Jika kau membutuhkan pemanis saja, silahkan kokod saja gula dan madu. Jika kau membutuhkan kepahitan, lebok we patra wali sareng tai ceuli.
Namun apabila kau membutuhkan sesuatu yang seimbang penuh warna jeng arek sapapait samamanis, mari kita bersepakat untuk menjadi BABATURAN (Sahabat).
Namun apabila kau membutuhkan sesuatu yang seimbang penuh warna jeng arek sapapait samamanis, mari kita bersepakat untuk menjadi BABATURAN (Sahabat).
Manusia adalah makhluq sosial dan dinamis, membutuhkan selain dirinya. Adanya rasa saling yang mengikat erat hubungan tersebut, setiap manusia tidak bisa bertahan hidup dalam kesepian, ia akan terlunta dan meronta menyesali kenyataan hidup, seolah singa meraung raung lapar lalu mencari mangsa. Ia akan tersiksa dan tercipta sifat 'tidianisme' atau pembodohan secara komprehensif. Terkurung dari berbagai keniscayaan dan terkungkung dari suratan taqdir alam. Maka kesepian adalah musuh utama fitrah manusia.
Dalam peristiwa kelangsungan hidup manusia itu di sebut sebagai pergaulan atau interaksi, ia membudaya secara otomatis dan mampu memberi dampak mutualisme bagi individu maupun kooperatif, baik itu secara konkret maupun abstrak. Dalam islam hal ini disebut sebagai silaturrahmi atau 'nepungken kadeudeuh' menurut bahasa sunda. Dalam variannya, silaturrahmi/interaksi terbagi kepada beberapa kelompok, yang mana apabila kita melalui tahapanya, maka kita bisa menyaksikan kebenaran jaminan yang dijanjikan oleh nabi dalam sabdanya:
” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “
“Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”.
(Panjang umur dan luas rejeki, insya allah di bahas dalam tulisan selanjutnya. Lamun purun nulisna.hehe..)
Tahapan pertama, interaksi dirinya sendiri. Yaitu sebuah proses perenungan atau si prof PraharaNibiru Praha menyebutnya 'menyelam ke dasar qalbu', sebuah proses yang sangat krusial dan fundamental bagi seseorang, dilakukan dengan cara uzlah, kholwat, semedi, bertapa, puasa, maupun dengan methode tirakat upawasa. Proses ini adalah langkah awal dari pada syarat interaksi yang berkualitas dan bisa memenuhi janji dan jaminan tsb, proses ini adalah pondasi atau dasar dari "sosio humanity" sebuah proses yang bisa membuka pintu hati yang nenyambungkan kepqda hati rekannya, atau sering disebut dengan 'dari hati ke hati'. Jika ini berhasil menumpu puncaknya, maka manusia akan mempunyai sikap saling keterbukaan atau inklusivitas. Sikap tsb adalah gerbang pertama menuju interaksi yang harmoni. Saya rasa ini harus bahkan wajib di jalani oleh sang aktivis sejati, atau siapa saja yang mempunyai harapan duduk di dunia birokrasi.
Kedua, interaksi diri dengan tuhan. Dalam hal ini terdapat beberapa sudut pandang perbedaan dalam eksistensinya, dalam pandangan fiqih disebut 'ibadah', dalam kacamata tashawuf disebut 'wihdatul ma'bud', dalam kacamata akhlaq disebut 'taqarrub'. Dalam kaca mata filsafat disebut theologisme, dalam ilmu kalam disebut sirotol mustaqim, dalan pandangan psikologi disebut sebagai proses kepasrahan.
Apapun itu yang jelas, Tuhan sudah terlibat dalam dirimu sendiri. Kedua interaksi ini, dikategorikan sebagai SQ.
Ketiga, interaksi sosial yaitu individu dengan individu lain,individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Interaksi ini adalah 'Ostensifitas' dari kategori 'makhluq sosial'. Disamping itu, manusia adalah makhluq bebas yang bisa mengeksploitasi aqalnya untuk kepentingan dan kesejahteraan hidup, Dalam hal ini, untuk menjaga interaksi kebebasan tsb, maka manusia di batasi oleh kebebasan yang lain, agar terhindar dari peristiwa disharmonisasi. Maka lahirlah norma, norma agama,susila,hukum dsb, dalam beragama pun di rinci kembali, diantaranya ada munakkahah, muamalah, jinayah dll.
Keempat, interaksi manusia dengan alam sekitar, yaitu sebuah upaya harmonisasi ekosistem yang akan mengantarkan kepada kestabilan semesta, sehinggap apriori ini berkontribusi dalam menjaga hubungan yang sebelumnya. Misalnya menghasilkan kesejahteraan, keamanan, kekhusyuan dalam beribadah dan lain sebagainya.
Kedua, interaksi diri dengan tuhan. Dalam hal ini terdapat beberapa sudut pandang perbedaan dalam eksistensinya, dalam pandangan fiqih disebut 'ibadah', dalam kacamata tashawuf disebut 'wihdatul ma'bud', dalam kacamata akhlaq disebut 'taqarrub'. Dalam kaca mata filsafat disebut theologisme, dalam ilmu kalam disebut sirotol mustaqim, dalan pandangan psikologi disebut sebagai proses kepasrahan.
Apapun itu yang jelas, Tuhan sudah terlibat dalam dirimu sendiri. Kedua interaksi ini, dikategorikan sebagai SQ.
Ketiga, interaksi sosial yaitu individu dengan individu lain,individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Interaksi ini adalah 'Ostensifitas' dari kategori 'makhluq sosial'. Disamping itu, manusia adalah makhluq bebas yang bisa mengeksploitasi aqalnya untuk kepentingan dan kesejahteraan hidup, Dalam hal ini, untuk menjaga interaksi kebebasan tsb, maka manusia di batasi oleh kebebasan yang lain, agar terhindar dari peristiwa disharmonisasi. Maka lahirlah norma, norma agama,susila,hukum dsb, dalam beragama pun di rinci kembali, diantaranya ada munakkahah, muamalah, jinayah dll.
Keempat, interaksi manusia dengan alam sekitar, yaitu sebuah upaya harmonisasi ekosistem yang akan mengantarkan kepada kestabilan semesta, sehinggap apriori ini berkontribusi dalam menjaga hubungan yang sebelumnya. Misalnya menghasilkan kesejahteraan, keamanan, kekhusyuan dalam beribadah dan lain sebagainya.
Memutuskan salah satu interaksi tersebut diatas, berarti memutuskan koherensiasi yang berkesinambungan dalam janji Rasulullah saw tsb. Satu saja kita ingkari maka semuanya akan terputus dari pusatnya, yaitu sang Tuhan yang sedang mengobral kepemurahanNya
Hal ini disinyalir dalam sebuah hadis
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya rahim itu berasal dari Arrahman lalu Allah berfirman, “Siapa menyambungmu Aku menyambungnya dan barangsiapa memutusmu aku memutusnya.” (HR. Bukhari).
Maka dari itu, mari bersihkan hati kita dari sikap egoisme, lawan kesepian dengan upaya silaturrahmi yang berkualitas, perangi setiap keserakahan dengan sikap peduli terhadap diri, orang lain, alam sekitar dan Tuhan. Perbaiki hubungan dengan teman dan alam sekitar, kumpupkan kembali keakraban yang sempat terurai dan hampir musnah dinuka bumi ini.
انماالمؤمنون اخوة فاصلحوا بين اخويكم
Hanya dengan cara itulah kita bisa mewujudkan WIHDATUL UMMAT.
#Cipasung28okt2017
#21:50
#SELAMAT MALAM SUMPAH PEMUDA
#Cipasung28okt2017
#21:50
#SELAMAT MALAM SUMPAH PEMUDA

0 komentar:
Posting Komentar