Bahtsul Masail Sebagai Jalan Penyemangat Muthola'ah

๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐—ต ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ธ-๐—ป๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—”๐—ท๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป
Oleh : Ajang M Abdul Jalil M.Pd 

Literatur salafiyah (Turats) selalu dipakai untuk mengimbangi zaman, misalnya menyikapi dengan hukum dan aturan yang tertera di dalamnya, bisa juga diklaim sebagai sumber inspirasi karena memang terbukti ajarannya menjadi sebuah komoditas yang layak untuk menciptakan potensi ekonomi, budaya dan sosial masyarakat. 

Dalam padanannya hukum-hukum yang terbentuk selalu disinyalir sebagai kejumudan dan diklaim sebagai konservatisme umat. Hal itu tidak terlalu salah namun juga tidak sepenuhnya benar karena yang kita saksikan justru sebaliknya, mereka yang memojokkan ilmu agama pun hidup dan makan dari komoditas agama. 

Yang paling krusial, agama dibawakan oleh Nabi Muhammad saw untuk menjawab tantangan zaman, memperbaiki berbagai ketimpangan kemanusiaan, manghapus budaya kriminal, menganolir adat perang, menjaga manusia dari pertumpahan darah baik pemeluk atau yang berdampingan dengan pemeluknya. Meski dalam suatu waktu islam yang dibawanya seringkali disudutkan sebagai biangkerok peperangan dan pertumpahan darah. 

Sang Nabi yang sejak kecil menderita kesepian akut karena ditinggal oleh ayah dan ibunya semenjak usia dini. Bersamaan dengan itu, ketika dewasa dituntut untuk memenuhi kebutuhan dan mimpi humanisme setiap manusia. Dengan bekal kenabian dan kerasulan yang diemban, dengan gigih tanpa mengenal putus asa beliau berdiri gagah disamping mereka. Dalam peperangan, ia adalah panglima tertinggi dan pahlawan yang tiada tanding, di barisan yang paling depan melindungi manusia dari kehancuran. 

Dalam dunia bisnis ia berperan sebagai ekonom karena kecurangan dalam bisnis, riba bertebaran dimana-mana hampir membuat perbudakan yang meresahkan. Ia berdiri tegak menjadi pakar ekonom yang dengan terobosan-terobosan ide bisnisnya berhasil menciptakan dalam masyarakat pasar ataupun bisnis. 

Pada saat dua imperium besar melancarkan visi dan misi asobiyahnya. Ia berdiri tegak mengantarai keduanya, menyampaikan risalah-Nya. Peran yang diambilnya bukan melulu tentang ketauhidan ataupun yurisprudensi ritual tentang keagamaan, lebih dari itu, masuk ke setiap sendi berkehidupan dan berkebangsaan. 

Beliau telah berhasil memenangkan konflik, kegelisahan dan mencabut penderitaan yang ada di dalamnya. Ibarat dokter speasialis kelas dunia, mencabut setiap penyakit kanker dalam tatanan sosial dan kemasyarakatan. Belum lagi dalam masalah personal, ia berhasil mengajarkan dan membentuk jiwa-jiwa paripurna, membuat setiap siapapun yang mencintai dan mencandui ajarannya akan menjadi manusia yang paripurna. 

Zaman telah berganti, tantanganpun semakin banyak. Lebih dari yang dicontohkan dan diajarkan saat itu, sebagai pemeluk dan pembawa risalahnya, para pewaris harus mampu menggantikan peran paripurna. Untuk itu, dikarenakan tidak ada manusia yang sempurna, maka kita dituntut untuk saling menyempurnakan dengan mencampurkan diri dalam bahasan-bahasan paripatetik. 

Disinyalir jika kita hanya mengandalkan pengetahuan yang seadanya, pengamalan yang seadanya dan jawaban yang seadanya, maka akan menghasilkan hasil yang seadanya pula. Untuk itu kita perlu mencitakan komoditas-komoditas intelektual agar senantiasa menjaga keparipurnaan ajaran tentang risalahnya. 

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pemikir Islam, seorang Usuliyyun bahwa kita diharamkan untuk menjumudkan isi risalah, artinya menjaga tekstualisasi tanpa ada upaya interpretatif yang bisa menjaga aktulasisasinya. Haram hukumnya jika berpegang teguh pada sesuatu hal yang semua manusia sepakat untuk meninggalkannya karena Allah akan merusaknya. 

Untuk itu, forum-forum komunikasi intelektual perlu dijaga dan dilestarikan, dikembangkan dan dimanifestasikan dalam hidup manusia. Agar ia senantiasa baru dan terus menjadi solusi dalam setiap permasalahan. Upaya-upaya pembaruan dan penyikapan terhadap sesuatu perlu dilaksanakan secara komprehensif agar agama tidak melulu disebut sebagai faktor utama dalam kejumudan. 

Imam Ghazali pernah difitnah sebagai dalam utama terhadap berhentinya kegiatan intelektual di Timur tengah. Ia dituduh sebagai orang yang paling beringas menyerang kaum intelektual yang berkecimpung dalam bidang yang lain dengan membawa bahasan yang ia kuasai. Semisal Ibnu sina seorang pakar kedokteran muslim yang sempat mengutarakan pandangannya tentang filsafat, Al-Ghazali memberikan jawaban dengan tahafur al-falasifah yang menangkis hampir seluruh pendapat Ibnu Sina mengenai filsafat bahkan sempat dihukumi sesat dan kafir.

Dengan peristiwa tersebut sampul kekafiran Ibnu Sina berhasil membuat umat untuk sama-sama membencinya, sampai membutakan keadilan porsi manusia. Sehingga saking sesatnya Ibnu Sina dalam hal filsafat, mereka menjauhi dan mendiskriminiasi pula dalam bidang lainnya  semisal Ilmu-ilmu kedokteran, Matematika, Fisika, Kimia dan ilmu eksak lain yang berhasil ia kuasai dan tertuang dalam karya-karya yang tidak sedikit bahkan berhasil menjadikan Ibnu Sina sebagai salah Tokoh Muslim Terbesar dalam Intelektual pada saat itu.

Kebencian buta tersebut berhasil membawa umat untuk sama-sama mengutuk beliau dan berhasil mematikan wibawa kepakaran beliau dalam hal ini. Umatpun hanya berkutat dalam ilmu yang diajarkan oleh para pemenang. Karena mindset mereka hanya melulu tentang bagaimana cara menyelamatkan diri dan tak peduli tentang keselamatan orang lain. 

Kedokteran dan ilmu eksak lainnya mungkin tidak menjamin siapapun peminatnya untuk selamat nanti diakherat, tapi di dunia setidaknya ilmu kedokteran berhasil menyelamatkan jutaan manusia dari penyakit dan kematian dini yang disebabkan penyakit. Ilmu sosial politik memang bukan agama, tapi bagian dari agama karena meski tidak menjamin keselamatan diakherat, tapi sudah berjasa menyelamatkan umat islam dari perbudakan dan penjajahan. 

Marilah kita adil dan proporsional dalam memandang segala sesuatu, begitupun tentang profesional manusia. karena sejatinya keadilan juga bagian dari ajaran Rasulullah saw. Kita selalu mengingkari sifat ini karena terkalahkan oleh emosi dan sebuah kepentingan yang bersifat pribadi. 

Lihatlah segala sesuatu secara 'holistik' semisal kasus Ibnu Sina dengan Al-Ghazali. Ibnh sina mempelajari Filsafat selama 2 tahun, artinya pendapat beliau dalam filsafat hanyalah katakanlah 'oral ilmiah' seorang bocah 11 tahun dalam sebuah kertas. Apakah seorang anak yang masih berusia murohik atau belum baligh masih tertaklif oleh sebuah hukum dengan diagnosa akidah yang super rumit? Mari berfikir ulang mengenai pendapat beliau mengenai filsafatnya. 

Kita tidak perlu membela pemikiran filsafatnya apalagi membenarkannya, tapi kita juga tidak perlu menyalahkannya atau bahkan menuduh kata-kata yang mengerikan semisal sesat dan kafir. Untuk belajar filsafat cukup mengambil dan mengikuti tokoh yang profesional yang layak untuk diikuti. Tapi kita belajar kedokteran dan bidang-bidang yang lain yang lebih proporsional dari Ibnu Sina.

Mungkin Imam Ghazali tidak serta merta kejam kepada beliau, tetapi sengaja untuk menghidupkan aktivitas ilmiah yang ada di dalamnya. Sah-sah saja kita mengkritik siapapun dengan cara yang beretika dan elegan, selama itu ranah ilmiah baik itu lisan, diskusi ataupun tulisan dal sebuah karya. Karena dalam segmentasi intelektual, ketokohan seseorang bukan standar hukum. 

Yang muda gak usah baper dan yang sepuh gak usah tersinggung jika berada dalam ranah ini. Siapkan lah argumen yang kuat dan mental baja. Karena ketika seseorang sudah terjun ke dunia intelektual, berarti ia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Suasana bersiap untuk  menyerang lawan atau bertahan terhadap penyerang jangan sampai berakhir perpecahan. Kita tidak bermujadalah untuk menghasilkan pertentangan apalagi perpecahan, tetapi bermuthorohah dan bermunadzhoroh untuk menghasilkan perbedaan dan rahmat. 

Inilah cara mabar kami, inilah cara bermain kami, inilah seni bertarung yang tidak akan menimbulkan luka, rasa sakit ataupun kematian. Semakin kami bertarung semakin hidup manusia, semakin sengit sebuah pertarungan karena bersenjatakan kalam para pewaris Nabi, maka semakin banyak kemaslahatan yang akan di dapat. 

Jika seseorang menggunakan 2 jawaban baik itu dengan argumentasi maupun refrensi, itu double kill, jika seseorang menggunakan Al-quran dan hadis lalu sesuai jawaban, Triple kill. Jika ia menggunakan Al-Quran hadits dan qaul Ulama, berarti maniac. Dan jika pendapatnya menjadi rekomendasi bahkan menjadi bahasan yang dibawa ke pusat hingga menjadi sebuah fatwa berarti Savage.

Wahai para santri Warrior, berjuanglah disana seriuskanlah dirimu memperdalam kitab kuning, tingkatkanlah skill mu dalam qiroatul kutub, Mabarkanlah bersama teman-teman dengan membentuk forum-forum bahstul kutub dan masail. Tingkatkan kemampuanmu menjadi elite dengan menguasai Nahwu dan Shorof, Masterkanlah dirimu dengan menguasai pan bilaghah, Grandmasterkan dengan mengkaji manthiq, Epickanlah dirimu dengan menguasai Fiqih, Legendkanlah diri dengan Ilmu Tafsir, Hadits dan Tashawuf. Mythickanlah dirimu dengan Ushul fiqih, Gloriuskan diri dengan pengaktualisasian ilmu-ilmu hawadits.

Dan, Welcome to Bahtsul Masail in your pesantren. Dan bergabunglah bersama para kyayi di Forum Lembaga Bahstul Masail Nahdlatul Ulama. 

Pancatengah 28 Agustus 2022, Tabarruk bersama para Kyayi di Pondok Pesantren Fauzul Hikmah, Pancatengah. ☕☕
foto. Anggota LBM NU Kab Tasikmalaya di Pesantren Fauzul hikmah

foto. Anggota LBM NU Kab Tasikmalaya di Pesantren Fauzul hikmah

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar