita kiblatkan, "jangan pernah berputus asa dari tali rahmat Allah", tugas kita hanyalah "KEPALKAN TANGAN DAN TAMPIL KEMUKA, LAWAN.. LAWAN.. dan LAWAN". akhirnya aturan Allah juga yang harus kita junjung "terkadang suatu golongan yang kecil akan mengalahkan golongan yang banyak" dan pintalah tolong kepadaNYa dengan shobar dan sholat.
maka bisa saja iman dan ilmu yang sedikit itu bisa saja mengalahkan sebuah kebodohan dan kedunguan itu dengan telak, asal kita mau bershobar dan bersholat, pengejawantahan dari kelompok Takwa, "waman yattaqillaha yaj'allahu makhroja" barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan menganugrahkan sebuah solusi yang akan menolong manusia.
itulah sekelumit suara-suara langit yang akan menjunjung para penduduk bumi.
Rasanya penting sekali, kita sebagai "penduduk bumi untuk membumikan suara langit, dalam setiap pijakan langkah kita". sebelum rasa sesal mengambil alih peperangan diri yang tiada akhir, maka bertaubatlah dengan merevolusi diri sebagai "alladzina amanu wa'amilusholihati".
"dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".
penduduk bumi, berarti penjunjung suara langit.
Cipasung,sabtu 14 maret 2017.
dua syarat itu mutlak dan berhak di percayai oleh agama manapun, ras apapun dan golongan apapun. dua hal itu adalah transendetal karna menjadi nodal utama yang bisa dibuktikan secara empirik.
Aku pernah melakukan semacam observasi sederhana mengenai hal ini, bahwa kaum yang lebih universal dalam memaknai tafsiran ini dengan metode "burhani", itu jelas adalah kaum muslimin yang menjadi tuan rumah dari sumber ayat tersebut, begitu banyak tafsir berjilid2 dalam mengomentari ayat tersebut bahkan diselingi hadis serta opini mufasir yang di legalkan dalam kitabnya. jika menggunakan metode "isyroqi" ayat ini cenderung ditafsirkan oleh orang2 spiritualis dengan segala ilhamnya yang memancarkan cahaya bagi siapa yang menerima. mereka selalu mengilhami dan menginspirasi dengan segala hikmah yang tercurah dalam hatinya. jika menggunakan metode tafsir "Amali", saya rasa ayat ini di tafsirkan oleh orang2 jepang, china, ilmuwan barat, dan bangsa bangsa lain yang saat ini memiliki peran sebagai negara adikuasa dan berfaham imperialis. secara empirik, derajat mereka benar2 diangkat oleh Allah ke derajat yang tinggi sama persis seperti yang di janjikan oleh Allah dalam ayat tersebut.
jadi jelas Alquran itu adalah kitabnya umat islam yang di bawa oleh nabi Muhammad Saw yang bertugas sebagai "Rahmatan Lil ALAMIN" Rahmat bagi semesta alam. bukan sebagai Rahmatan lil-MUSLIMIN dan bisa dibuktikan oleh seluruh manusia yang ada di jagat raya.
Saya heran lho, kenapa kebanyakan tuan rumah firman ini hanya mengerti dengan otak saja, tanpa menghayati dengan hati dan mengamalkan dengan dengan seluruh anggota badan secara universal? ada apa ini sebenarnya?. secara apriori, maka seharusnya yang di angkat derajatnya adalah mereka yang sehari2nya bercengkrama dengan Alquran itu. namun faktanya, sedikit saja diantara mereka yang sadar sesadar2nya menyadari kedalaman makna ayat ini, dan ayat ayat yang lain benar2 sebagai petunjuk bahkan penuntun kehidupan secara global dan automatis. bahkan justru diantara mereka, ada yang sibuk merancang ayat2nya sebagai legalitas untuk menghancurkan kehidupan dan merusak tatanan kemanusiaan sehingga manusia jauh dari kesejatiannya.
Aturan ya aturan, apabila ia di ikuti, maka ia akan beroleh pahala, dan jika di tinggalkan bahkan di langgar akan mendapat siksa. maka siapapun yang melanggar aturan peradaban, maka ia akan mendapat siksaan berupa kehancuran peradabannya, serta binasa segala rekonstruksinya.
secara kasat mata, underbow dari realita penderitaan ini diakibatkan dari konsumsi "huruf,kata,kalimat dst" yang kurang memadai, dan miskin kosakata yang mampu mewakili keseluruhan isi hati dan cita2nya. otak yang menjadi gudang dan tempat "ilmu" itu kosong serta sepi. akibatnya kekosongan itu akan di isi oleh hal-hal yang berlawanan dengan ilmu itu, yah hal itu adalah kebodohan, kedunguan, emosi, keserakahan dan segala daya cipta yang bersifat material. sulit rasanya untuk melawan dan memerdekakan diri dari jajahan para rivalis ilmu itu. mereka akan cenderung kejam dan jelas2 akan menjerumuskan pemilik otaknya kedalam tempat yang paling hina, singkatnya Allah akan menurunkan derajat orang2 yang tidak mengisi otaknya dengan ilmu dan hanya di isi oleh hal yang bernama kebodohan tersebut. maka untuk itu, kita harus tunduk pada aturan2 yang di ciptakan oleh kebodohan, kita harus menyetujui segala perintah kedunguan, menaati semua kebijakan kesombongan, tunduk atas semua indikasi kesombongan dan keserakahan. sulit rasanya jika harus memerdekakan kenegaraan otak kita dari imperialisme yg di dalamnya hanya ada iman dan ilmu yang sedikit karna perlu tenaga yang lebih untuk menggempur tentara kebodohan dan kedunguan. pendek kata, kita harus menjunjug tinggi bendera kemenangan kebodohan diri kita sendiri.
Teritorial negara otak kita adalah 100 milyard sel otak neuron, yang satu sel otak jika di isi 1 ilmu tiap 1 detik akan penuh setelah 30 juta tahun. bayangkan lah pahlawan kita hanya ada iman dan ilmu. lalu ada berapa persen sel kah yang telah berbaiat menjadi anggota ilmu dan iman? dan berapa juta batalyonkah penjajah kita? itu adalah perlawanan yang tidak akan pernah sebanding selamanya, karna kita akan kehabisan waktu untuk menggempurnya.
Lalu dengan apa kita menghadapinya? apakah kita hanya berputus asa dan berpasrah saja kepadanya tanpa memedulikan masa depan kita yang akan menjadi pemeran utama dalam peradaban? sekali sekali tidak. Lagi2 aturan Allah lah yang harus kita kiblatkan, "jangan pernah berputus asa dari tali rahmat Allah", tugas kita hanyalah "KEPALKAN TANGAN DAN TAMPIL KEMUKA, LAWAN.. LAWAN.. dan LAWAN". akhirnya aturan Allah juga yang harus kita junjung "terkadang suatu golongan yang kecil akan mengalahkan golongan yang banyak" dan pintalah tolong kepadaNYa dengan shobar dan sholat.
maka bisa saja iman dan ilmu yang sedikit itu bisa saja mengalahkan sebuah kebodohan dan kedunguan itu dengan telak, asal kita mau bershobar dan bersholat, pengejawantahan dari kelompok Takwa, "waman yattaqillaha yaj'allahu makhroja" barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan menganugrahkan sebuah solusi yang akan menolong manusia.
itulah sekelumit suara-suara langit yang akan menjunjung para penduduk bumi.
Rasanya penting sekali, kita sebagai "penduduk bumi untuk membumikan suara langit, dalam setiap pijakan langkah kita". sebelum rasa sesal mengambil alih peperangan diri yang tiada akhir, maka bertaubatlah dengan merevolusi diri sebagai "alladzina amanu wa'amilusholihati".
"dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".
penduduk bumi, berarti penjunjung suara langit.
Cipasung,sabtu 14 maret 2017.

Wiiih mati suri setahun,bangkit lagi. Mantap kang :D
BalasHapusom om ngapain disini oiy
HapusHehe.. Ini juga berkat motivasi kau mas
HapusSubhanaKallaHumma wabihamdiKa AllaHumaghfir, mantap kang :)
BalasHapuswah kita bertemu di mari mang ..
HapusTerimakasih mas, koreksinya dong. Hehe
HapusKeuureeennn ��
BalasHapusHehe.. Terimakasih, salam silaturrahmi para master
BalasHapus