Setiap habis sholat lima waktu sudah seperti biasa jarang meninggalkan tempat sholat nya begitu saja, berbasa basi dengan tuhan, suatu penghormatan ataupun ungkapan kasih sayang kepada sang pencipta, pribumi sejati dan pemilik alam semesta yang selalu memperhatikan kita tanpa satu detikpun kita luput dari pengawasannya.
Setiap pondok pesantren seliberal apapun, se wahabi apapun itu, tetap saja setelah sholat ia selelu bersantai dahulu sebelum meninggalkan posisi sholatnya, baik itu untuk membaca kalimat dzikir dengan bertasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Istigfar, doa atau bahkan pengucapan doa dengan bahasa daerah nya masing-masing, semua dilakukan dengan atas dasar pengungkapan kecintaan pada sang kholiq, baik itu secara terpaksa, sangat terpaksa, ikhlas maupun sangat ikhlas.
Ritual seperti itu terkadang bagi orang awam seperti saya, sangat merisihkan bahkan pernah juga sayah justifikasikan hal itu hanya buang-buang waktu saja, kacape cape, mending sare, mending melanjutkan main atau apa saja urusan yang dilakukan sebelum sholat, baik itu main-main ataupun serius seperti belajar, apalagi apa yang dibaca itu tak bisa saya fahami, berlainan dengan bahasa saya sehari hari, mending bahasa nya saya ngerti jadi bisa merasakan makna yang terkandung ketika itu.
Namun meski asumsi saya seliar itu, saya tak pernah lepas dari ritual tersebut, mungkin atas dorongan orang tua yang super duper disiplin masalah wiridan, bahkan ibu ku akan mengeluarkan jurus "chidori halilintarnya" jika saya ketahuan langsung minggat setelah sholat, tapi terkadang saya curi curi kesempatan kabur pas mereka sedang melaksanakan sholat sunnat, hehe (dasar gue pikasebeleun).
Sampai saat ini saya masih menyangsikan apa itu wirid? Dan apa fungsi utama wirid selain "mengemis pahala" dari tuhan, bagaimana wiridan yang benar, bahkan terlintas dalam hati bercita cita ingin menikmati kegiatan wirid seperti wiridnya sunan kalijaga ketika memunggu instruksi sunan bonang yang baru datang ketika telah tujuh taun lamanya, pernah juga saya bercita cita seperti syaikh abdul qodir jailani qaddasallahu sirrohu yang wirid semalam suntuk selama 11 tahun tanpa makan dan minum, karena konon beliau telah disuguhi makanan yang berasal dari surga, pernah juga saya berangan angan seperti almarhum gusdur yang setiap harinya berwiridan selama 3 jam lamanya tanpa kantuk.
Dipikir secara naluri dan qodrat murni manusia yang konsumtif dan hedonis, tak mingkin mereka mau berlama lama dan menceburkan diri dalam keadaan sedemikian rupa sehingga mengorbankan basyariyah nya (faktor biologis) jika tanpa kenikmatan dan kesenangan dibalik itu, ada sesuatu yang istimewa dari mereka dan ritual mereka, jika manusia semua sama, berperasaan sama, kenapa aku berbeda? Siapa yang beda disini, apa standar kesamaan kita?
Saya teringat bahwa nikmat itu terbagi dua, nikmat Arrahman dan nikmat arrahim, nikmat Arrahman adalah nikmat yang besar walau sedikit banget tapi seluruh alam semesta menyaksikan kehebatan nikmat ini, baik yang hidup ataupun yang mati, yang beriman maupun yang ingkar. Dua nikmat Arrahim yaitu nikmat sedikit walaupun bandingan dengan nikmat Arrahman itu 99 kali lipat tetap dikatakan sedikit karena hanya minoritas yang mengkonsumsinya.
Diantara nikmat Arrahim adalah Rukyatullah (bertatap tatap dengan Alloh), dan yang meengkonsumsi nikmat tertinggi ini adalah golongan "muhsinin" yaitu orang orang yang telah mencapai ihsan dalam beribadah dan hidup didunia, orang orang yang melakukan ibadah seolah olah melihat Alloh, atau merasa dilihat oleh alloh. Orang orang ini adalah orang yang dekat dengan Alloh atau setidaknya orang orang yang so' dekat dengan Alloh (ciiieee...) hehe..
Walau se so apapun itu, baik dekat ataupun pura pura dekat, tetap ada kata "dekat" dekat dengan tuhan, tuhan adalah satu satunya dzat yang maha mencintai kita dengan ketulusan yang tak ada satu alat ukurpun yang mampu mendeteksi volume kasih sayangnya, tak ada satu katapun yang mampu melukiskannya, dan tak ada satu alasanpun kenapa Ia mencintai kita meski kita kadang, sering ataupun selalu menolak kasih sayang Nya.
Bermesraan dengan dengan orang yang kita cintai dan kita kagumi adalah suatu kebanggan tersendiri, seolah kita lupa kepada makhluq yang bernama waktu, dunia pun ia klaim sebagai miliknya sendiri, setiap kemesraan selalu terkandung pada makhluq yang bernama cinta. Seorang bijak bestari pakar cinta pernah berkata, "cinta adalah aku untuk kamu, kamu untuk aku dan tak yang lain selain kita".
Cinta adalah halusinasi pengubah suasana dunia, cinta adalah wisata yang paling indah tanpa panorama yang bisa dijangkau panca indera, cinta adalah segalanya. Dan cinta ku adalah dia, (malam ini yg sedang kelelahan karena siangnya ia berjuang dan pulang dari terjalnya daerah batu tunggul, semoga Alloh melindungi mu meski kau jauh disana) (ehh kalah kadinya, maaf saking cinta nya sampai aku lupa bahwa aku bukan sedang menulis surat untuknya, hehe..) lanjuuttt..
"Betapa indah perasaan ini bersemai di dalam hati, betapa bahagia nya aku menikmati rasa ini (woyy woyy hudang, maneh teh lain ker nulis surat cinta,, hehe .. ok ok lanjut hee,, ).
Tapi ngomong ngomong brobro, apakah mungkin mereka paauliyaiya, para ulama, dan orang orang sholeh tersebut itu memakai cinta yang sedang kurasakan saat ini? Cinta yang sekarang bertahta didalam raga, pernah kah mereka kasmaran?. Lama lama saya mikir, semakin lama saya merenung, saya semakin curiga deh, kalo mereka itu punya rasa cinta ma tuhan, atau mungkin mereka sesungguhnya lagi kasmaran ya ma tuhan, (cciiiee yang kasmaran, hehe...) , kok bisa ya rasa itu mereka milikin? Enak banget, kayaknya mereka gak pernah galau dehh, soalnya saya ga pernah denger kalo para wali itu bunuh diri karena diputusin, hee..
Apa mungkin di saat wiridan juga beliau2 sedang berkomunikasi dengan tuhan di saat wiridan? Apa mungkin saat saat wiridan adalah saat dimana mereka bermesraan sekaligus romantis romantisan dengan tuhan? Berarti sebetulnya mereka itu siapa? Kok tuhan pilih kasih sih ama kita?.
Ya alloh yang maha kuasa, demi hidup dan matiku di bawah kekuasaanMu, berilah kami anugrah cinta yang telah kau berikan kepada kekasih kekasih yang telah lalu,
Setidaknya kasih aku jawaban kenapa aku tak bisa merasakan keindahan bercumbu mesra seperti mereka dengan Mu disaat wiridan, aku teh rumasa ya Alloh, banyak khilaf dan dosa, tapi setidaknya jika tanpa rahmat dan kasih Mu, tak jauh beda aku hanya lah butiran debu, bahkan lebih terabai daripada debu, pliiissss ya Alloh, kasih aku kesempatan bersama orang orang terdekatku, bersama orang orang yang mencintaiku, bersama sama orang yang kucintai, anugrahkanlah kami cinta yang hanya kau lah yang di cintai, anugrahkan lah cinta yang mencintai cinta itu sendiri, cinta yang segala cintanya hanya atas namaMu.
#refleksi_malam.
#kupersembahkan_tulisan_ini_untuk_ulang_tahun_jadian_kami. Aen.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar