TAUHID SOSIAL DAN POLITIK


Oleh : Ajang M Abdul Jalil

Manusia telah ditakdirkan oleh Allah untuk bersuku-suku, berbangsa-bangsa, hidup dalam keberagaman dan keberagamaan yang beragam. Ada suku dayak, sunda, bugis, badui, kurdi dll. Ada bangsa Arab, persia, rasial yang bervariatif semisal ras arya, negroid dll. Ada yang islam, kristen, katholik, hindu, budha, konghucu, sunda wiwitan dll. Realita tersebut adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dipungkiri dan mustahil untuj ditolak karna itu disingalir didalam Alquran surat Al Hujurat ayat 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Maka jangan heran jika seandainya mendapati sebuah perbedaan dalam berbagai aspek dengan sesama kita, semua itu adalah ladang amal yang telah Allah ciptakan sebagai misi bagi manusia dalam menjalankan perannya dibumi ini.
Bagaiamanakah cara menyikapi hal tersebut? setidaknya ada beberapa Point yang perlu kita aplikasikan dalam menghadapi semua keniscayaan itu, antara lain adalah; pertama, kita diperintahkan untuk saling mengenal satu sama lain sehingga kita bisa saling bertukar informasi, saling mengisi ilmu, saling melengkapi, saling menyempurnakan atau dalam pepatah sunda dikatakan "silih asah silih asih silih asuh", dengan berpedoman kepada kode instruksi Ayat Alquran yang dalam teori ilmu shorof bermakna "مشاركة بين الاثنين فاكثر" (musyarokah bainal itsnain fa aktsaro" seperti kata "lita'arofu" (saling mengenal) adanya berbangsa-bangsa adalah untuk saling mengenal, lalu "watawashau bilhaqqi watawasaubissobri" (saling mewasiyatkan dalam urusan haq dan kesabaran) jadi dengan adanya perbedaan tersebut adalah dengan saling mengenal, mengisi kekosongan masing-masing, menukari informasi, lahan untuk saling mengkaji pengatahuan satu sama lain, dan jika terjadi perselisihan dan penyimpangan perbedaan maka diharuskan saling mengingatkan dalam kesabaran, sabar dalam menghadapi perbedaan. Kedua, yakni perbedaan yang maha kompleks tersebut adalah menjadi tugas manusia untuk menjadi Khalifah atau pemimpin dibumi ini, sebagaimana disinyalir didalam Alquran surat Albaqoroh ayat 30

وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. al ayat.
Khalifah disini sangat multi kompleks dan dalam mengangkat kepemimpinannya itu bisa dengan Cara Monarki, hirarki, Demokrasi ataupun melalui musyawarah mufakat, tidak ada metode yang baku dalam islam mengenai tata cara mengangkat kepemimpinan. Semisal Nabi Dawud pun Diangkat menjadi Raja adalah hasil dari kompetisi yang condong kepada Hukum rimba, dan haqiqatnya bercampur dengan kuasa Allah swt sebagaimana didalam Alquran surat Shad ayat 26
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.
perhatikan pula Ayat tersebut ketika Allah mengangkat Adam dan mengangkat Dawud, ketika Allah mengangkat Adam itu tegas dengan kalimat "inni" artinya sesungguhnya aku, sedangkan dalam pengangkatan dawud sebagai pemimpin adalah "inna" sesungguhnya kami (walaupun dalam teori shorof bisa disebut muafzom nafsak) didalam penafsiran ilmu kalam adalah berkaitan tentang penciptaan yang bersifat idtirori (langsung diangkat oleh Alah)  dan bersifat ikhtiyari (ada perantara makhluq, salahsatunya adalah kekalahan jalut dan penobatan raja Thalut kepada dawud)

Saat Ini Di Indonesia memilih pemimpin dengan Cara Musyawarah mufakat pada awal kemerdekaan dan pasca Reformasi, dan saat ini memakai sistem Demokrasi yaitu sebuah pengangkatan pemimpin yang menurut abraham Lincoln "Is the people, by the people, for the people" yaitu kepemimpinan yang berasal dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat. Metode Demokrasi ini dipakai dinegara kita sangatlah Cocok untuk saat ini, karna Negara kita terdiri dari 17.504 pulau, Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia. Atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010, dan terdapat 748 bahasa, dipastikan mempunyai latar, watak, dan kepentingan yang berbeda. Maka dari itu, agar terwujud integrasi bangsa dan merealisasikan masyarakat Madani.

Dilihat dari sudut pandang Geogarfis, Sosiologis dan antropologis, maka bangsa kita adalah bangsa yang paling majemuk dan kayak akan keberagaman watak, latar belakang dan budaya. Maka kita harus mempunyai pemimpin yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata dan kedalaman spiritual yang luar biasa, untuk menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia,  maka Ia harus mampu menjaga kesatuan dan persatuan, sebagaimana didalam Alquran dinyatatakan

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Dan hendaknya pemimpin minimal mempunyai 4 karakter,salah satunya yaitu; Jujur, dalam artian transfaran, terbuka dan apa adanya, seorang pemimpin hendaknya jauh dari sikap pembohong, terutama berbohong saat kampanye demi menarik hati masyarakat dan demi meraup perolehan suara yang banyak, ia menghalalkan segala cara, hal ini sangat berbahaya, karena jika hal ini dipraktekan, maka akan berdampak besar bagi tata tertib berbangsa dan bernegara, menghalalkan segala cara untuk menang, issue-issue murahan mulai ditebar, bahkan fitnah dan adu domba pun dengan tega mereka lancarkan ditengah masyarakat, sehingga dalam kehidupan mereka terjadi kegaduhan yang mengancam kedamaian bermasyarakat bahkan sampai berselisih hanya karena berbeda pilihan dalam pemilu, dalam kampanye mereka rela mengeluarkan berbagai cara untuk menyogok rakyat dan membeli suara, tentunya berkampanye bukan dengan uang sedikit, melainkan uang yang sangat banyak, dan banyak pula diantara para para calon, uang yang didapat dihasilkan dari cara yang kurang Halal, dan bahkan hasil korupsi semasa ia menjabat menjadi anggota bawahan dalam jabatan yang sebelumnya, jika demi memuaskan hasrat jabatan saja menggunakan cara yang kurang baik, maka bagaimana ketika sudah benar-benar menjabat? ada kemungkinan besar ia akan mencari cara untuk mengembalikan modal yang telah ia keluarkan semasa kampanye dahulu, apapun caranya, bahkan, diantaranya ada yang mengambil dan menggelapkan uang rakyat, yang ada dalam mindset mereka adalah, bagaimanapun caranya, apapun resikonya, yang penting modalku kembali. Jadi jika pemimpin menggunakan cara-cara yang tidak jujur ketika mengejar jabatan, ada kemungkinan besar ketika ia sudah menjabatpun akan menjalankan tugasnya dengan cara-cara yang tidak jujur. Ketika pemimpin korup dan tak jujur telah terpilih serta dinobatkan sebagai pemimpin, maka yang dirugika. bukan hanya pemilihnya saja, tetapi semua rakyat, yang tidak memilihpun ikut menikmati kerugian yang diakibatkan oleh ulah pemimpin bobrok. sebagaimana Doel sumbang pernah berkata "Salah ngadukung, rakyat nu begung".

Hendaknya pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang bermoral tinggi, mempunyai tingkat religiusitas yang dalam, loyalitas yang besar, dan kontribusi yang disertai dengan totalitas agar pemimpin tersebut mampu memahami, menghayati, menerapkan dan mengaplikasikan Sikap Jujur dalam memimpin. Sehingga rakyat bisa menikmati dan benar-benar merasakan "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia", semoga Bangsa Kita dirahmati oleh Allah Swt menjadi bangsa yang subur, makmur dan gemah ripah loh jinawi Baldatun Thayyibatun warobbun ghafur.

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar