Halaman 3 Terjemah Sirajutthalibin, Makna Bismillah dan definifisi Syaikh

Hadirin member Majelis Ilegaliyah Rahimakumullah..

وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِٱلْبَسْمَلَةِ مِنَ ٱلْمَعَانِي ٱلدَّقِيقَةِ مَا قِيلَ: إِنَّ ٱلْبَاءَ بِهَاءُ ٱللّٰهِ، وَٱلسِّينَ سَنَاءُ ٱللّٰهِ، وَٱلْمِيمَ مَجْدُ ٱللّٰهِ.
Termasuk makna halus dari basmalah adalah apa yang dikatakan: bahwa huruf bā’ adalah keindahan Allah, sīn adalah cahaya-Nya, dan mīm adalah kemuliaan-Nya.

وَقِيلَ: ٱلْبَاءُ بُكَاءُ ٱلتَّائِبِينَ، وَٱلسِّينُ سَهْوُ ٱلْغَافِلِينَ، وَٱلْمِيمُ مَغْفِرَتُهُ لِلْمُذْنِبِينَ.
Ada pula yang mengatakan: bā’ adalah tangis orang-orang yang bertaubat, sīn adalah kelalaian orang-orang yang lalai, dan mīm adalah ampunan bagi para pendosa.

وَقَالَ بَعْضُ ٱلصُّوفِيَّةِ: ٱللّٰهُ لِأَهْلِ ٱلصَّفَا، ٱلرَّحْمٰنُ لِأَهْلِ ٱلْوَفَا، ٱلرَّحِيمُ لِأَهْلِ ٱلْجَفَا.
Sebagian sufi berkata: “Allah” bagi orang-orang yang jernih hatinya; “ar-Rahmān” bagi yang setia; dan “ar-Rahīm” bagi yang kasar.

وَقَالُوا: أَوْدَعَ ٱللّٰهُ جَمِيعَ ٱلْعُلُومِ فِي ٱلْبَاءِ، أَيْ: بِـي كَانَ مَا كَانَ وَبِـي يَكُونُ مَا يَكُونُ، فَوُجُودُ ٱلْعَوَالِمِ بِـي، وَلَيْسَ لِغَيْرِي وُجُودٌ حَقِيقِيٌّ إِلَّا بِٱلِٱسْمِ.
Mereka juga berkata: Allah meletakkan seluruh ilmu dalam huruf bā’; yakni: “Dengan-Ku terjadi apa yang telah terjadi, dan dengan-Ku terjadi apa yang akan terjadi.” Maka wujud segala alam karena-Ku. Tidak ada wujud sejati bagi selain-Ku kecuali dengan nama-Ku.

وَهُوَ مَعْنَىٰ قَوْلِهِمْ: مَا نَظَرْتُ فِي شَيْءٍ إِلَّا وَرَأَيْتُ ٱللّٰهَ فِيهِ أَوْ قَبْلَهُ.
Itulah makna dari ucapan mereka: “Aku tidak memandang sesuatu pun, melainkan aku melihat Allah di dalamnya atau sebelumnya.”

وَٱلرَّحْمٰنُ أَيْضًا: كَثِيرُ ٱلرَّحْمَةِ، وَرَحْمَتُهُ عَامَّةٌ عَلَىٰ جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ، فَيَنْبَغِي لِكُلِّ شَخْصٍ أَنْ يَرْحَمَ أَخَاهُ لِلْمُوَافَقَةِ لَهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Ar-Rahmān juga bermakna Maha Pemurah, dan rahmat-Nya mencakup seluruh makhluk. Maka setiap orang seharusnya menyayangi saudaranya sebagai bentuk meneladani-Nya.

قَالَ كَعْبُ ٱلْأَحْبَارِ: مَكْتُوبٌ فِي ٱلْإِنْجِيلِ: يَا ٱبْنَ آدَمَ، كَمَا تَرْحَمْ كَذٰلِكَ تُرْحَمُ.
Ka‘b al-Ahbār berkata: “Tertulis dalam Injil: Wahai anak Adam, sebagaimana engkau menyayangi, demikian pula engkau akan disayangi.”

فَكَيْفَ تَرْجُو أَنْ يَرْحَمَكَ ٱللّٰهُ وَأَنْتَ لَا تَرْحَمُ عِبَادَ ٱللّٰهِ؟
Maka bagaimana engkau mengharapkan rahmat Allah, padahal engkau tidak menyayangi hamba-hamba-Nya?

وَٱلرَّحِيمُ كَمَا تَقَدَّمَ: مَنْ إِذَا سُئِلَ أَعْطَىٰ، وَإِذَا لَمْ يُسْأَلْ يَغْضَبْ.
Dan ar-Rahīm sebagaimana telah disebut: adalah yang apabila diminta, Dia memberi; dan jika tidak diminta, Dia murka.

وَأُتِيَ بِهٰذَيْنِ ٱلِٱسْمَيْنِ دُونَ غَيْرِهِمَا مِنْ بَقِيَّةِ أَسْمَاءِ ٱللّٰهِ تَعَالَىٰ إِشَارَةً إِلَىٰ أَنَّ رَحْمَةَ ٱللّٰهِ سَبَقَتْ غَضَبَهُ، كَمَا فِي ٱلْحَدِيثِ.
Dua nama ini disebutkan secara khusus, tidak yang lain, sebagai isyarat bahwa rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya, sebagaimana dalam hadits.

قَالَ ٱلشَّيْخُ
Yakni “as-syākh” yang bermakna orang tua. Ia adalah mashdar yang dimaksudkan sebagai ism fā‘il.

وَهُوَ فِي ٱللُّغَةِ: مَنْ جَاوَزَ ٱلْأَرْبَعِينَ، وَلَوْ كَانَ كَافِرًا.
Dalam bahasa Arab, “syaikh” adalah orang yang telah melewati usia empat puluh, meskipun ia kafir.

وَقِيلَ: ٱلْمُنْتَهَىٰ فِي ٱلسِّنِّ.
Ada juga yang mengatakan: orang yang mencapai usia lanjut.

وَفِي ٱلْعُرْفِ: مَنْ بَلَغَ رُتْبَةَ أَهْلِ ٱلْفَضْلِ، وَلَوْ صَبِيًّا.
Adapun dalam pengertian kebiasaan (istilah), ia adalah orang yang telah sampai pada derajat keutamaan, meskipun masih anak-anak.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ صَاحِبُ ٱلْفَائِدَةِ وَٱلْمَائِدَةِ وَٱلْحِكْمَةِ ٱلزَّائِدَةِ.
Sebagian menyatakan: syaikh adalah orang yang memberi manfaat, mendidik ruhani, dan memiliki hikmah yang mendalam.

ٱلْفَقِيهُ
Yakni orang yang menguasai ilmu syariah.

مِنَ ٱلْفِقْهِ، وَهُوَ ٱلْفَهْمُ مُطْلَقًا، أَوْ لِمَا دَقَّ.
Dari kata “fiqh” yang berarti pemahaman secara umum, atau terhadap sesuatu yang halus.

يُقَالُ: فَقِهَ يَفْقَهُ بِكَسْرِ ٱلْقَافِ فِي ٱلْمَاضِي، وَفَتْحِهَا فِي ٱلْمُضَارِعِ، إِذَا فَهِمَ.
Dikatakan: faqih yafqahu dengan kasrah pada fi‘il māḍī dan fatḥah pada muḍāri‘, artinya memahami.

وَفَقُهَ يَفْقُهُ بِٱلضَّمِّ فِيهِمَا: إِذَا صَارَ ٱلْفِقْهُ سَجِيَّةً لَهُ.
Dan faqhu yafquhu dengan ḍammah, berarti fiqih telah menjadi tabiatnya.

وَفِي ٱصْطِلَاحِ ٱلْفُقَهَاءِ: هُوَ ٱلْعِلْمُ بِٱلْأَحْكَامِ ٱلشَّرْعِيَّةِ ٱلْعَمَلِيَّةِ، ٱلْمُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا ٱلتَّفْصِيلِيَّةِ.
Secara istilah, fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syar‘i yang bersifat praktis, yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terperinci.

وَذَكَرَ ٱلْعُلَمَاءُ فِي بَابِ ٱلْوَصِيَّةِ: أَنَّ ٱلْفَقِيهَ مَنْ يَعْرِفُ مِنْ كُلِّ بَابٍ طَرَفًا صَالِحًا، يُهْتَدَىٰ بِهِ إِلَىٰ بَاقِيهِ، مُدْرِكًا وَٱسْتِنْبَاطًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُجْتَهِدًا.
Para ulama menyebutkan dalam bab wasiat: bahwa seorang faqih ialah orang yang memahami setiap bab fiqih secara memadai sehingga bisa menunjuki sisanya, meski ia bukan mujtahid.

وَقَالَ شَارِحُ ٱلتَّعْجِيزِ: أَوْلَى ٱلنَّاسِ بِٱلْفِقْهِ فِي ٱلدِّينِ نُورٌ يُقْذَفُ هَيْبَةً فِي ٱلْقَلْبِ.
Penjelas kitab al-Ta‘jīz mengatakan: Orang yang paling layak mendapat fiqih agama adalah yang hatinya dipenuhi cahaya dan wibawa dari Allah.

وَهٰذَا ٱلْقَدْرُ قَدْ يَحْصُلُ لِبَعْضِ أَهْلِ ٱلْعِنَايَاتِ مَوْهِبَةً مِنَ ٱللّٰهِ، وَهُوَ ٱلْمَقْصُودُ ٱلْأَعْظَمُ.
Derajat ini bisa diperoleh oleh sebagian orang yang diberi perhatian ilahiah sebagai karunia dari Allah, dan itu adalah tujuan terbesar.

وَسُئِلَ ٱلْحَسَنُ ٱلْبَصْرِيُّ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَأَجَابَ، فَقِيلَ: إِنَّ فُقَهَاءَنَا لَا يَقُولُونَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَهَلْ رَأَيْتُمْ فَقِيهاً قَطُّ؟
Hassan al-Bashri ditanya tentang suatu masalah lalu ia menjawab. Orang berkata, “Faqih kita tidak mengatakan itu.” Ia pun berkata, “Apakah kalian pernah melihat seorang faqih sejati?”

ٱلْفَقِيهُ هُوَ ٱلْقَائِمُ لَيْلَهُ ٱلصَّائِمُ نَهَارَهُ، ٱلزَّاهِدُ فِي ٱلدُّنْيَا، ٱلَّذِي لَا يُدَارَىٰ وَلَا يُمَارَىٰ، يُنْشِرُ حِكْمَةَ ٱللّٰهِ، فَإِنْ قَبِلَتْ مِنْهُ حَمِدَ ٱللّٰهَ تَعَالَىٰ، وَفَقَّهَ عَنْ ٱللّٰهِ أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ، وَعَلِمَ مَا يُحِبُّ وَمَا يُكْرَهُ، فَذَلِكَ هُوَ ٱلْعَالِمُ ٱلَّذِي قِيلَ فِيهِ «مَنْ يُرِدِ ٱللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي ٱلدِّينِ».
Faqih sejati adalah orang yang berdiri malam hari dan berpuasa di siang hari, yang zuhud terhadap dunia, yang tidak berbohong dan tidak bermunafik, menyebarkan hikmah Allah. Jika diterima amalnya, ia memuji Allah, memahami perintah dan larangan-Nya, serta mengetahui apa yang disukai dan dibenci-Nya. Dialah orang yang disebutkan, "Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, Dia memberinya pemahaman agama."

فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بِهٰذِهِ ٱلصِّفَةِ فَهُوَ مِنَ ٱلْمَغْرُورِينَ.
Jika tidak memiliki sifat tersebut, maka ia termasuk orang yang tertipu.

ذَكَرَهُ ٱلْخَطِيبُ فِي شَرْحِ ٱلْمِنْهَاجِ (ٱلصَّالِحِ).
Hal ini disebutkan oleh al-Khatib dalam syarah Minhaj as-Salihin.

ٱسْمُ فَاعِلٍ مِنْ صَلُحَ:
Ini adalah ism fa‘il dari kata “ṣalūḥa” (menjadi baik).

إِذَا ٱسْتَقَامَتْ أَفْعَالُهُ وَأَحْوَالُهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ ٱللّٰهِ تَعَالَىٰ، أَوِ ٱلْقَائِمِ بِحُقُوقِ ٱللّٰهِ وَحُقُوقِ عِبَادِهِ.
Yaitu jika perbuatan dan keadaan seseorang lurus antara dirinya dengan Allah, atau ia menunaikan hak Allah dan hak hamba-Nya.

وَقَالَ ٱلْبَيْضَاوِيُّ:
Al-Baidhawi berkata:

هُوَ ٱلَّذِي صَرَفَ عُمُرَهُ فِي طَاعَةِ ٱللّٰهِ، وَمَالَهُ فِي مَرْضَاتِهِ، وَهُوَ نَاظِرٌ لِلصَّالِحِ ٱلْكَامِلِ.
Dialah yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepada Allah, dan hartanya untuk keridhaan-Nya, dan ia memperhatikan orang saleh yang sempurna.

فَلَا يُنَازِيهِ أَنَّ مَنْ صَرَفَ مُدَّةَ عُمُرِهِ عَمِلَ ٱلْمَعَاصِيَ ثُمَّ تَابَ تَوْبَةً صَحِيحَةً، وَسَلَكَ طَرِيقَ ٱلسُّلُوكِ وَقَامَ بِخِدْمَةِ مَلِكِ ٱلْمُلُوكِ يُسَمَّىٰ صَالِحًا.
Maka tidak layak diperdebatkan bahwa siapa yang menghabiskan umurnya dengan berbuat maksiat kemudian bertaubat dengan taubat yang benar, dan menempuh jalan suluk serta melayani Raja para raja disebut orang saleh.

ٱلزَّاهِدُ (أي عن الدنيا الفانية):
Zahid berarti menjauhi dunia yang fana.

ٱلزَّهْدُ لُغَةً:
Secara bahasa, zuhud adalah menghindari sesuatu karena meremehkannya.

وَشَرْعًا:
Secara syariat, mengambil sebanyak yang diperlukan dari yang halal dan pasti halal. Ini lebih khusus dari wara’ karena zuhud meninggalkan yang syubhat. Ini adalah zuhud para arif, dan itulah yang dimaksud di sini.

وَأَعْلَىٰ مِنْهُ زُهْدُ ٱلْمُقَرَّبِينَ، وَهُوَ ٱلزَّهْدُ فِيهَا سِوَى ٱللّٰهِ مِنْ دُنْيَا وَجَنَّةٍ وَغَيْرِهَا،
Dan lebih tinggi dari itu adalah zuhud para mukarrabin, yaitu zuhud terhadap segala sesuatu selain Allah, baik dunia, surga, maupun lainnya.

إِذْ لَيْسَ لِصَاحِبِ هَٰذَا ٱلزَّهْدِ مَقْصِدٌ إِلَّا ٱلْوُصُولُ إِلَى ٱللّٰهِ تَعَالَىٰ وَٱلْقُرْبُ مِنْهُ.
Karena tujuan utama orang yang memiliki zuhud ini hanyalah mencapai Allah Ta’ala dan mendekat kepada-Nya.

(عَبْدُ ٱلْمَلِكِ بْنِ عَبْدِ ٱللّٰهِ)
(Abdul Malik bin Abdullah)

وَهُمْزَةُ ٱبْنِ تُحْذَفُ إِنْ لَمْ تَقَعْ أَوَّلَ سَطْرٍ،
Hamzah Ibn (sebagian huruf arab) dihilangkan jika tidak berada di awal baris,

لِأَنَّهَا وَقَعَتْ بَيْنَ عِلْمَيْنِ كَمَا يَأْتِي.
karena berada di antara dua ‘ilm’ seperti akan dijelaskan.

(غَفَرَ ٱللّٰهُ لَهُ) أَي وَلِلْمُسْلِمِينَ آمِينَ،
“Semoga Allah mengampuninya” dan juga untuk kaum Muslimin, Amin.

هَٰذِهِ جُمْلَةٌ دُعَائِيَّةٌ خَبَرِيَّةٌ لَفْظًا، إِنْشَائِيَّةٌ مَعْنًى:
Ini adalah kalimat doa yang berupa berita secara lafaz, dan maknanya bersifat seruan (inqilabi).

أَي لَوْ سَمَحْتَ يَا رَبِّ ٱلّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لَهُ ذُنُوبَهُ،
Artinya: “Ya Rabb, jika Engkau berkenan, ampunilah dosa-dosanya.”

أَي ٱمْحِنْهَا عَنْهُ مِنْ صُحُفِ ٱلْمَلَٰئِكَةِ، وَيَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُهُ بِهَا،
Artinya: “Hilangkanlah dosa-dosa itu darinya dari lembaran para malaikat, sehingga ia tidak akan dihukum atasnya,”

أَوْ مَعْنَاهُ: لَا تُؤَاخِذْهُ بِهَا وَإِنْ كَانَتْ مَوْجُودَةً فِي كُتُبِ ٱلْمَلَٰئِكَةِ، وَٱلْأَوَّلُ أَصَحُّ، وَيَشْهَدُ لَهُ (إِنَّ ٱلْحَسَنَاتِ يَذْهَبْنَ ٱلسَّيِّئَاتِ).
atau artinya: “Janganlah Engkau hukum dia walaupun dosa itu tercatat dalam kitab para malaikat.” Pendapat pertama lebih shahih, dan hal itu didukung oleh ayat “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapus keburukan.”

وَمَآ آثَرَ ٱلْفِعْلِيَّةَ لِمَا يَأْتِي فِي شَرْحِ قَوْلِهِ: قَدَّسَ ٱللّٰهُ، وَمِنْ هَٰذَا يُؤْخَذُ أَنَّ ٱلدُّعَاءَ جَائِزٌ وَأَنَّهُ يَنْفَعُ،
Dan perbuatan (doa) dipilih karena akan dibahas pada penjelasan kata “Qaddasa Allah,” dari sini bisa dipahami bahwa doa itu diperbolehkan dan bermanfaat.

وَهُوَ مَا عَلَيْهِ أَهْلُ ٱلسُّنَّةِ خِلَافًا لِبَعْضِ ٱلصُّوفِيَّةِ فِي قَوْلِهِ: إِنَّ ٱلدُّعَاءَ قَدْحٌ فِي ٱلتَّوَكُّلِ، وَلِقَوْلِ بَعْضِهِمْ: إِنَّ ٱلْمَدْعُوَّ بِهِ إِنْ كَانَ قَدَرًا فَهُوَ وَاقِعٌ لَا مَحَالَةَ دَعَآ أَوَّلًا، وَإِنْ لَمْ يُقَدَّرْ لَمْ يَقَعْ وَإِنْ دَعَآ، فَهُوَ مَدْفُوعٌ،
Hal ini bertentangan dengan sebagian sufi yang mengatakan doa adalah celaan terhadap tawakal, dan juga dengan sebagian yang berkata jika yang diminta adalah takdir, maka takdir itu pasti terjadi walau tanpa doa, dan jika tidak ditakdirkan maka doa pun tidak berguna, karena takdir terjadi melalui sebab termasuk doa.

بِأَنَّ ٱلْمَقْدُورَ قَدَرٌ بِأَسْبَابٍ مِنْهَا ٱلدُّعَاءُ، فَلَمْ يُقَدَّرْ مِنْهَا مُجَرَّدًا عَنْ سَبَبِهِ بَلْ بِسَبَبِهِ، فَإِذَا وُجِدَ ٱلْسَّبَبُ وُقِعَ وَإِلَّا فَلَا.
Karena takdir itu adalah takdir yang disertai sebab, termasuk doa, maka jika sebab ada maka terjadi, kalau tidak maka tidak terjadi.

وَمَا دَرَىٰ هَٰذَا ٱلْأَحْمَقُ أَنَّ ٱللّٰهَ قَدْ رَتَّبَ مَصَالِحَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ عَلَى ٱلْأَسْبَابِ، وَمَن تَرَكَ ٱلْأَسْبَابَ ٱتْنِكَالًا عَلَى ٱلْقَضَآءِ لَزِمَهُ أَلَّا يَأْكُلَ إِذَا جَاعَ وَلَا يَشْرَبَ إِذَا عَطِشَ، وَلَا يَتَدَاوَىٰ إِذَا مَرِضَ، وَأَنْ يُلْقَى ٱلْكَفَرَةَ بِلَا سِلَاحٍ، وَيَقُولَ: مَا قَضَىٰهُ ٱللّٰهُ لَا يُرَدُّ، وَهَٰذَا لَا يَقُولُهُ مُسْلِمٌ بَلْ وَلَا عَاقِلٌ،
Dan betapa bodohnya orang itu yang tidak tahu bahwa Allah telah mengatur maslahat dunia dan akhirat melalui sebab-sebab, dan barang siapa meninggalkan sebab-sebab dengan alasan menyerah pada takdir, maka dia harus rela tidak makan ketika lapar, tidak minum ketika haus, tidak berobat ketika sakit, serta menghadapi musuh tanpa senjata dan berkata: “Apa yang telah ditetapkan Allah tidak bisa diubah.” Perkataan ini bukanlah ucapan seorang Muslim maupun orang waras.

كَذَا قَالَهُ عَبْدُ ٱلْكَرِيمِ بِٱلْدَّمِيَاطِي (أَمْلَىٰ عَلَىٰ شَيْخِي)،
Demikianlah kata Abdul Karim al-Dimyathi (yang menulis kepada gurunya),

أَي أَلْقَىٰ عَلَىٰ وَقْزَعَ ٱلْكِتَابِ ٱلْآتِي، مِنَ ٱلْإِمْلَاءِ بِمَعْنَىٰ إِلْقَاءِ ٱلْكَلَامِ عَلَىٰ مَنْ يَكْتُبُهُ،
artinya: “Menyampaikan kitab yang akan datang dengan cara imla’ (menyampaikan ucapan secara lisan kepada yang menulis),”

هَٰذِهِ لُغَةُ بَنِي تَمِيمَ وَقَيْسٍ، وَلُغَةُ ٱلْحِجَازِ وَبَنِي أَسَدٍ أَمَلَّ إِمْلَآءًَ، وَجَاءَ ٱلْكِتَابُ ٱلْعَزِيزُ بِهُمَا قَالَ تَعَالَىٰ: (فَهِيَ تُمَلَّىٰ عَلَيْهِ بِكُرَّةٍ وَأَصِيلٍ)، وَقَالَ تَعَالَىٰ: (وَلْيُمِلِ ٱلَّذِي عَلَيْهِ ٱلْحَقُّ).
Ini adalah bahasa suku Bani Tamim dan Qais, serta bahasa Hijaz dan Bani Asad; “amala imla’an” berarti memberikan ucapan untuk ditulis. Al-Qur’an yang mulia juga turun dengan cara ini, Allah berfirman: "Dia (Jibril) menurunkan Al-Qur'an kepadanya secara berangsur-angsur pada waktu pagi dan sore." (QS. Al-Qadr: 3-4) dan “Biarlah yang mempunyai hak menulis” (QS. Al-Baqarah: 282).

وَقَالَ تَعَالَىٰ: (وَلْيُمِلِ ٱلَّذِي عَلَيْهِ ٱلْحَقُّ).
Dan Allah berfirman: “Dan biarlah orang yang memiliki hak itu menulis.”

وَأَصْلُ ٱلشَّيْخِ مِنْ شَاخَ فِي ٱلسِّنِّ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِلَى ثَمَانِينَ سَنَةً، لَكِنَّ ٱلْمَرَادَ هُنَا ٱلْأُسْتَاذُ ٱلْمُرَبَّىٰ وَلَوْ صَغِيرًا كَمَا قَالَهُ ٱلْجَرَّهْزِيُّ (ٱلْأَجَلُّ)، أَيْ ٱلْأَعْظَمُ مِنْ غَيْرِهِ مِمَّنْ عَاصَرَهُ فِي ٱلْجُمْلَةِ. وَقِيلَ: إِنَّهُ مُجَدِّدُ ٱلْقَرْنِ ٱلْخَامِسِ.
Asal kata "asy-syaikh" adalah dari orang yang telah menua dan berumur antara empat puluh sampai delapan puluh tahun, namun yang dimaksud di sini adalah guru yang mendidik walaupun masih muda, seperti yang dikatakan al-Jarhazi “al-ajalu” yaitu yang paling mulia di antara yang sezaman dengannya. Dan ada yang mengatakan bahwa beliau adalah pembaharu abad kelima hijriyah.

قَالَ ٱلْعَلَامَةُ ٱلزُّبَيْدِيُّ: رَوَىٰ أَبُو دَاوُدَ فِي ٱلْمَلَاحِمِ وَٱلْحَاكِمُ فِي ٱلْفِتَنِ وَصَحَّحَهُ وَٱلْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِ ٱلْمَعْرِفَةِ لَهُ كُلُّهُمْ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ رَفَعَهُ: (إِنَّ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ يَبْعَثُ لِهَٰذِهِ ٱلْأُمَّةِ عَلَىٰ رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مِمَّنْ يُجَدِّدُ لَهَا أَمْرَ دِينِهَا).
Al-Allamah az-Zubaidi berkata: Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab al-Malahim, Al-Hakim dalam kitab al-Fitan dan menghasankan hadits tersebut, serta Al-Baihaqi dalam kitab al-Ma’rifah semuanya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini setiap seratus tahun seorang yang memperbarui urusan agamanya.”

قَالَ ٱلْعِرَاقِيُّ وَغَيْرُهُ سَنَدُهُ صَحِيحٌ: أَيْ يَقِيضُ لَهَا عَلَىٰ رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مِنَ ٱلْهِجْرَةِ أَوْ غَيْرِهَا رَجُلًا كَانَ أَوْ أَكْثَرَ يُبَيِّنُ ٱلسُّنَّةَ مِنَ ٱلْبِدْعَةِ، وَيُكَثِّرُ ٱلْعِلْمَ وَيُنصُرُ أَهْلَهُ، وَيُذِلُّ أَهْلَ ٱلْبِدْعَةِ.
Al-Iraqi dan yang lainnya mengatakan sanadnya sahih, artinya Allah akan mengangkat untuk umat ini setiap seratus tahun, dari hijrah atau selainnya, seorang atau lebih yang memperjelas sunnah dari bid’ah, memperbanyak ilmu dan menolong ahlinya serta merendahkan para pengikut bid’ah.

وَقَالُوا: وَلَا يَكُونُ إِلَّا عَالِمًا بِٱلْعُلُومِ ٱلدِّينِيَّةِ ٱلظَّاهِرَةِ وَٱلْبَاطِنَةِ، فَكَانَ فِي ٱلْمِائَةِ ٱلْأُولَىٰ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ ٱلْعَزِيزِ، وَٱلثَّانِيَةُ ٱلشَّافِعِيُّ، وَٱلثَّالِثَةُ ٱلْأَشْعَرِيُّ أَوِ ٱبْنُ سَرِيجٍ، وَٱلرَّابِعَةُ ٱلْأَسْفَرَائِينِيُّ أَوِ ٱلصَّلْعُوقِيُّ أَوِ ٱلْبَقَلَانِيُّ.

Dan mereka berkata: “Tidak akan ada kecuali seorang yang berilmu dalam ilmu-ilmu agama yang zahir maupun batin.” Maka pada abad pertama adalah Umar bin Abdul  
Aziz, yang kedua Asy-Syafi’i, yang ketiga Al-Ash’ari atau Ibn Sariij, dan yang keempat
Al Isfiroyani- atau As-Sal’uqi atau Al-Baqalani.

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar