YANG AKAN KUWARISKAN NANTI

(Tela'ah terhadap dialog dan Proses Eksperimen Abub)

Tulisan ini lahir dari masalah internal keluarga, anakku Muhammad Mahbub Al-Jiilani yang kini sudah berusia 3 tahun lebih masih juga belum berbicara dan merangkai kata. Untuk seusianya, mungkin menurut sebagian orang, kondisi Abub bisa dibilang Abnormal atau Atau Anomally. Karena anak-anak seusianya minimal sudah pandai Baceo, berbicara meski hanya beberapa patah kata, memanggil "Ibu" atau "Ayah". 

Berbagai cara dilakukan untuk upaya "Menormalisasi Abub", dari mulai mengajak ngobrol dengan gaya  'Monolog, Dialog bahkan sampai Prolog. Beberapa eksperimen dilakukan untuk hanya sekedar Merevisi Takqir Tuhan. Bukan berarti menolak Qadha dan Qadar-Nya, hal ini terus dilakukan untuk sekedar ber-Ikhtiar. Atau dengan kata lain yang lebih menyelamatkan kepercayaan kepada Rukun Iman yang ke-Enam bahasanya adalah Merevisi takdir Tuhan dengan Takdir yang lain. (Jadi gak perlu syahadat lagi kan? Hahaha). 

Buku-buku metode mengajar anak batita sampai balita untuk berbicara mulai saya baca dan saya pelajari selagi sempat. Situs web, postingan media sosial FB dan IG tentang Educational Parenting sudah saya baca, ahkan kitab-kitab yang bertema Tarbiyatul Aulad untuk ukuran 'Abub' (nama panggilan sang anak) mulai saya buka serta kalau perlu, download. Situs-situs jurnal dan karya ilmiah lainnya yang bersifat 'gretongan' sudah saya lahap.

Sedikit demi sedikit apa yang saya fahami dari itu, saya terapkan sedikit demi sedikit. Bagi saya seorang 'awamers' yang katakanlah termasuk spesies 'manusia pemikir yang agak telmi" akan sulit merumuskan dan mewariskannya. 

Pada intinya, anak sedang mengeksplor lingkungan sekitar dengan seluruh Indra dan anggota tubuh. Dari mulai kepala, pundak lutut kaki_lutut kaki, mereka melakukan berbagai cara untuk mencari informasi dan mempelajari sebuah objek hanya dengan dua motivasi, Rasa kepo dan Gabut. Sebutlah masa-masa ini adalah masa kenakalan anak-anak (red: kecerdasan utuh) Sagala dioprek, dibawa, dialungken, dipencet, ditimpakan, ditijek, diasaan dll. 

Saya juga melihat semua itu pada diri Abub. Ia tidak kerasan untuk hanya sekedar diam, duduk manis menunggu dan menerima dengan pasrah segala takdir Tuhan yang diberikan kepadanya. 100% ia menggunakan anggota tubunya, 1001 cara dilakukan, mengandalkan imajinasi. Namun sayangnya, kami tidak melihat ia menggunakan mulut untuk hanya sekedar menunjukkan bahwa ia anak normal, ada rasa rindu untuk hanya sekedar memanggil Mamah dan Bapak.

Sempat terfikir untuk melakukan therapi bicara walaupun dengan biaya yang tidak murah. Kami sudah berkonsultasi ke Rumah Sakit terdekat dibagian Polianak dan THT, karena asumsi kami pada saat ini, bisa saja masalah pendengaran. Namun ternyata kami salah, bukan itu masalahnya. Abub respon saat mendengar bunyi, dan saat dilihat dengan alat khusus untuk mengecek saluran telinga, ternyata memang tidak ada apa-apa. Hingga akhirnya, pengembaraan kami di dunia medis dan kedokteran terpaksa kami hentikan. 

Selanjutnya, kami mengembara ke dunia spiritual. Mendatangi beberapa ahli Hikmah untuk sekedar bertanya. Namun entah kenapa, kami agak segan dan ragu untuk pergi ke tempat hal-hal seperti itu. Kamipun menunda dan pada akhirnya mengurungkan niat membawa Abub untuk membawa kesana. Ditambah lagi kami ketakutan jika suatu saat nanti akan dibongkar oleh Pesulap Merah (Tokoh di media sosial yang terkenal sebagai ahli sulap dan kini banyak membongkar aksi-aksi para pesulap hingga dukun). 

Beruntung ada sebagian sanak saudara kami yang memberitahu kami untuk mendatangi sang Ajengan dari tanah Babakan daerah Sukarame. Beliau adalah guru saya. Namanya KH Asep Muhaimin (tanpa Iskandar) beliau adalah kyayi yang sangat alim. Terkenal sebagai seorang yang dikaruniai Ilmu Ladunni karena kecerdasannya. Sewaktu masih belajar di bangku sekolah dasar, beliau seringkali mengalami sakit-sakitan hingga banyak absen. Namun anehnya, ketika ujian tiba, beliau berhasil mengerjakan soal-soal tanpa ada yang salah sedikitpun. Padahal menurut Ayahnya, ia tidak pernah terlihat belajar saat dirumah.

Beliau saat ini mengampu kegiatan pengajian malam kemisan yang dihadiri oleh bapak-bapak, hingga tak sedikit diantaranya adalah para Kyayi sekitar yang sudah mempunyai santri dan pesantren. Kitab yang diampu adalah kitab Sirajuttalibin karya Syaikh Ihsan Jampes dari Kediri. Dan penulis juga termasuk jama'ah yang rutin mengikuti pengajiannya. (Jika purun. Hehe..)

Disamping terkenal karena kealimannya, beliau juga terkenal karena Akhlaqul Karimah yang tak pandang bulu, Ketawadhuannya yang luar biasa sehingga apabila berdiri sama tinggi dan apabila duduk sama rata. Beliau tidak membedakan mana kaya mana miskin, hitam atau putih, besar atau tinggi, pintar atau bodoh dsb. Semua sama di mata beliau, diperlakukan layaknya sebagai manusia.

Sejauh yang saya temukan, beliau termasuk spesies manusia langka, dari sudut sanad dan keilmuannya, rasa-rasanya beliau adalah satu-satunya Produk Lokal Pesantren yang secara mumpuni secara keseluruhan menguasai 12 Fan ilmu dalam ilmu bahasa. Beliau betul-betul menguasai cabang-cabang ilmu lain secara mendalam dari mulai Fan Fiqih, Tauhid, Tasawuf, Tafsir dan Ilmunya, Hadits dan Ulumul Hadits, menguasai literasi umum seperti Ekonomi bahkan pengetahuan eksakta semisal filsafat, matematika, kimia atau bahkan fisika. 

Saat saya masih berstatus mahasiswa, beliau seringkali terlibat diskusi dengan para aktivis atau bahkan cendekiawan lokal untuk membahas hal-hal yang filosofis, akademis bahkan mistis. Penulis menyaksikan sendiri, ditengah-tengah kepulan asap Dji Sam Soe favoritnya yang ia bakar, seketika itu pula saya menyaksikan betapa enjoy dan mendalamnya wawasan beliau saat mengemukakan pandangan dan menanggapi semua persoalan yang ada di depan mata.

Dari sekilas uraian diatas, tak heran jika beliau mendapatkan "Fitnah Hasanah" sebagai penyandang 'Ilmu Ladunni.' Aku berdo'a, semoga beliau dipanjangkan usianya, sehat lahir dan batinnya agar senantiasa membimbing kami terutama para santri yang masih haus akan ilmunya. Amiin Ya Rabb.

========

Berkah ketawadhuan dan karakternya yang super humble, saya yang mempunyai karakter Introvert akut, yang "moal Ulin lamun teu disamper, moal ngadeketan lamun teu dideketan" berani menghapus jarak sedikit demi sedikit. Kedekatan kami layaknya ayah dan anak. Hingga akhirnya diskusi saya dengan beliau bukan melulu tentang meminta pendapat, meminta fatwa diri untuk sekedar menunaikan kalimat yang di dalam Kifayatul Atqiya dikatakan sebagai Fastafti Linafsika. Bukan melulu meminta nasihat, petuah, sorogan atau bahkan meminta jampi-jampi. Tetapi lebih dari itu, saya memberanikan diri untuk membahas masalah internal yang salah satunya adalah masalah Abub.

Dengan Madu yang entah ada kertas apa di dalamnya, saat ini anak saya sudah bisa menirukan beberapa kata. Bukan hanya kata pelafalan yang diminta oleh Ayah dan Ibunya, tetapi pelafalan yang diminta oleh Kakek, Nenek, Bibi dan Uwa-nyapun berhasil diucapkan. Alhamdulillah Abubku sudah bisa berkata meski masih terbata-bata. Bahkan saat ini, ia mengalami perubahan yang cukup drastis. Ia bisa mengerti kalimat perintah, bisa membuat kesepakatan antara Ibu nya, semisal ketika Abub meminta untuk menonton tayangan di Youtubekids ia diperbolehkan asal ia tertidur setelah Timers-nya habis. Karena sengaja, kami membuat timers tersebut hanya memberikan durasi 15-30 menit saja. 

Disamping itu, anak sulungku juga bisa memberikan argumentasi yang tepat jika meminta kepada ibunya untuk mengambilkan barang yang dirasa berat untuk dijangkau nya. "Mah, uten obot itu Anak, Mamah mah uwat"  (Mamah punten 

Beliau bagiku adalah 'Rahmat' yang diturunkan laksana Oase di tengah padang pasir,  Bulan diantara bintang-bintang, Mentari di siang hari, Khatulistiwa di tengah dunia. Salaman takdziman wa takriman untukmu Akang. Mohon maaf apabila muridmu ini sedikit lancang dan dengan tulisan singkat ini hampir mengagalkan engkau untuk terkenal di langit sana. 🙏

=========

Untuk membahas semua yang telah didiskusikan baik secara pribadi maupun secara umum, mungkin tidak akan muat dalam tulisan sederhana ini. Tetapi saya akan mencoba sedikit meringkas kesimpulan yang telah dibahas dengan beliau dan akan sedikit memperpanjang kalimat-kalimat Ijaz yang mungkin sulit untuk terus diingat jika hanya mengandalkan hafalan kepala. 

Mungkin sebagian teks dan pembahasan ada yang terlupa atau bahkan hilang dalam peredaran memory. Tetapi setidaknya selagi tangan ini masih bisa menulis, saya akan mencoba menuangkannya. 

Dialog Tertutup namun Terbuka

(Untuk basa-basi dan bumbu-bumbu obrolan yang akan menimbulkan kehangatan, bahkan metode Baro'atul Istihlal dalam wacana ini, sengaja tidak saya tulis meski masih jelas membekas di dalam memory. Katambah ieu mah panjang teuing bro. Cape ngetik Hahaha . . . )

Manusia adalah makhluq yang senang untuk berbicara, mengekspresikan apa yang ada di dalam fikiran, mengungkapkan rasa yang terdapat di dalam hati. Senantiasa memamerkan sebuah perhatian yang dibalut rangkaian kata. 

Perkembangan selanjutnya, manusia menyampaikan informasi. Awalnya manusia dirancang sebagai makhluk yang telah didesain untuk mempertanyakan segala hal yang patut ditanyakan. Empirisitas atau segala sesuatu yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga.

Latar belakang itu membuat manusia saling bertukar informasi, mengeja alam dengan kata lalu menyusun sebuah kalimat. Tema wacana obrolan manusia pada saat adalah tentang pengamatan mata dan telinga. 

Semenjak bayi, mata dan telinga sudah berhasil membentuk kepribadian seseorang. Pada fase ini sangat kental dengan aroma "kuriositas" yang mumpuni. Pembelajaran secara otodidak untuk menemukan kata. Kalimat bahkan kepingan dari sebuah paragraf. 

Wacana yang diambil adalah tentang "apa". Kita masih berhasil mendapat jawaban dari sekedar melihat, mendengar serta bertanya untuk sekedar mencari tahu. Disinilah manusia akan membentuk sebuah "pengalaman" atau kecerdasan personal. 

Manusia mulai mengabadikan fenomena dalam sebuah kata. Semisal; sesuatu yang berwarna biru diatas adalah "Langit", sesuatu yang berwarna hijau, menempel di pohon adalah "daun", yang melahirkan adalah "ibu", yang menafkahi ibu adalah "bapak". Dan seterusnya, kita mulai mengenal sebuah benda lalu diabadikan dalam "kata".

Artinya, manusia akan mengabadikan hasil penemuan indranya dengan bentuk kata. Atau dalam bahasa Gramatika Arab disebut dengan kalimat. (Wahiduhu Kalimatun wal Qaulu amm). 

Jika itu adalah benda, maka ia akan menamakan sebagai benda. Secara otomatis kata itu adalah 'Kata Benda' atau Isim, jika itu adalah kerja, maka itu kategori 'Kata Kerja' atau Fi'il, jika itu adalah kata sambung atau kata awalan, bisa juga dikategorikan sebagai preposition. Dan ada tambahannya, jika dia adalah seorang bayi, maka kategori selanjutnya adalah Isim Shaut. Mengingat ia hanya bersuara bukan berkata. 😂😂😂

Tiba-tiba saya buka dan ingin sedikit merenungi Surat Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi : 
 
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya, “Dia mengajarkan Adam semua nama-nama (benda), kemudian menampilkan semuanya di hadapan malaikat, lalu mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama semua benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar,’” (Surat Al-Baqarah ayat 31).

Terlepas daripada apa saja kata benda yang diajarkan Allah kepada Adam, saya sama sekali tidak tahu, yang jelas semuanya kata Allah. Namun perhatian saya lebih menitik beratkan kepada perenungan tentang 'Asal Usul Pendidikan Adam' yang setidaknya berhasil membawa adam kepada 5 kategori keistimewaan: 

Pertama, mampu menyebut 'Kata benda';
Kedua, mengalahkan malaikat (dalam hal ini ilmu);
Ketiga, menunjukkan kehebatan makhluq Allah bernama 'Aqal';
Keempat, terjawabnya pertanyaan Malaikat;
Kelima, membuktikan bahwa Malaikat adalah makhluq yang ta'at karena diperintahkan bersujud, mereka lalu ta'at.

Sekiranya Jika kita setuju kepada pendapat mufasir yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia yang pernah mengalami fase bayi, maka besar kemungkinan ketika Adam masih dalam keadaan junior (baca: ketika bayi) sama seperti Abub. Ia mengatakan beberapa patah suara yang disebut Isim Shaut. kemudian tahap Baceo (berkata serta berucap hanya Allah dan bayi yang tahu artnya) kemudian mengucap beberapa patah kata yang semakin hari semakin sempurna. Lalu merangkai kalimat, beberapa kalimat, paragraf, artikel dan seterusnya. 

Proses ini mengajarkanku untuk menyaksikan fotosintesis Manusia utuh, sebuah fenomena tahapan pendidikan menuju Nathiq. Pengembangan dari fitrah bawaan manusia. Seperti pembelajaran Abub dan bayi-bayi normal lainnya.  

Aku Tersadar, bahwa ketika dalam penjelasan ayat Al-quran banyak dikatakan perbedaan antara penciptaan Adam dan manusia lainnya sangatlah berbeda. Adam diciptakan dari tanah, sementara Anak-anaknya tercipta dari Nutfah. Namun sejauh ini ternyata ada persamaan lainnya yaitu salah satunya adalah proses penciptaan karakter sebagai Hayawan An-nathiq.

Adam diberi pengajaran berupa penyebutan dengan bahasa Surga, mengingat lembur Adam adalah surga. Atau dengan kata lain bisa juga dikatakan, yang pertama kali menggunakan bahasa di Surga adalah Adam itu sendiri. Mengingat ia adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki disana.

====

Metode yang saya temukan dari hasil perenungan ini untuk mendidik Abub untuk ngobrol adalah bahwa yang pertama kali harus diajarkan kepada Anak adalah "Menunjukkan kata benda" karena benda adalah kategori yang mudah dicerna, berhubung benda adalah bentuk materialis yang bisa dijangkau oleh Indra, dilihat dengan mata, didengar oleh telinga bahkan dipegang oleh tangan. 

Atas itulah kenapa bayi suka bergerak aktif kesana kemari, semata-mata bukan karena ia nakal, tetapi justru ia sedang membentuk secara Alamiah untuk mempelajari "Kata benda". 

Abubku, mungkin saat ini kamu belum mengerti tentang apa yang bapak tulis hari ini tentang kamu. Karena saat ini jangankan untuk mengenal aksara, untuk berkatapun kamu masih terbata-bata. Namun jangan pernah berkecil hati wahai anakku, karena dunia ini adalah BULAT dan BERPUTAR pada porosnya. Engkau saat ini adalah anak dan aku adalah dewasa. 

Begitupun kita, hanya menunggu takdir dan sama-sama menghadapi dunia. Sebagai manusia dengan kodrat-Nya, kita akan gantian. 

Seiring berjalannya jika kita diberi umur yang panjang, saat engkau bertumbuh dan aku telah renta. Ketahuilah bahwa saat itu engkau adalah Dewasa dan aku kembali menjadi kanak-kanak seperti saat ini yang kau alami.

Ingatlah firman Allah dalam surat Yasin ayat 68

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, Kami mengembalikannya dalam penciptaan. Maka tidakkah mereka berpikir?” (QS: Yasin Ayat 68)

Kita akan bergantian peran anakku, jika bersedia, engkau akan mengurusku sebagaimana aku dan ibu mengurusmu saat ini. Jika tidakpun tak apa, aku tak pernah menuntut balas jasa terhadap apa yang telah kuberikan kepadamu. Karena maupun tak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi Kamilah yang meminta kamu lahir kedunia. 

Aku tak akan menjadi orang tua penuntut baktimu. Tetapi aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai orang tuamu, menafkahi, mendidik, menyayangi dan membesarkan mu sampai Aqil baligh. Namun jika kau perempuan, aku akan bertambah satu point kewajiban lagi, yaitu menikahkanmu. Namun untunglah kau laku-laki. Dan aku hanya berkewajiban sampai engkau Aqil baligh. 

Jika aku masih membersamai langkahmu meski kau sudah baligh, itu artinya kasih sayang orang tua tidak terhingga sepanjang masa. Sepintar dan setinggi apapun jabatan kamu, dihadapan ku kau adalah seorang anak. 

Oh iya satu hal lagi, meski aku mencintai dan menyayangi dengan penuh keikhlasan, mungkin saat ini aku masih bermental baja, jangankan hanya hinaan, cercaan dan sentakan. Pukulan dan tekanan mental pun bapak masih kuat berdiri. 

Namun seiring berjalannya waktu, ketika ayah tua renta, ayah tak sekuat Otobot X Yang kamu fikir saat ini. Kekuatanku akan melemah, dan kejayaanku itu akan memudar. Tolong tunjukkan kata-kata yang telah ayah dan ibu ajarkan dengan susah payah kepadamu dengan baik dan benar, karena saat itu tiba, jangankan sentakan dan argumentasi kuatmu itu engkau nyebut 'Ah' pun sudah menyakiti hati bagi kami yang sudah bau tanah ini. 

Abubku, ini adalah salah satu yang akan kuwariskan kepadamu, sebuah ide, gagasan atau bahkan sekedar wawasan yang diabadikan dengan aksara. 

Akhir kata, kututup dengan sebuah doa. Semoga do'amu bukanlah senjata Utama untuk membuat sebuah perubahan. Do'a memang senjata bagi orang mukmin, tapi bukan satu-satunya. Gunakan masa Muda mu untuk mencari itu. Namun, saat ku telah tiada tolong kirimkan Fatihah untukku setiap hari. Wariskanlah tulisan sederhana ini untuk anak atau cucumu. 

I Love You Sulungku. 
SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar