FAMALI DAN DOGMATISME KARUHUN

Foto: Instagram@Indoflashlight


Dulu anak-anak bisa menjauhi segala sesuatu bahkan menjadi pantangan seumur hidupnya meski hanya dengan kata "Famali". Anak-anak bisa melaksanakan bahkan menjadi kebiasaan ketika hanya dikatakan "Omat" atau "kudu".
Tapi anak2 zaman sekarang kok rasanya gak cukup dikatain istilah tersebut (Famali, kudu dan omat) seolah tingkat sakralitasnya memudar bahkan hilang sama sekali. 

Semisal; "Jang anaking kade omat ulah neukteuk kuku di waktu peting, Famali" atau "Neng ulah calik na lawang panto, Famali." Dsb. Seketika mereka menghentikan pemotongan kuku, menyimpan catok (alat pemotong kuku) berpindah dari lawang panto bahkan menjadi pantangan yang senantiasa dipedomani seumur hidup. Kata "famali" cukup menjadi "hantu" yang berhasil menakuti anak-anak dari tindakan yang dilarang oleh orang tua atau bahkan gurunya. 

Tapi di zaman sekarang, ucapan kalimat tersebut malah dipreteli dengan susulan pertanyaan yang cukup membuat diam sipelarang atau bahkan menimbulkan amarah. Dengan otomatis sianak bertanya: "Kunaon kitu bet ulah?." Mendengar pertanyaan tsb Sontak saja orang tua menjawab dengan istilah "famali". Namun anehnya, anak-anak kembali bertanta, "naon ari famali teh?", atau bahkan "naha bet famali?". Dan orang tua menjawab dengan hal-hal yang kurang rasional menurut su anak, semisal "bisi hihileden, bisi babari geuring, bisi dicekek snekala, bisi dipacok oray, bisi nongtot jodo, bisi ditungirken batur,dsb".

Setelah itu si anak memang nurut, untuk menjauhi hal yang berbau famali tsb, meski terkadang menyisakan tanda tanya. Hingga pada akhirnya, si anak membuat kesimpulan sendiri yang menerka bahwa kata famali, meski belum ada terjemah atau definisi yang baku, bahwa di balik kata famali ternyata ada hikmah yang sangat dalam. Semisal nongtot jodo maksudnya, ngahalangan jalan. Sehingga si tamu yang datang, gak jadi masuk karena pintunya terhalang. Pent

Dari fenomena ini menurut saya ini mengandung 2 sisi,  negatif sekaligus positif. Sisi pertama anak-anak mungkin akan membandel dan tidak sepatuh anak zaman dulu, dari sini memang akan terbentuk cikal bakal "bedegong" dan menimbulkan rasa tidak takut terhadap aturan. Sisi positifnya, si anak sudah mulai menggunakan otak, mulai bersikap kritis, bangkitnya rasionalitas-logis serta berhasilnya merevolusi mental anak dari mental budak yang 'fatalistik' ke mental merdeka dan 'realistik'. 

Dan ternyata Syaikh Izzudin Abdussalam jauh3 hari menghimbau utk menciptakan sebuah paradigma yang lebih bijak, menandakan kematangan berfikir, menjalankan agama dengan sanubari, rasional tanpa adanya paksaan bahwa islam adalah agama rasionalitas, realistis serta relevan. Islam bukanlah agama yang dogmatis, rigid pasif serta fatalistik. Ia adalah semacam cahaya yang senantiasa menerangi setiap kegelapan. 

Tunjukkan ajarannya dengan membuktikan bahwa kalam-Nya adalah pelita yang siap menerobos ruang gelap gulita dalam setiap lekuk jiwa, karena kalam-Nya adalah "Nur" yang berarti cahaya. Kecerdasan, difahami, dimengerti, diketahui adalah 'kinayah' dari kata cahaya. 

Menurut teori soteorologi (ilmu tentang keselamatan akhir zaman) bahwa Yahudi identik dengan kata ilmiah/ilmu (katanya), Nashroni identik dengan kata Dogma/iman. Sedangkan islam gabungan dari keduanya, karena islam memang penyempurna dari seluruh agama. Islam adalah agama Iman dan Ilmu. 

Jadi barang siapa yang beriman saja. Maka ia adalah Nashroni, barangsiapa yang berilmu saja maka ia Yahudi dan barang siapa yang beriman dan berilmu, maka ia akan diangkat ke beberapa derajat. Dan mudah-mudahan inilah yang disebut Islam. 'Al Islamu ya'lu wala Yu'la alaih'. 

Semoga kedepannya, saat kita curak carek ka budak, bisi lebih kaharti bahayana Mun tutah titah kaharti manfaatna. Mun dibiasaken ku istilah kaharti ke bisa ngajieun jalma ngarti. Mun jalma ngalarti, bakal loba pengertian.

Cipasung 4 sept 2021
(Menulis sekedar terapi ngahilangken jangar) 
#RefreshingOtak.

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar