BERBULAN MADU MUDA INDONESIA

Oleh Ajangmuhammad

Segetir genderang perang, yang di tabuh saat perang taznding Ali dan hamzah melawan Jahiliyah Quraisy.
Se kencang angin mushon yang bertiup di poponcol sore hari.
Se ganas Dordar gelap (petir) yang menyambar amerika.
Se dahsyat badai mengguncang jepang.
Segarang Tsunami mengguncang aceh.
Se panas Matahari pesinar alam.
Se dingin kutub pengakhir bumi.

Dadaku meraung kencang, tak gentar bersuara lantang meliput langit dan bumi, NKRI HARGA MATI.

Se keras besi membaja, ku hentak.
Se tajam silet, ku lintas.
Semurni embun memagi, ku minum.
Se dalam samudra, ku selami.
Se misteri Tongkat musa, ku genggam.
Se luas samudra, ku sebrangi.
Se liar singa ku tunggangi.
Se tinggi sidrotul muntaha, ku panjat.
Ku pajang sang MERAH keberanian, PUTIH kesucian.

Haruskah ku jemput paksa masa lalu,
ku renggut Sudirman dari kuburnya.
menyatakan lantang. sumpah setia dihadapan lalu bergabung mesra dengan para syuhada gerilyawan?

Merintih segunung sesal membuncah di dalam asa, ku bendung air mata keresahan. Namun mendanau percuma.
Ku tak mampu membasahi pipi bersama mereka di bawah dentuman senjata.
Waktu memang penjajah sadis tiada tara.
Sedikitpun tak ada rindu padanya untuk pulang.
Kau adalah pemisah sempurna air mataku dengan air mata pahlawan.
Nafas heroik sudah tak terendus.
Pekik Takbir sutomo tak lagi terjawab Senjata.

Syuhadaku,.
bahagiakah kau telah menulis surat cinta dengan Darah di lembar Bumi pertiwimu?
Atau merasa celakah kau menjadi mangsa setiap Peluru menghambur pada tubuhmu,?
Banggakah engkau,
Merdeka telah terwujud di atas selimut kuburmu?
Atau kecewakah engkau krna tak sempat merasa kan madu jerih payah mu?

Wahai aku.
Bahagiakah aku bersenang ria di atas selimut kubur kemerdekaan dengan suka cita tanpa setetes pun darah tertumpah?
Atau
Bersedihkah aku, memuram durja menikmati surga Nusantara tanpa pecinta sejatinya?
Atau malukah aku, menginjak anugrah tanah kemerdekaan dengan pongah, mengibliskannya, memusuhinya?

Ouh syuhadaku, sepenting apakah tanah air ini bagimu sampai kau rela membayarnya dengan ceceran darah dan dagingmu di permukaan bumi?
Se mahal apakah tanah air ini bagimu, sampai kau lunaskan dengan bukan hanya nyawamu, tapi nyawa karib tercintamu?

Ouh syuhadaku, andai aku mewarisi semangat dan tekadmu di masa itu, andai ku miliki patriotisme mu di zaman dulu.
Andai kekuatanku membaja bagai engkau di medan perang.
Kan ku perangi waktu. Ku taklukan, ku rebut Nalurinya, takkan berhenti ku teriak, sampai sang waktu menyerah lalu membawaku ke masamu.

Bersimpuh di lututmu, memeluka erat seraya berkata.
"Terimakasih wahai syuhadaku"
Karena mu, aku meneguk manisnya madu di waktu muda, tanpa membayarnya dengan setetespun darah dan nyawa.

Terimakasih Pahlawanku.

Jumat, 02.21, 9 nov 2017

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar