Shalat adalah ritual yang rutin dilakukan oleh seluruh umat islam sebagai tanda kepasrahan dan ketundukan terhadap Tuhan. Ia juga sebagai pembeda antara muslim dan non muslim. Shalat adalah fenomena ibadah yang luar biasa, bagaimana tidak, Allah langsung memberikan perintah tersebut terhadap Nabi Muhammad Saw setelah melalui sidrotil muntaha tanpa perantara Jibril saat peristiwa Mikraj. Shalat tadinya akan disahkan menjadi 50 waktu, tetapi karna pandangan Nabi Musa as, shalat berubah menjadi 5 waktu saja, tetapi 5 tersebut masih bisa menyamai 50 waktu yang semula.
Salah satu perangkat shalat adalah Khusyu, ia sebagai syarat maqbulnya suatu ibadah, yang dalam hal ini adalah shalat. Diterimanya shalat tergantung tingkatan konsentrasi yang disambungkan olehnya kepada-Nya. Kualitas kesuksesan shalat tergantung pada tingkat kekhusyuan, orang bisa merasa khusyu jika ia mempunyai kualitas yang baik dalam mentauhidkan dirinya kepada Tuhan, selama ia menghambakan dirinya kepada Tuhan, ia akan mempunyai sikap khauf, atau setidaknya roja, itulah yang menghantarkan manusia kepada kesucian diri, setidaknya jika belum sampai mengharap rahmat, maka ia akan mengharap magfirohnya, yang di sinyalir dalam ayat "قد افلح من تزكى" sungguh bahagialah orang yang menyucikan dirinya.
khasya’a ( خشع ) yang dari segi bahasa berarti diam dan tenang. Dia adalah kesan khusus yang terdapat dalam benak seseorang terhadap objek kekhusyu’anya, sehingga yang bersangkutan mengarah sepenuh hati kepadanya sambil mengabaikan selainnya (Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2011, Volume 8, h. 314.)
Dalam ibadah shalat, khusyu’ adalah kondisi jiwa yang diliputi rasa takut jangan sampai shalatanya tertolak. Hal itu ditandai dengan mengonsentrasikan jiwanya sambil mengabaikan segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan shalat. Kondisi jiwa semacam ini tidak terjangkau hakikatnya oleh pandangan lahiriah manusia, sebab ia adalah hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya.
Dugaan sementara orang bahwa khusyu’ dalam shalat adalah larut dalam rasa dan ingatan kepada Allah SWT. sehingga tidak mengingat dan merasakan sesuatu selain-Nya. Dalam koteks ini, contoh yang sering dikemukakan adalah kasus Sayyidina Ali Zainal Abidin, yang diberi gelar dengan as-Sajjâd, cucu Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra ra.
Dalam riwayat dikemukakan bahwa as-Sajjâd menderita penyakit dikakinya yang mengharuskan pembedahan. Maka dia meminta kepada dokter untuk melakukan pembedahan itu pada saat beliau shalat, karena pada saat itu ingatan dan perasaan beliau terpaku pada kebesaran Allah SWT., tidak kepada sesuatu selain-Nya. Beliau tidak merasakan sakit pembedahan itu karena sedang berada dalam puncak kenikmatan menghadap Allah SWT.
Maka dalam hal ini, shalat adalah representasi dari aplikasi pemenuhan hajat kemanusiaan yang sangat multidimensional, terutama dalam masalah kesehatan jasmani dan rohani. Selain dari paparan diatas, dengan kekhusyuannya, shalat bisa menjadi optimalisasi organ tubuh yang kita punya, secara atraktif dalam hal ini akan penulis kemukakan sedikit tentang fungsinya, diantaranya adalah:
1. Shalat sebagai ritual penajam otak manusia.
Sebetulnya banyak sekali interpretasi dan fakta-fakta bahwa shalat bisa menajamkan otak secara optimal diantaranya yang terkenal adalah sujud yang sempurna, saya katakan sempurna bukan berarti saya sudah sempurna, tetapi setidaknya ada beberapa bagian yang paling vital yang bisa kita lakukan dalam shalat, misalkan ارتفاع اسافله ولااعاليه posisi sujud adalah mengangkat bagian bawah tubuh, dan menekan bagian atas tubuh manusia, جبهته مكشوفة jidat dengan terbuka, lalu اثقال جبهته atau memberatkan jidat, andaipun ada kapas di bawahnya, maka akan merembes kebawah, lalu meluruskan paha secara vertikal, dan ini mungkin yang selalu tertinggal mengingat ketika berjamaah di masjid, kita selalu membengkokkannya karna memberi lahan sujud bagi org yang dibelakang kita, sejadah kitapun terkadang terbatas dan jarang memenuhi kriteria ini, maka diusahakan ketika shalat nawafil atau tathawu, kita bisa mengoptimalkan hal ini, karna pada saat itu, saraf otak menerima aliran darah langsung dari jantung sehingga bahan bakar yang menjadi makanan otak, terjadi optimalisasi scr efektif.
2. Shalat sebagai media komunikasi dengan tuhan.
Terkadang kita mempunyai kebutuhan rohani yang sangat mendalam, misalnya ketenangan bathin. Maka dengan ini, shalat pun harus mengandung dzikir yang hanya menghadapkan diri kepada Allah الابذكرالله تطمءن القلوب
Ingatlah bahwa dzikir kepada Allah itu sangat menenangkan hati.
Jadi shalat yang khusyu itu bisa menjalankan haqiqat shalat sebagai تنهى عن الفهشاء yaitu shalat bisa mencegah diri dari perbuatan keji, alias dosa yang berasal dari hawa nafsu, yaitu dengan cara mengemas shalat dengan mengenal beberapa manfaaf dan pengaruh dari shalat itu, yang diantaranya adalah sebagai penajam otak agar bisa berfikir jernih, lalu menenangkan diri agar bisa memfokuskan energi yang dimiliki manusia keotak sehingga otak bekerja secara maksimal. Setidaknya jika kita belum mampu khusyu didalam hati, maka khusyulah dalam ucapan dengan mengenal arti, lalu khusyu dalam perbuatan dengan meninggalkan hal hal yang gerak yang membatalkan.
Kesimpulannya adalah, salah satu pengaruh shalat yang khusyu adalah bisa memaksimalkan daya fikir kita sehingga kehidupan kita merasa tenang dan tentram.
Oleh: Aljahil ajangkasep
๐๐๐ and... You wrote this blog Gorgeously pak haji!!๐ ๐ ๐
BalasHapusLanjutkan