IMAN SEBAGAI PEMBEBASN ATAU PEMBELENGGUAN?
Oleh: Aljahil ajangkasep
Filosofi iman adalah bukan terletak daripada ketundukan seseorang pada dogmatisme isi daripada ajaran agama, tetapi seberapa jauh ia menelan hikmah dibalik iman itu sendiri, secara agitatif, kita bisa mengklaim bahwa seseorang dikatakan beriman atau tidak, itu tercermin dari laku yang ditimbulkannya, yaitu bisa di saksikan melalui empirik. Dan realistis, itu tidaklah salah menurutku, namun kenyataannya, secara fungsional, aprioritas iman bukan hanya tercermin dari empirik saja, tetapi lebih daripada itu, rasionalitas keimanan perlu di sempurnakan dengan sikap skeptisisme (meski tidak sepenuhnya), interpretatisme (meski hanya spekulasi) atau estetisme (meski terkadang penuh keterpaksaan).
Yang jelas, kita bisa mengkonsistensikan Iman dengan semua perangkat yang memerlukan entitas tersebut secara aplikatif.
Oleh: Aljahil ajangkasep
Filosofi iman adalah bukan terletak daripada ketundukan seseorang pada dogmatisme isi daripada ajaran agama, tetapi seberapa jauh ia menelan hikmah dibalik iman itu sendiri, secara agitatif, kita bisa mengklaim bahwa seseorang dikatakan beriman atau tidak, itu tercermin dari laku yang ditimbulkannya, yaitu bisa di saksikan melalui empirik. Dan realistis, itu tidaklah salah menurutku, namun kenyataannya, secara fungsional, aprioritas iman bukan hanya tercermin dari empirik saja, tetapi lebih daripada itu, rasionalitas keimanan perlu di sempurnakan dengan sikap skeptisisme (meski tidak sepenuhnya), interpretatisme (meski hanya spekulasi) atau estetisme (meski terkadang penuh keterpaksaan).
Yang jelas, kita bisa mengkonsistensikan Iman dengan semua perangkat yang memerlukan entitas tersebut secara aplikatif.
Keimanan adalah pengucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pelaksanaan dengan anggota badan. Bertambahnya dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan, menguat dengan ilmu, melemah dengan kebodohan dan timbul karna adanya taufiq.
Sudah selayaknya kita melepaskan agama dari kerangkeng dogmatisme yg bersifat sakral dan agreetment, menuju agama yang membebaskan dari belenggu diri yang membosankan. Karna saya yakin seyakinnya, agama yang diperan utamakan dengan iman, itu tidak dimaksudkan untuk menyengsarakan umat dengan kerangkeng ritual2 yang dogmatis, tetapi memerdekakan umat dengan sakralitas yang memaksimalkan aqal untuk menyelam dalam lautan nurani yang manis.
Sudah selayaknya kita melepaskan agama dari kerangkeng dogmatisme yg bersifat sakral dan agreetment, menuju agama yang membebaskan dari belenggu diri yang membosankan. Karna saya yakin seyakinnya, agama yang diperan utamakan dengan iman, itu tidak dimaksudkan untuk menyengsarakan umat dengan kerangkeng ritual2 yang dogmatis, tetapi memerdekakan umat dengan sakralitas yang memaksimalkan aqal untuk menyelam dalam lautan nurani yang manis.

0 komentar:
Posting Komentar