Yang Berbeda Hanyalah Jenis Kelamin

 YANG BERBEDA HANYA JENIS KELAMIN



Al-Katsiru Dzunub Ajang M Abd Jalil

(Warning: Tulisan yang tak perlu dibaca)

Ketika seseorang berumah tangga, selalu saja terngiang sebuah harapan yang terlontar dari sanak saudara, famili, kerabat, teman sahabat , guru bahkan orang tua kita sendiri, kata "Sakinah, Mawadah wa Rohmah", tiga kata yang kurang lebih berisi makna "tentram, saling mencinta dan penuh kasih sayang". Biasanya kerap terlontar ketika seseorang memasuki tahap akad dan resepsi, yang selalu nyaris terucap, terdengar dan tersakralisasi dalam sebuah acara sakral pernikahan.

Pun begitu saat dulu pertama kali aku memutuskan hidup bersama dengannya, seorang wanita yang sukses dan berhasil menjatuhkan hati lalu mencuri seluruh jiwa agar selalu bersanding abadi dengannya. Entah aku yang harus bersyukur mendapatkan istri yang berhasil mendapatkan cintaku, atau dia yang harus bersyukur mendapatkan aku dengan segala keterbatasan atas nama apapun. Atau bisa juga kita sama-sama bersyukur karena Tuhan telah menakdirkan kita untuk selalu bersama. 

Seperti kebanyakan kisah rumah tangga yang lain, kami juga terkontaminasi oleh suka dan duka, kadang terpapar bahagia yang dihiasi canda tawa bahkan tangis keluh kesah bersama. Pahit dan manis sejenis sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan satu sama lain, ya meski saat ini kebanyakan hanya sedikit rasa menis dienyam. Makhluq bernama Luka dari spesies terkecil sampai yang terbesar jelas kami lahap setiap waktunya, namun Tuhan pun Maha baik, terkadang pula saat hati telah berada hampir putus asa dan berhenti, Ia curahkan Rahmat tak terhingga, laksana kendaraan yang habis BBM lalu menemukan POM, senyum kasihnya adalah hiburan yang terhampar yang takkan kami dapatkan dari dunia drama komedi dalam acara layar kaca, dan kita melaju kembali seperti awal kami menemukan bahagia. 

Mungkin belum saatnya menemukan bahagia jika memakai standar dunia, kenikmatan menurut instrumen fana, sejahtera dalam lensa kehidupan yang sementara. Kami memang masih berada di sebuah fase 'dililit hutang, lapar dan haus bersama, pengangguran dalam artian profesi meski telah mengenyam dunia pascasarjana, menjalankan usaha yang keseluruhannya adalah rintisan hanya untuk sekedar bertahan hidup sampai berkedudukan sebagai benalu di rumah orang tua.'

Apapun kisah yang disodorkan dalam indosiar yang ceritanya dari dulu gitu-gitu aja telah kami jalani, sebagai keluarga kecil sederhana. Tak ada pemandangan yang tanganmu bertepuk tangan atas prestasi dan capaian standar hidup menengah ke atas. Lalu dijadikan cerita inspirasi bagi sebagian kalangan 'fans' dalam media sosial yang ada. Kami hanyalah keluarga kecil yang biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. 

Seringkali kami menahan lapar dalam beberapa hari bahkan minggu hanya berbekal subsidi dari orang tua. Atau sekedar pendapatan dari profesi sebagai "Ajengan Honorer" di sebuah lembaga terdekat yang disana aku dan keluargaku telah mewakafkan diri untuk berbakti kepada sang guru, sampai kami semua tak bernyawa. 

Aku tidak sedang bercerita tentang bagaimana malangnya fenomena kesengsaraan dalam berumah tangga. Tapi hanya sekedar mengasah kembali potensi bercerita menekuni hobi menulis di dalam media. Jadi tidak perlu melimpahkan iba apalagi tetesan air mata. Karena bagi kami, apapun yang dihadapi, sebesar apapun bentangan coba, asal dihadapi bersama, pasti akan berbuah bahagia. 

Bagi kami bahagia bukan terdapat dalam rumah yang mewah, saldo uang di Bank dengan nominal tak terhingga, kendaraan yang gagah melaju di jalan raya, atau smartphone yang penuh gaya. Sekali lagi kami hanya butuh "bersama". Karena kebersamaan adalah harta yang paling berharga. 

Kini kita telah bertiga, sang buah hati terlahir kedunia memainkan peran sebagai pelipur lara. Dan hartaku bertambah, dari hanya sekedar berdua bertransformasi menjadi berjama'ah. Alhamdulillah wa syukrulillah. Mahbub anakku telah menjadi penawar berbagai resah. 

Kita mencoba adil dalam berkiprah, menjalani Qadha dan Qadarullah, mencoba merelevansikan apa yang disebut dengan kesetaraan gender. Kita bertukar peran, terkadang engkau yang berniaga, aku yang di rumah saja. Terkadang aku yang berburu dalam hamparan semesta dan kau mengasuh "karya kita." Semua dijalani dengan penuh pengertian, jika aku lelah, kau yang peka untuk menyuguhkan kesejukan pelepas dahaga. Dan jika kau letih, aku yang menggantikan peran untuk sekedar bersih-bersih. 

Tak ada yang lebih dominan diantara kami, karena kami adalah jiwa yang satu, dan Tuhan berkehendak untuk membelah lalu menjelma menjadi belahan jiwa. Meregenerasi menerus dan menambah populasi jiwa. Kami senang, bahagia tanpa derita meski berlumur luka.

Do'a-do'a dari tetamu undangan mungkin ada yang diijabah, sepedih apapun sebuah kisah, selalu berhasil terobati dengan 'mendesah', mungkin itulah arti "Sakinah." Menjalani gurat takdir dengan niat Lilah. 

Oh iya, akhir-akhir ini kenapa tiba-tiba aku menjadi manusia yang super sibuk (So Sibuk). Dari mulai shubuh, dhuha, dzuhur, ashar, magrib, isya senantiasa diisi dengan padatnya mengaji? Sepertinya kini sang sutradara menginginkan aku menjalani berbagai peran, dari mulai sebagai "ajengan honorer, ajengan ilegal(2) sampai ajengan eceran(3)." Tiba-tiba hati cenderung untuk senantiasa menikmati karya-karya klasik yang dulu pernah aku cita-citakan untuk menguasainya. Seolah aku tak bisa lepas dari pandangannya, kitab kuning yang dulu pernah ku enyam saat menginjak masa-masa petualangan remaja, hatiku tergerak untuk menelanjangi syarah-syarah kitab yang kecil. 

Tiba-tiba aku tersadar, seolah ada yang membawaku untuk kembali menyelam ke dasar literasi klasik. Seolah aku tak puas jika hanya sekedar melihat matannya saja. Bahkan yang lebih parah, kenapa aku rela meninggalkan kecenderungan tempo dulu sebagai pebisnis online, sebagai aktivis, mahasiswa, penulis lepas dan sekedar buruh kasar, pekerja serabutan untuk sekedar bertahan hidup ya? 

Jika tak bertemu meski hanya sehari saja, maka tak ada nafas padanya. Pada setiap lembaran yang ku buka, seakan menemukan serpihan hidup yang telah lama terdamba. Mungkin bukan sebagai Ulama, tapi hanya sekedar Muhibbin para Ulama. Menemukan hal-hal baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ada semacam aura sejuk di tengah-tengah cuaca panas yang membara. 

Lekukan huruf berhasil menyeka air mata, rentetan kata berhasil menyembuhkan luka, sederet kalimat berhasil mengubah pandangan dunia dan setiap paragraf berhasil memungut bahagia yang hampir sirna. Jiwaku seakan kembali seperti sedia kala. Remang-remang senyuman Tuhan semakin nyata dan aku semakin tenggelam di dalamnya.

Ada yang berbisik di telinga, menusuk lalu merasuk jiwa, berbeda dari sebelumnya. Bisikan itu berisi sebuah fatwa maya, namun memukau dan menggugah jiwa. Ia berbunyi "Setiap amal sholeh yang dilakukan akan menggempur berbagai dosa, syahadat akan menghapus kekafiran dan mengembalikan dari kemurtadan, sholat akan menghapus dosa kecil berupa "Munkar dan fahsya," zakat akan menghapus dosa yang mendatangkan bencana, puasa menghapus syahwat yang bertahta di dalam jiwa, haji hanya akan memberi halusinasi kebersihan dari dosa seperti baru lahir ke dunia, Istigfar hanya akan menghapus dosa yang volumenya besar, itupun jika diiringi taubatan nashuha, shodaqoh hanya akan menghapus."

Tapi lanjutnya, diakhir kata ia berkata; "Ada sebuah dosa yang gak akan ada satu amal sholehpun menghapusnya, kecuali dengan mengaji, menyusuri petuah para Ulama. Dosa itu hanya akan terhapus oleh mengaji saja, dan kamu diberi rasa suka serta kecenderungan untuk terus bermesra (dengan terus membaca) jauh dari waktu-waktu sebelumnya, adalah upaya/ikhtiyat pembersihan dosa tersebut atas Kehendak-Nya."

Akupun terhenyak dari tidur panjangku, ternyata benar juga. Aku belum sempat melakukan ritual "Yastagfiruuna bil ashaar, taubatan nashuha." Juga sholat awwabin atau juga mendawamkam sholat taubat serta sholat Tawwabin yang seharusnya dilakukan antara maghrib dan Isya. Dari sini seakan disadarkan oleh harapan sebelumnya, mimpi-mimpiku yang dahulu kala, pernah meminta untuk mengampuni semua dosa yang tak terasa. 

Bersamaan dengan itu, saat melihat istri tercinta, ada semacam getaran asmara. Seakam "de javu" ke masa dimana kita bertemu untuk pandangan pertama. Cintaku utuh seperti sedia kala. Senyum manismu berhasil menjelma kembali dikala aku mencintaimu saat pertama kalinya, rasanya persis seperti pertama kali bertatap muka. Saat ketika saling melempar senyum adalah dimana dunia serasa milik berdua, dan tak manusia lain selain kita. Pikirku, inikah yang dinamakan dengan "Mawaddah?"

Awal september adalah fase dimana kami menjalani hidup seperti jalan yang terjal, berbatu tanpa alas kaki, otomatis mewariskan luka yang menganga. Jika kuceritakan, mungkin akan merampas jadwal tidurku malam ini. Tak sempat aku menghembuskan nafas untuk sekedar canda, tertawa, bersuka ria sehingga aku lupa bagaimana rasanya bahagia. 

Ditengah jadwal yang semakin memadat, hasrat untuk mengaji bersama semakin membara, menggeser jadwal kegiatan bertahan hidup sampai lupa bagaimana memegang makhluk bernama 'cuan', sampai lupa bagaimana caranya mengejar dunia. Berjihad membela perut semakin terpinggir bahkan terlupa. 

Malam ini jadwal untuk bertabarruk untuk bersua dengan sang guru spiritual. Merutinkan diri mengisi hati, penjinak iri dengki dan sekawanan penyakit hati. Tiba-tiba terbesit untuk bertanya pada sang istri "Neng, mana cucian teh? Ku aa urang cuci ayena." Lho kok tiba-tiba terbesit rasa iba ketika dia terbaring disamping sang putra, mengantarkan tidur dengan nyanyian dan nada seadanya. 

Kayaknya dia lelah setelah seharian merawat segala yang dianggapnya wajib semisal mereka-reka kamar, memandikan anak, memberi makan dengan suapan manja, berdoa lama-lama, sampai terbayang kelelahannya mendidik anak murid di sekolah gama. Pikirku, ini kesempatanku untuk menyaksikan senyum bangga dari sang belahan jiwa. Menggantikan peran sebagai Ibu rumah tangga. 

"Neng, aa nyuci helanya!" Seruku padanya. "Yakin a, ek nyuci ayena?" Tanyanya, "Lalu kapan lagi jika bukan malam ini aku bisa menggantikan peranmu sebagai ibu rumah tangga, karena siangnya aku pasti akan kembali sibuk berihtiyar menghapus dosa yang tak bernama." Sanggahku padanya. 

Oh Tuhan, daya apa yang kurasakan malam ini padahal biasanya sekarang adalah waktu untuk merebahkan dada. Hanya berbekal kecupan halal darinya, aku mampu merampungkan 5 jolang cucian sekeluarga. Tanpa lemah, tanpa letih, tanpa lesu, tanpa lunglai dan tanpa lelah. Senyum manisnya malam ini bukan hanya membangkitkan "syahwat" seperti biasa, tidak hanya sekedar mengharap bermain bersama diatas ranjang. Tapi aku ingin hidup bersamanya sampai tua, sampai berakhir dunia. Selain maut, tak kan ada yang bisa memisahkan kita. 

Malam ini aku seakan menemukan serpihan jiwa yang sebelumnya hilang entah kemana, hanya saja Tuhan menginginkan metamorfosis dalam kelamin yang berbeda, semoga ini yang dinamakan "Warohmah" oleh mereka. 


Cipasung, 16 september 2021

Sebuah tulisan yang kupersembahkan kepada sang belahan jiwa, Neng Dhea Mutia Azzahra

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar