Rintik hujan yang tak serius membasahi kami dalam alunan dentum mesin yang tergaur menyirat kepul, bernaung pada sehelai kain bergurat cokelat, berkelebat dengan batik merah merangkum sirna.
Sepertinya shubuh ini membuat langit terkantuk lalu menggigil kedinginan, shubuh ini gagal membirui langit dan gagal menampakkan kegagahannya, menyaksikan langsung sang 'kekasih-Nya' tertidur lelap di bawah pusara, puncak Suryalaya.
Dua kekasih tertidur pulas didekap bumi yang sempat menggendongnya selama 120 tahun dan 96 tahun lamanya, mereka tersenyum yang berbalas senyum bumi dengan pikat yang tiada tara, pelangi mencuat menjembatani jiwa yang terkasih ke hadrotul qudsiyah, sang Penguasa alam menyambut gembira kepulangan perindu sejati di gerbang angkasa, pecinta sejati yang sempat mengguncang arasy dengan goyangan mautnya, secarik pernik tergurat di pipi kanan dan kirinya, membekas senyum tulus yang sempat berkelebat selama hidupnya.
Setiap ku gendam lantunan tak bernada merdu namun syahdu itu terdendang, gerbang-gerbang hijab merekah tertawa bengis menantang, dihadapanku dengan segala kebesaran dosa yang terpanggul di pundak, dengan segala keluasan bingung yang terpampang dibelakang punggung. Tarian leher ku tampilkan selalu di hadapan diri sendiri, selangkah menuju kepasrahan ditengah ribuan kilo perjalanan, tetap ku paksakan meski kakiku melangkah laksana siput terimut.
Entahlah, perjalanan panjang ini akan di dahului ketercapaian ataukah kemusnahan, namun yang jelas ku takkan berhenti di persimpangan bersajak satwa.
Selangkah demi selangkah, Ku cangkulkan iman pada sajadah lumpur tertanam kalimah-kalimah 'satu', tentu saja namanya ku onggokan dalam batin, namun sekujur tubuh tetap membisu, latifah-latifahku belum mampu terinstruksi qolbu secara kaffah, apalagi sekujur badan, hanya serangga-serangga tentara iblis yang saat ini selalu mengalahkanku.
Denyut nadi serta detak jantung tetap tegak bersebut namamu. Oh aku malu dengan mereka, sedetikpun mereka tak pernah berhenti bersebut nama yang kucinta, sepertinya merekapun tak mengenal makhluq yang bernama 'lelah'. cemburu aku dibuatnya, selaksa darah berhamburan pada semburat daging-daging bergelayut pada putihnya tulang, tak mampu ku giring pada jalan-Nya. Gelisah tergambar, bingung terlukis. Serentak ku kaburkan segala gelisah pada ketukan nafas yang berhembus, pada kasih ternama, alunannya sepintas menghibur, namun beberapa saat kembali kabur.
Kantukpun menawarkan aku dengan bentangan tangannya, memeluk aku dalam dekapannya, lalu aku tersesat dibelantara tak bernama, sekelabat sesosok wajah kalem berdiri tegak di hadapanku dengan aroma khasnya, sehelai kain tercekat pada tangannya, lalu ia lambaikan pada ubun-ubun wajahku, dengan telapak tangannya ia usap mukaku dengan lembut, seperti me-make up-i aku laksana pengantin wanita di detik-detik hari-H-nya. Namun sialnya bahagia tak bersenyawa dengan ketidak sadaran itu, hanya nyaman yang bernaung pada warna kain itu.
Seketika aku terhenyak lalu terbangun dalam keterkejutan, seketika itu bingung membersamai kesadaran yang terpungut. Sesosok wajah masih berdiri tegak di hadapanku dengan tersenyum simpul, busana yang dikenakannya, mengingatkan aku seseorang yang selama ini menggurat mimpi dalam setiap tidurku, dialah orangnya. Dan aku kembali bertanya namun tak sempat ku ungkap.
Sayang seribu sayang, sebelum kesadaran terpungut utuh, ia hilang seketika, pergi tanpa pamit. Tragedi itu mewariskan beribu tanda tanya, ilusi ini sempat menghantui disetiap waktuku, seiring berjalannya waktu, ia hilang di hapus hujan, namun kini ia kembali menghantui kembali dengan semerbak aroma melatinya.
Kembali aku terkesima dengan ilapat-ilapat yang sempat tertunda.
Entahlah aku tak peduli itu pertanda apa, karna aku yakin, tak ada yang lebih jujur daripada cermin dan nurani. Sampai saat ini aku masih percaya dan meyakini kebenaran fatwa cermin dan nurani.
Yah, aku hanyalah seorang pengemis rahmat yang bergelimang noda dan dosa.
Cipasung. 30 november 2017
0 komentar:
Posting Komentar