Hadirin Member Majelis Ilegaliyah Rahimakumullah.
Baik kita lanjutkan, hanca selanjutnya:
والخامسةُ حُجَّةُ الإسلامِ الغزاليُّ، إلى أن قالَ:
Dan yang kelima adalah Hujjatul Islam Al-Ghazali, hingga ia berkata:
وكذلك ذكره الحافظُ جلالُ الدينِ السُّيوطيُّ في أُرْجُوزةٍ له فقالَ:
Hal ini juga disebutkan oleh Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi dalam sebuah nazham (syair ilmiah) miliknya. Ia berkata:
والخامسُ الحَبرُ هو الغزاليُّ
وعدَّهُ ما فيهِ مِن جِدالِ
Dan yang kelima adalah ulama agung, Al-Ghazali.
Meskipun tentangnya ada perdebatan, tapi tak perlu jadi soal.
وقالَ فيها: والشرطُ في ذلكَ أنْ تَمضِيَ المِائَةُ
وهو على حياتِهِ بينَ الفِئَةِ
Ia berkata dalam syairnya: “Syaratnya, telah berlalu seratus tahun
Dan ia masih hidup di tengah umat saat itu.”
يُشارُ بالعلمِ إلى مقامِهِ
ويَنصُرُ السُّنَّةَ في كلامِهِ
Ilmunya menunjuk pada derajat kemuliaannya,
Dan dalam ucapannya ia membela sunnah dengan tegas.
وأنْ يكونَ جامعًا لكلِّ فَنٍّ
وأنْ يُعلِمَ علمَهُ أهلَ الزمَنِ
Serta ia harus menguasai berbagai cabang ilmu,
Dan ilmunya dipahami serta dimanfaatkan oleh masyarakat sezamannya.
وأنْ يكونَ في حديثٍ قد رُوِي
من أهلِ بيتِ المصطفى وقد قُوِّي
Dan disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan:
Ia berasal dari keluarga Nabi, dan hadits itu memiliki kekuatan.
وكونُهُ فردًا هو المشهورُ
قد نَطَقَ الحديثُ والجمهورُ
Bahwa dia adalah satu-satunya tokoh pembaharu, itulah yang masyhur,
Hal ini dinyatakan dalam hadits dan ditegaskan oleh para ulama
ونقلَ العراقيُّ عن البعضِ أنَّهُ جَعلَ في الرابعةِ أبا إسحاقَ الشِّيرازيَّ، والخامسةِ أبا طاهرٍ السَّلفيَّ، ولا مانعَ من الجَمعِ، فقد يكونُ المُجَدِّدُ أكثرَ من واحدٍ.
Sebagian ulama, seperti yang dikutip oleh Al-'Iraqi, menyebut bahwa pembaru keempat adalah Abu Ishaq Asy-Syirazi dan yang kelima Abu Thahir As-Salafi. Tak ada masalah dalam hal ini, karena bisa jadi pembaru itu lebih dari satu orang.
قالَ الذَّهبيُّ: مِنْ هنا للجمعِ لا للفردِ، فتقولُ مثلًا على رأسِ الثلاثِمائةِ ابنُ سُرَيْجٍ في الفقهِ، والأشعريُّ في الأصولِ، والنسائيُّ في الحديثِ.
Az-Zahabi berkata: frasa 'min huna' (dari sini) menunjukkan makna jamak, bukan tunggal. Maka bisa saja dikatakan, pada pergantian abad ketiga: Ibnu Surayj adalah pembaru dalam bidang fikih, Al-Asy'ari dalam bidang usul, dan An-Nasa’i dalam bidang hadits.
(الإمامُ): أي المُقتَدَى بهِ والمُتَّبَعُ، من (أمَّك): أي صارَ أمامَكَ: أي قدَّامَكَ.
(Imam) artinya adalah orang yang dijadikan teladan dan diikuti. Kata ini berasal dari “ammaka” yang berarti ia telah berada di depanmu.
قالَ السَّمينُ: هو في اللغةِ اسمٌ لكلِّ ما يُؤْتَمُّ بهِ كالإزارِ اسمٌ لما يُؤْتَزَرُ بهِ.
As-Samin berkata: dalam bahasa, kata 'imam' adalah sebutan bagi segala sesuatu yang dijadikan panutan, seperti halnya 'izar' adalah sebutan bagi pakaian yang digunakan untuk menutup tubuh bagian bawah.
وفي الاصطلاحِ: مَن تَصِحُّ الصلاةُ خلفَهُ، ولا شَكَّ أنَّ كِلا المعنيينِ كانَ موجودًا في المُصنِّفِ.
Dalam istilah, imam adalah orang yang sah untuk diikuti dalam shalat. Tak diragukan lagi, kedua makna ini ada pada sosok Al-Ghazali.
ويُطلقُ الإمامُ على الواحدِ والجمعِ، فهوَ ممّا استوى فيهِ المفردُ والجمعُ كـ "فُلْكٍ"، وكثيرًا ما يُجمَعُ على "أئمَّةٍ" كما أفادَ المُناويُّ على الجامعِ الصغيرِ.
Kata 'imam' digunakan baik untuk bentuk tunggal maupun jamak, seperti kata 'fulk'. Namun dalam banyak kesempatan, kata ini dijamakkan menjadi 'a’immah', sebagaimana dijelaskan oleh Al-Munawi dalam syarah Al-Jam
i’ Ash-Shaghir.
(الزَّاهِدُ): أَيْ الْمُتَّصِفُ بِالزُّهْدِ، وَهُوَ فَرَاغُ الْقَلْبِ مِنَ الدُّنْيَا مَعَ الِاقْتِصَارِ بِحَلَالِهَا بِقَدْرِ الْحَاجَةِ، كَذَا أَفَادَهُ الْعَلَّامَةُ عَبْدُ الْكَرِيمِ الدِّمْيَاطِيُّ.
Zāhid: yaitu orang yang bersifat zuhud, yakni hatinya kosong dari dunia, dan mencukupkan diri dengan yang halal sekadar kebutuhan. Begitu penjelasan dari al-‘Allāmah ‘Abdul Karīm ad-Dimyāṭī.
قَالَ الْعَلَّامَةُ مُرْتَضَى الزَّبِيدِيُّ: وَرَأَيْتُ فِي بَعْضِ الْمَجَامِعِ أَنَّ سَبَبَ سِيَاحَتِهِ وَزُهْدِهِ أَنَّهُ كَانَ يَوْمًا يَعِظُ النَّاسَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ أَخُوهُ أَحْمَدُ فَأَنْشَدَهُ:
Al-‘Allāmah Murtadhā az-Zabīdī berkata, “Aku melihat dalam sebagian kitab bahwa sebab pengembaraan dan kezuhudan beliau adalah, pada suatu hari ia sedang menasihati orang-orang, lalu saudaranya, Aḥmad, masuk dan membacakannya syair:
أَخَذْتَ بِأَعْضَادِهِمْ إِذْ وَنَوْا
وَخَلْفَكَ الْجَهْدُ إِذْ أَسْرَعُوا
Engkau menolong mereka saat mereka lemah,
sementara di belakangmu semangat berkobar ketika mereka telah maju.
وَأَصْبَحْتَ تَهْدِي وَلَا تَهْتَدِي
وَتَسْمَعُ وَعْظًا وَلَا تَسْمَعُ
Engkau jadi penunjuk jalan, tapi tak mendapat petunjuk,
engkau mendengar nasihat, tapi tak mendengarnya dengan hati.
فَيَا حَجَرَ الشَّجَرِ حَتَّى مَتَى
تُسَنُّ الْحَدِيدُ وَلَا تَقْطَعُ؟
Wahai batu dari pohon, sampai kapan begini?
Pisau terus diasah tapi tak jua memotong?
فَكَانَ ذَلِكَ سَبَبًا لِتَرْكِهِ عَلَائِقَ الدُّنْيَا.
Itulah yang menjadi sebab ia meninggalkan segala keterikatan duniawi.
وَذَكَرَ عَبْدُ الْغَافِرِ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ خَطِيبُ نَيْسَابُورَ فِي تَرْجَمَتِهِ بَعْدَ أَنْ وَصَفَهُ، قَالَ: وَسَلَكَ حُجَّةُ الْإِسْلَامِ طَرِيقَ الزُّهْدِ وَالتَّأَلُّهِ، وَتَرْكِ الْحَشْمَةِ، وَطَرْحِ مَا نَالَ مِنَ الدَّرَجَةِ، وَالِاشْتِغَالِ بِأَسْبَابِ التَّقْوَى وَزَادِ الْآخِرَةِ...
Abdul Ghāfir bin Ismā‘īl al-Fārisī, khatib Naisabur, dalam biografinya setelah menyampaikan pujian kepada Imam al-Ghazālī, berkata: Hujjatul Islām menempuh jalan kezuhudan dan penghambaan, meninggalkan kehormatan duniawi, melepaskan jabatan yang telah diraih, serta menyibukkan diri dengan sebab-sebab ketakwaan dan bekal akhirat...
ثُمَّ قَصَدَ حَجَّ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ، ثُمَّ دَخَلَ الشَّامَ، وَأَقَامَ فِي تِلْكَ الدِّيَارِ قَرِيبًا مِنْ عَشْرِ سِنِينَ، يَطُوفُ وَيَزُورُ الْمَشَاهِدَ، وَأَخَذَ فِي التَّصَانِيفِ الْمَشْهُورَةِ الَّتِي لَمْ يُسْبَقْ إِلَيْهَا.
Kemudian beliau menunaikan haji ke Baitullah al-Ḥarām, lalu masuk ke negeri Syam dan tinggal di sana hampir sepuluh tahun. Beliau berkeliling dan berziarah ke berbagai tempat suci, serta mulai menulis karya-karya besar yang belum pernah didahului oleh siapa pun.
مِثْلَ: «إِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ»، وَالْكُتُبِ الْمُخْتَصَرَةِ مِنْهُ، كَـ «الْأَرْبَعِينَ»، وَغَيْرِهَا مِنَ الرَّسَائِلِ الَّتِي مَنْ تَأَمَّلَهَا عَلِمَ مَحَلَّ الرَّجُلِ - يَعْنِي الْغَزَالِيَّ - مِنْ فُنُونِ الْعِلْمِ.
Seperti Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, juga ringkasan-ringkasannya seperti al-Arba‘īn, dan berbagai risalah lainnya. Siapa yang mencermatinya akan mengetahui kedudukan Imam al-Ghazālī dalam berbagai bidang ilmu.
وَأَخَذَ فِي مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ، وَتَغْيِيرِ الْأَخْلَاقِ، وَتَحْسِينِ الشَّمَائِلِ، وَتَهْذِيبِ الْمَعَاشِ، وَالتَّزَيِّي بِزِيِّ الصَّالِحِينَ، وَقَصْرِ الْأَمَلِ، وَوَقْفِ الْأَوْقَاتِ عَلَى هِدَايَةِ الْخَلْقِ، وَدَعْوَتِهِمْ إِلَى مَا يَعْنِيهِمْ مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ.
Ia bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, memperindah perangai, membenahi cara hidup, mengenakan penampilan orang-orang saleh, memendekkan angan, dan mendedikasikan waktunya untuk membimbing manusia serta mengajak mereka kepada hal-hal yang berguna bagi urusan akhirat mereka.
وَتَبْغِيضِ الدُّنْيَا، وَالِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ إِلَى الدَّارِ الْبَاقِيَةِ، وَالِانْقِيَادِ لِكُلِّ مَنْ يُتَوَسَّمُ فِيهِ أَوْ يُشَمُّ مِنْهُ رَائِحَةَ الْمَعْرِفَةِ أَوِ التَّيَقُّظِ بِشَيْءٍ مِنْ أَنْوَارِ الْمُشَاهَدَةِ حَتَّى مُرِّنَ عَلَى ذَلِكَ وَلَانَ.
Ia menjauhkan diri dari dunia, mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju negeri abadi, serta tunduk kepada siapa pun yang terlihat memiliki tanda-tanda ma‘rifah atau setidaknya menunjukkan secercah kesadaran dari cahaya musyāhadah, hingga hatinya menjadi terbiasa dan lunak terhadap jalan itu.
ثُمَّ عَادَ إِلَى وَطَنِهِ، لَازِمًا بَيْتَهُ، مُشْتَغِلًا بِالْفِكْرِ، مُلَازِمًا لِلْوَقْتِ، مَقْصُودًا، وَذُخْرًا لِكُلِّ مَنْ يَقْصِدُهُ وَيَدْخُلُ عَلَيْهِ.
Lalu ia kembali ke kampung halamannya, menetap di rumahnya, sibuk dengan perenungan, tekun mengatur waktu, menjadi rujukan dan simpanan berharga bagi siapa saja yang mendatanginya dan masuk menemuinya.
قَالَ: فَاتَّخَذَ فِي جِوَارِهِ مَدْرَسَةً لِطَلَبَةِ الْعِلْمِ، وَخَانَقَاهً لِلصُّوفِيَّةِ.
Dikatakan: Beliau mendirikan di dekat rumahnya sebuah madrasah untuk para penuntut ilmu dan sebuah khānqāh (tempat ibadah dan tinggal para sufi).
وَكَانَ قَدْ وَزَّعَ أَوْقَاتَهُ عَلَى وَظَائِفِ الْحَاضِرِينَ مِنْ خَتْمِ الْقُرْآنِ، وَمُجَالَسَةِ أَهْلِ الْقُلُوبِ، وَالْقُعُودِ لِلتَّدْرِيسِ، بِحَيْثُ لَا تَخْلُو لَحْظَةٌ مِنْ لَحَظَاتِهِ وَلَا لَحْظَةٌ مِمَّنْ مَعَهُ عَنْ فَائِدَةٍ.
Ia membagi waktunya untuk berbagai aktivitas yang dilakukan bersama para hadirin, seperti khataman Al-Qur’an, duduk bersama orang-orang yang berhati bersih, dan mengajar, hingga tak ada satu pun momen dari waktunya — maupun dari orang-orang yang bersamanya — yang luput dari manfaat.
السَّعِيدُ: أَيْ الَّذِي سَبَقَتْ لَهُ السَّعَادَةُ الْأَزَلِيَّةُ.
“Yang bahagia”: yakni orang yang telah ditetapkan kebahagiaan baginya sejak zaman azali.
الْمُوَفَّقُ: بِبِنَائِهِ لِلْمَفْعُولِ، أَيْ الَّذِي وُفِّقَ لِتَحْصِيلِ أَسْبَابِ الدَّرَجَاتِ الْعُلَا، وَهِيَ طَاعَةُ اللهِ تَعَالَى وَلِرَسُولِهِ.
“Yang diberi taufik”: dalam bentuk maf‘ūl, maksudnya orang yang diberi taufik untuk meraih sebab-sebab derajat yang tinggi, yaitu ketaatan kepada Allah Ta‘ālā dan Rasul-Nya.
وَالتَّوْفِيقُ لُغَةً: مُوَافَقَةُ الشَّيْءِ لِلشَّيْءِ، وَاصْطِلَاحًا: خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ فِي الْعَبْدِ.
Secara bahasa, “taufik” adalah kesesuaian suatu hal dengan hal lain. Sedangkan secara istilah: adalah diciptakannya kemampuan untuk taat dalam diri seorang hamba.
حُجَّةُ الْإِسْلَامِ: أَيْ الدَّلِيلُ لِلْإِسْلَامِ.
“Hujjatul Islām”: maksudnya adalah dalil dan pembela bagi Islam.
قَالَ بَعْضُهُمْ: الْحُجَّةُ مَنْ أَحَاطَ بِأَكْثَرِ السُّنَّةِ، وَلَمْ يَفُتْهُ مِنْهَا إِلَّا الْيَسِيرُ.
Sebagian ulama berkata: Hujjah adalah orang yang menguasai mayoritas sunnah, dan tidak luput darinya kecuali sedikit saja.
وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ مَحَجَّةُ الدِّينِ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ، جَامِعٌ أَشْتَاتَ الْعُلُومِ، وَالْمُبَرِّزُ فِي الْمَنْطُوقِ فِيهَا وَالْمَفْهُومِ.
Beliau rahimahullah adalah jalan utama menuju agama, yang bisa mengantarkan ke negeri Islam. Ia menghimpun berbagai macam ilmu, dan unggul dalam hal-hal yang tersurat maupun tersirat dari ilmu tersebut.
زَيْنُ الدِّينِ: أَي مُزَيِّنُ الدِّينِ بِتَأْلِيفَاتِهِ وَتَقْرِيرَاتِهِ، وَهَذَا بِحَسَبِ الْأَصْلِ، وَإِلَّا فَهُوَ الآنَ لَقَبٌ.
“Zainuddin” artinya adalah yang memperindah agama dengan karya-karya tulis dan penjelasannya. Ini adalah makna asalnya, karena sekarang gelar ini menjadi sebuah panggilan atau julukan.
وَاللَّقَبُ مِنْ أَقْسَامِ الْعِلْمِ الْجَامِدِ، فَلَا مَعْنَى لَهُ، بَل مَدْلُولُهُ الذَّاتُ، كَذَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيّ.
Dan gelar atau julukan termasuk jenis ilmu yang bersifat tetap (ilm al-jāmid), sehingga tidak memiliki makna tersendiri selain merujuk pada hakikat atau pribadi, demikian menurut al-Syarqawi.
وَفِي الْمُخْتَارِ الزِّيْنَةُ مَا يَتَزَيَّنُ بِهِ، وَالزِّيْنُ ضِدُّ الشِّنْ.
Dalam kitab al-Mukhtār, zīnah (hiasan) berarti sesuatu yang dipakai untuk memperindah diri, dan zīn bertentangan dengan syīn (keburukan).
وَقَدَّمَ اللَّقَبَ عَلَى الاسْمِ لِاشْتِهَارِهِ مِثْلَ:
Gelar sering didahulukan daripada nama karena popularitasnya, seperti:
(إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ)
“Sesungguhnya Al-Masih adalah ‘Isa bin Maryam.”
أَوْ جَرَاءَ عَادَةِ الْمُؤَرِّخِينَ كَمَا قَالَهُ ابْنُ عُمَرَ الْبَجِيرْمِيّ:
Atau mengikuti kebiasaan para sejarawan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar al-Bajirmi:
(شَرَفُ الأُمَّةِ) أَي فِي الْمِقْدَارِ.
“Syarful ummah” artinya kehormatan umat dalam kadar tertentu.
وَالشَّرَفُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَالرَّاءِ: الْعُلُوّ وَالْمَكَانُ الْعَالِي، كَذَا فِي الْمُخْتَارِ.
“Syarf” dengan fathah pada syīn dan rā’ berarti ketinggian dan tempat yang tinggi, demikian dalam al-Mukhtār.
وَالْأُمَّةُ: كُلُّ جَمَاعَةٍ يَجْمَعُهَا أَمْرٌ مَا مِنْ دِينٍ وَاحِدٍ أَوْ زَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، سَوَاءٌ كَانَ الْجَمْعُ تَسْخِيرًا أَوْ اخْتِيَارًا،
“Ummatu” adalah setiap kelompok yang disatukan oleh suatu urusan tertentu dari agama yang sama, atau waktu, atau tempat, atau hal semacam itu, baik berkumpul secara terpaksa atau sukarela.
وَالْمُرَادُ هُنَا أَهْلُ مِلَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُجْتَمِعُونَ عَلَى دِينِهِ الْقَوِيمِ، كَمَا ذَكَرَهُ الْفَاسِيّ
Yang dimaksud di sini adalah umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang berkumpul dalam agama yang lurus, sebagaimana disebutkan oleh al-Fasi.
(أَبُو حَامِدٍ) وَنَسَبَهُ هَذَا التَّكَنِّي مِنْ شُيُوخِهِ جَمْعٌ:
(Abu Hamid) dan julukan ini dia dapatkan dari guru-gurunya, beberapa di antaranya:
مِنْهُمْ أَحْمَدُ بْنُ بُشْرٍ أَبُو حَامِدٍ الْمَرْوَزِيُّ، تَوَفِّيَ سَنَةَ ٣٦٢،
Ahmad bin Bushr Abu Hamid al-Marwazi, wafat tahun 362 H,
وَأَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَقِيهُ أَبُو حَامِدٍ الطُّوسِيُّ تَوَفِّيَ سَنَةَ ٣٤٥،
dan Ahmad bin Isma’il al-Faqih Abu Hamid al-Tusi, wafat tahun 345 H,
وَأَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْحَافِظُ أَبُو حَامِدٍ، تَوَفِّيَ سَنَةَ ٣٢٥.
dan Ahmad bin al-Husain al-Hafizh Abu Hamid, wafat tahun 325 H.
(مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدٍ) وَابْنُ: إِذَا وَقَعَ بَيْنَ عِلْمَيْنِ ثَانِيهُمَا أَبٌ لِلْأَوَّلِ تُحْذَفُ أَلْفُهُ مَالَمْ تَكُنْ فِي أَوَّلِ سَطْرٍ.
(Muhammad bin Muhammad bin Muhammad) dan “ibn” (bin) — jika antara dua kata ada yang kedua adalah ayah dari yang pertama, maka alif-nya dihilangkan kecuali jika berada di awal baris.
وَفِي سِيرَةِ الشَّامِي أَنَّ أَلِفَ ابْنٍ تُثْبَتُ فِي تِسْعَةِ مَوَاضِعَ:
Dalam sirah asy-Syami disebutkan bahwa alif “ibn” tetap ditulis pada sembilan kondisi:
إِذَا أُضِيفَ إِلَى مُضْمَرٍ كَهَذَا (ابْنُكَ)، أَوْ نُسِبَ إِلَى الْأَبِ الْأَعْلَى كَقَوْلِكَ:
Jika ditambahkan kepada kata ganti tersirat seperti “ibnuka” (anakmu), atau dinisbatkan kepada ayah yang lebih tinggi seperti:
مُحَمَّدُ ابْنُ شَهَابِ التَّابِعِيِّ فَشَهَابُ جَدُّهُ، أَوْ أُضِيفَ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ كَالْمُقْدَادِ ابْنِ الْأَسْوَدِ أَبُوهُ عَمْرٌو، وَتَبَنَّاهُ الْأَسْوَدُ، وَمُحَمَّدُ ابْنُ الْحَنَفِيَّةِ، فَالْحَنَفِيَّةُ أُمُّهُ،
Muhammad bin Shahab at-Tabi’i, di mana Shahab adalah kakeknya, atau ditambahkan kepada selain ayahnya seperti al-Muqaddad bin al-Aswad, ayahnya Amr dan diasuh oleh al-Aswad, dan Muhammad bin al-Hanafiyyah, di mana al-Hanafiyyah adalah ibunya.
أَوْ عَدَلَ عَنِ الصِّفَةِ إِلَى الْخَبَرِ كَقَوْلِكَ: أَظُنُّ مُحَمَّدًا ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ،
Atau beralih dari sifat ke berita seperti dalam kalimat: “Azunnu Muhammad ibn ‘Abdillah” (Saya kira Muhammad bin Abdullah).
أَوْ إِلَى الْإِسْتِفْهَامِ كَقَوْلِكَ: هَلْ تَيْمُ ابْنُ مُرَّةَ ؟
Atau ke kalimat tanya seperti: “Hal Taim ibn Murrah?”
أَوْ ثَنَّى كَقَوْلِكَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو ابْنَا مُحَمَّدٍ،
Atau bilangan dua seperti: “Zaid dan Amr ibnā Muhammad.”
أَوْ ذُكِرَ بِغَيْرِ اسْمٍ كَجَاءَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ،
Atau disebut tanpa nama seperti “Ibnu Abdullah.”
أَوْ كُتِبَ أَوَّلَ سَطْرٍ أَوِ اتَّصَلَ بِصِفَةٍ كَقَوْلِكَ: زَيْدُ الْفَاضِلُ ابْنُ عَمْرٍو.
Atau ditulis di awal baris atau terhubung dengan sifat seperti “Zaid al-Fadil ibn ‘Amr.”
قَالَ بَعْضُهُمْ : وَمِثْلُ ٱبْنِ ٱبْنَةٍ، وَقَدْ نَظَمَ ٱلْعَلَّامَةُ ٱلْأَجْهُورِيُّ تِلْكَ ٱلْمَوَاضِعَ فَقَالَ :
Sebagian ulama berkata: Begitu pula kata "ibn" yang disandarkan pada cucu dari anak perempuan. Dan telah merangkai syair tentang tempat-tempat pengecualian tersebut Al-‘Allāmah Al-Ajhurī:
ٱحْذِفْ مِنِ ٱبْنٍ أَلِفًا إِنْ وَقَعَا
فِي وَسْطِ ٱسْمَيْنِ تَكُنْ مُتَّبِعَا
Hapuslah huruf alif dari kata ibn jika berada di antara dua nama, niscaya engkau telah mengikuti kaidah.
إِلَّا إِذَا أُضِيفَ لِلضَّمِيرِ
فَٱلْأَلِفُ ٱكْتُبْ فِيهِ يَا سَمِيرِي
Kecuali jika ibn disandarkan pada dhamir (kata ganti), maka tulislah alif-nya, wahai kekasihku.
وَمِثْلُهُ أَنِ ٱسْمُهُ قَدْ حُذِفَا
كَأَكْرِمِ ٱبْنَ عُمَرٍ مَنْ أَنْصَفَا
Dan juga jika nama sebelumnya telah dihapus, seperti kalimat “Muliakan Ibn Umar” bagi siapa yang berbuat adil.
قُلْتُ وَفِي ٱسْتِثْنَاءِ ذَيْنِ نَظَرٌ
إِذْ لَيْسَ بَيْنَ ٱسْمَيْنِ مَنْ يُذْكَرُ
Namun aku katakan, dalam dua pengecualian tadi terdapat tinjauan, karena tidak terdapat dua nama di antaranya.
كَذَاكَ مَكْتُوبٌ بِصَدْرِ ٱلسَّطْرِ
أَوْ مَا نُسِبْتَهُ لِجَدٍّ فَٱدْرِ
Begitu pula jika ditulis di awal baris atau ketika penisbatan pada kakek, maka perhatikanlah.
أَوْ مَنْ لِغَيْرِ أَبِيهِ قَدِ ٱنْتَسَبْ
كَخَالِهِ فَٱلْحُكْمُ ذَا لَهُ وَجَبْ
Atau jika disandarkan pada selain ayahnya, seperti kepada pamannya, maka hukumnya berlaku sama.
وَمَا بِهِ لِصِفَةٍ قَدْ عُدِّلَا
لِخَبَرٍ كَذٰلِكَ ٱللَّهُ فَصَّلَا
Juga bila berpindah dari sifat menjadi khabar, maka seperti itulah Allah menjelaskan.
مَوْصُوفُهُ مِنْهُ وَمَا يُثْنَى
أَوْ عُدِّلَ ٱلاِسْتِفْهَامُ صَدَّعْنَا
Begitu pula jika disandarkan pada maushuf-nya, atau jika bentuknya mutsanna, atau berpindah menjadi bentuk istifham (pertanyaan), maka berlaku kaidah yang sama.
قَدْ قَالَ ذَا ٱلشَّامِيُّ وَبَعْضُ ٱبْنِهِ
كَٱلِٱبْنِ فِي ذَا وَعَلَيْهِ ٱلْعُهْدَةُ
Hal ini telah dikatakan oleh Asy-Syāmī dan sebagian muridnya, sama halnya dengan kata al-ibn, dan atas merekalah tanggung jawab penukilannya.
وُلِدَ رَحِمَهُ ٱللَّهُ تَعَالَى بِطُوسَ سَنَةَ خَمْسِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ،
Beliau —semoga Allah merahmatinya— lahir di Ṭūs pada tahun 450 Hijriah,
وَتُوُفِّيَ بِهَا صَبِيحَةَ يَوْمِ ٱلٱثْنَيْنِ رَابِعَ عَشَرَ جُمَادَى ٱلْآخِرَةِ سَنَةَ خَمْسٍ وَخَمْسِمِائَةٍ،
dan wafat di sana pada pagi hari Senin, tanggal 14 Jumādā al-Ākhirah tahun 505 H.
فَكَانَ عُمْرُهُ خَمْسًا وَخَمْسِينَ سَنَةً،
Maka usia beliau adalah lima puluh lima tahun.
وَفِي كِتَابِ ٱلثَّبَاتِ عِندَ ٱلْمَمَاتِ لِٱبْنِ ٱلْجَوْزِيِّ. قَالَ أَحْمَدُ أَخُو ٱلْغَزَالِيِّ :
Dalam kitab Aṡ-Ṡabāt ‘Inda al-Mamāt karya Ibn al-Jawzī, Ahmad —saudara Imam al-Ghazālī— berkata:
لَمَّا كَانَ يَوْمَ ٱلِٱثْنَيْنِ وَقْتَ ٱلصُّبْحِ تَوَضَّأَ أَخِي وَصَلَّى.
Ketika masuk waktu subuh hari Senin, saudaraku berwudu lalu salat.
وَقَالَ عَلَيَّ بِٱلْكَفَنِ فَأَخَذَهُ وَقَبَّلَهُ وَوَضَعَهُ عَلَى عَيْنَيْهِ وَقَالَ :
Lalu beliau berkata, "Berikan aku kain kafan," lalu ia mengambilnya, menciumnya, dan meletakkannya di kedua matanya seraya berkata:
سَمْعًا وَطَاعَةً لِلدُّخُولِ عَلَى ٱلْمَلِكِ، ثُمَّ مَدَّ رِجْلَيْهِ وَٱسْتَقْبَلَ وَٱنْتَقَلَ إِلَىٰ رِضْوَانِ ٱللَّهِ تَعَالَىٰ قَبْلَ ٱلْإِسْفَارِ.
"Dengan penuh ketaatan dan kepatuhan untuk menghadap Sang Raja (Allah)," lalu ia meluruskan kedua kakinya, menghadap kiblat, dan berpulang ke rahmat Allah sebelum fajar merekah.
طَيِّبَ ٱلثَّنَاءِ، أَعْلَىٰ مَنْزِلَةً مِنْ نَجْمِ ٱلسَّمَاءِ، لَا يَكْرَهُهُ إِلَّا حَاسِدٌ أَوْ زِنْدِيقٌ، وَلَا يَسُومُهُ بِٱلسُّوءِ إِلَّا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ رَيْبٌ أَوْ حَادَ عَنْ سَوَاءِ ٱلطَّرِيقِ.
Ia wafat dalam keadaan harum pujian, memiliki kedudukan lebih tinggi dari bintang di langit. Tidak ada yang membencinya kecuali orang yang dengki atau zindiq, dan tidak mencelanya kecuali mereka yang dalam hatinya terdapat keraguan atau berpaling dari jalan yang lurus.
وَقَالَ فَخْرُ ٱلدِّينِ بْنُ عَسَاكِرَ : وَدُفِنَ رَحِمَهُ ٱللَّهُ بِظَاهِرِ قَصَبَةِ طَابَرَانَ، وَٱللَّهُ يَخُصُّهُ بِأَنْوَاعِ ٱلْكَرَامَةِ فِي أُخْرَاهُ، كَمَا خَصَّهُ بِفُنُونِ ٱلْعِلْمِ فِي دُنْيَاهُ بِمَنِّهِ وَفَضْلِهِ.
Fakhruddin Ibn ‘Asākir berkata: “Beliau dimakamkan di luar kota Qasabah Ṭābarān. Semoga Allah menganugerahkan berbagai kemuliaan di akhiratnya, sebagaimana Dia telah menganugerahinya berbagai cabang ilmu di dunia dengan karunia dan rahmat-Nya.”
وَلَمْ يُعَقِّبْ إِلَّا ٱلْبَنَاتِ، وَكَانَ لَهُ مِنَ ٱلْأَسْبَابِ إِرْثًا وَكَسْبًا مَا يَقُومُ بِكَفَايَتِهِ وَنَفَقَةِ أَهْلِهِ وَأَوْلَادِهِ،
Ia tidak meninggalkan keturunan laki-laki kecuali anak-anak perempuan. Dan beliau memiliki harta warisan dan penghasilan yang mencukupi kebutuhan dirinya serta nafkah keluarganya dan anak-anaknya.
فَمَا كَانَ يُبَاسِطُ أَحَدًا فِي ٱلْأُمُورِ ٱلدُّنْيَوِيَّةِ، وَقَدْ عُرِضَتْ عَلَيْهِ فَمَا قَبِلَهَا، وَأَعْرَضَ عَنْهَا، وَٱكْتَفَىٰ بِٱلْقَدْرِ ٱلَّذِي يَصُونُ بِهِ دِينَهُ، وَلَا يَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى ٱلتَّعَرُّضِ لِلسُّؤَالِ وَٱلْمَنَالِ مِنْ غَيْرِهِ.
Beliau tidak bermuamalah secara bebas dengan siapa pun dalam urusan duniawi. Pernah ditawarkan dunia kepadanya, namun ia menolak dan berpaling darinya. Ia mencukupkan diri dengan hal yang dapat menjaga agamanya, tanpa perlu meminta atau bergantung kepada selain Allah.
Hal 7-9
Bersambung....
0 komentar:
Posting Komentar