
Edisi menyelam kedasar Qalbu
(Episode 1)
Ajang kasep
Manusia itu adalah sejenis makhluk hidup, yang telah diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai penghuni bumi ini dan menjadi Khalifah untuk mengurusnya, bukan sebagai Khalifah yang sebagaimana diterangkan oleh mereka. Pun dengan fundamentalisme manusia dalam sesuatu makhluk yang tak bisa lepas dari kebutuhan baik biologi, kebutuhan pokok yang lainnya yang tidak bisa disebutkan, tapi nyatanya yang paling dominan adalah manusia tidak bisa hidup sendiri dia tidak akan pernah bisa selamat dari rasa sepi, dia selalu berkembang dengan dirinya sendiri dan melakukan apa saja untuk melakukan hal itu, ia tidak akan pernah bisa berbohong kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak bisa sendiri, dan sangat membutuhkan seorang teman atau orang lain. Seperti Makan, bahkan membutuhkan musuh untuk menjaga eksistensi dirinya. Bisa kita bayangkan seorang pesilat yang selalu berlatih setiap hari,tetapi ia tidak pernah menemukan musuh Apakah ia bisa menemukan peningkatan dalam keahliannya? sungguh tidak bisa yang jelas manusia tidak bisa dilepaskan dari seseorang di luar daripada dirinya, sekalipun polisi. Ia pun membutuhkan seorang penjahat untuk meningkatkan gajinya. Seorang polisi- membutuhkan kasus yang sangat berat yang berfungsi untuk dipecahkan dan dalam rangka kenaikan jabatan jika tanpa kasus, maka polisi itu hanya Sebatas omong kosong belaka, tidak ada apa-apanya. Tanpa jasa seorang penjahat polisi tidak akan pernah bisa untuk membiayai anaknya tidak akan mampu memberikan makan anak dan isterinya kecuali yang berhenti menjadi Polisi, beroindaj profesi menjadi seorang pedagang atau bisnis-bisnis lainnya. Sekalipun yang dibutuhkan begitu hina, kebutuhan tetap lah kebutuhan, Ia adalah sesuatu yang disebut dengan kejayaan tidak terutama pula pada garis-garis perbatasan yang tidak bisa disebutkan dalam berbagai definisi.
Perlu diketahui bahwa kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Manusia Dengan segala kesempurnaannya, sempurna karena lengkapnya terdiri dari kebenaran dan kesalahan itu tidak bisa dielakkan. Semua manusia itu baik kalau kita melihat kebaikannya atau memakai kacamata yang baik, menyenangkan kalau kita melihat dengan keunikannya Tapi semua manusia itu buruk dan membosankan jika kita memakai kacamata keburukan atau kacamata husnudzon. Pada saat itu kita berada pada sebuah sisi di mana mata Allah yang menentukan kebaikan seseorang padanya, kita selalu berharap tentang kebaikan versi kita dan menyalahkan orang lain padahal kenyataannya ketika kita menyalahkan orang lain, Apakah kita sedang benar atau tidak, kebenaran itu tidak terletak pada mata manusia.
Dalam rangka memberantas makhluk bernama sepi, manusia melakukan segala cara dan berbagai macam metode untuk mengusirnya, dengan menjadikan diri Sebagai public figure, sebagai korban, sebagai pemeran utama, sebagai pemeran pembantu, sebagai pihak yang tertindas, sebagai pihak yang menindas, sebagai penikmat, atau dinikmati, sebagai kaum proletar atau kaum kapitalis, sebagai kaum borjuis atau kaum apapun. Yang jelas semua itu dalam rangka menghindarkan diri dari kesepian, dan mencari pengakuan.
menurut Karl Max keterasingan diri itu adalah sesuatu yang sangat merendahkan manusia, tetapi Bagiku ada yang lebih merendahkan dari keterasingan itu, yaitu kesepian. Bagaimana tidak merendahkan, kesepian itu adalah suatu Sisi di mana manusia tidak lagi berharga karena Ia membutuhkan diluar dirinya dan itu adalah kodrat Tuhan, tidak bisa ditawar lagi. Setelah sufi yang sedang berhijrah di Kebon Kebon dan di hutan hutan belantara sendirian, ia tidak sendirian ia bersama dirinya ia menemukan dirinya yang berhubungan dengan alam yang berhubungan dengan Tuhan bahkan yang berhubungan dengan binatang-binatang.
Tidak pula berada pada Dataran hina jika seseorang berasa sendiri, walau pada kenyataannya disamping itu banyak orang yang tengah menghampirinya, seseorang itu akan musnah eksistensinya itu akan punah, Jika dia berteman dengan makhluk bernama Kesendirian dan keheningan. Seorang ahli tirakat yang menjadi raja para wali yaitu Syekh Abdul Qodir Jaelani beliau adalah sosok makhluk yang pernah menyendiri selama 25 tahun tapi tetapi ia tidak sendiri dan tidak sendirian ia bersama Tuhan di dalam hatinya bersama para malaikat yang mengiringinya dan bersama para nabi yang mendampinginya hingga pada akhirnya ia setia selamanya bersama umat manusia dan selalu dipuja-puja disebut-sebut dalam acara hadhorohan.
pengejawantahan kesendirian adalah sebuah proses latihan untuk membangkitkan rasa humanisme di dalam diri dan menyadarkan diri bahwa ia sebetulnya butuh kepada orang lain butuh kepada Tuhan butuh kepada alam butuh kepada tanah butuh kepada tumbuhan dan butuh kepada semuanya itu adalah bentuk daripada Tazkiyyatunnafsi sebagaimana yang tertera di dalam Al-Quran surat Al-A’la:14; beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). yaitu orang-orang yang menyendiri dan melatih diri untuk memaksimalkan diri sebagai hamba yang peka terhadap perasaan manusia Inilah yang disebut dengan agama kemanusiaan yaitu di mana suatu ajaran mengajarkan seseorang untuk menjadi manusia seutuhnya dengan cara menjadi orang lain dengan merasakan bagaimana berada di posisi orang lain bagaimana sulit di posisi yang sulit dan bagaimana pedihnya Jika Allah mengatur kata lafaz yang sangat pedih pada tahap berikutnya kita akan menginjak tahap yang dinamakan dengan tahap fungsi diri yang kedua iaitu merasakan dan tak mudah menyalahkan Insyaallah akan saya terangkan dan akan saya paparkan dalam pertemuan yang berikutnya tetap ikuti tulisan-tulisan amatir saya setiap harinya di channel ajang Kasep.
https://ajangkasep.wordpress.com/2018/06/10/mengakrabi-kesendirian/
0 komentar:
Posting Komentar