Lupa Bahwa Ia Pelupa

 ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—œ๐˜๐˜‚ ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—น๐˜‚๐—พ ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ.

Sumber Foto Google


๐™พ๐š•๐šŽ๐š‘ : ๐™ฐ๐š“๐šŠ๐š—๐š ๐™ผ๐šž๐š‘๐šŠ๐š–๐š–๐šŠ๐š ๐™ฐ๐š‹๐š๐šž๐š• ๐™น๐šŠ๐š•๐š’๐š•

Lupa adalah suatu karakter sejati manusia yang tak bisa lepas, tak ada yang bisa luput dari sipat tersebut. Manusia yang punya daya ingat luar biasapun tak akan pernah bisa lepas dari lupa, bahkan jika manusia tidak mempunyainya, maka dia bukan manusia. 

Dalam kajian literasi manthiq kita sering mendengar istilah "๐˜ˆ๐˜ญ-๐˜๐˜ฏ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ"

 manusia tempat salah dan lupa. Kalimat tersebut jelas-jelas mendeskripsikan apa yang menjadi bahan dasar psikologis manusia. 

Dua sifat ini menurut saya yang menjadikan pondasi manusia sebagai makhluq yang terkategorikan sebagai makhluq yang akan dimuliakan oleh Allah swt. Manusia sebagai makhluq pelajar baik itu berfikir, berucap, menyerap informasi atau bahkan mendeskripsikan sesuatu, yang dalam literatur manthiq disebut sebagai ๐˜๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฒ.

Secara literate, dalam KBBI Lupa mengandung arti; Lepas dari ingatan, tidak dalam fikiran, tidak sadar atau sinonimnya 'Lalai atau acuh'. Kata lupa biasanya diidofatkan dengan 'diri' dan 'daratan.' Lupa daratan bermakna hilangnya harga diri, atau istilah pesantren disebut ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ. 'eweuh kaera' kalau dalam bahasa Sunda. Lupa diri bermakna 'teu ngaca' atau tidak bermuhasabah diri. 

Ada juga bentuk semiotik reka bahasan semisal 'Lupa-lupa ingat' yang bermakna ingat bagiannya saja, tidak keseluruhan. Berikutnya adalah kalimat "melupai diri" meski jarang digunakan itu juga bermakna pingsan. 


Yang saya temukan ada lima imbuhan yang memakai kata lupa,  diantaranya: 

1. Awalan me- akhiran -kan contohnya: melupakan.

2. Awalan Pe- contoh: pelupa. 

3. Awalan ke- akhiran -an contoh : kelupaan.

4. Akhiran -Kan contoh: Lupakan. 

5. Awalan Me- akhiran -i contoh: melupai. 


Lupa juga ada jenisna yaitu : 

1. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ

Yaitu mengingat hanya sebentar. 

2. ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ

 yaitu kemampuan mengingat hanya 15 menit saja, selebihnga abai dan acuh. Dalam quantity, hanga mengingat 2-7 point saja, jika lebih dari itu otomatis akan lupa. 

3. ๐˜“๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ

Yaitu melupakan 1 detik yang telah lalu. 


Menurut psikolog, ada 7 type manusia pelupa yaitu: 

1. ๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ

Pikiran sekilas. Biasanya ini disebabkan oleh ketidak tertarikan.

2. ๐˜ˆ๐˜ฃ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด

Pikiran kosong. Disebabkan oleh kurangnya konsentrasi dan tidak adanya, kefokusan. 

3. ๐˜‰๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ

pikiran yang tertahan. Berasal dari penuaan otak, dan tertimbun oleh ingatan yang baru.

4. ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช

lupa redaksi tulisan atau pengucapannya, tapi ingat maksudnya. 

5. ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜บ

 Gagalnya seseorang meyakinkan sesuatu yang nyata terlihat dengan jelas. Biasanya gara-gara Husnudzon teuing atau suudzon teuing.

6. Keberpihakan, biasanya seseorang tidak akan bisa jika tidak membiasakan, misalnya dia tau bahwa bersepeda adalah menjaga keseimbangan, tapi ketika dipraktekan dia tetap jatuh karena kurangnya membiasakan menyeimbangkan. 

7. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช, disebabkan oleh rasa sakit, misal dia merasakan kebencian karena suatu kesalahan sikap seseorang kepada kita, dan rasa benci itu padahal ada ratusan bahkan ribuan kebaikan yang kita terima.

Dari semua pernyataan tersebut, bukankah itu kita? Dan siapakah yang tidak pernah mengalaminya? Artinya lupa adalah sebuah keniscayaan bagi manusia. Jadi jangan minder dan merasa rendah diri jika memang kita terkadang 'lupa'. 

Bagaimana dengan asumsi bahwa 'lupa disebabkan oleh dosa', dalam hal ini, sebetulnya tidak ada kaitannya antara dosa dan lupa. Atau bahkan saya berani bahwa mengatakan bahwa buruknya hafalan bukan berarti pelupa. Misal pernyataan Imam Syafii ketika bertanya kepada imam Waki' tentag buruknya hafalan yang disebabkan oleh dosa. Sama sekali beliau tidak mengatakan bahwa lupa adalah buruknya hafalan, tidak pelupa mengatakan bahwa lupa disebabkan oleh dosa. Buktinya, ketika Imam Syafii mengingat pelajaran, bersamaan itupula beliau melupakan kekosongan fikirannya.

Makanya dalam ilmu balaghah ada istilah ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ป๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช atau kosong dari pengetahuan sama sekali, (berbeda dengan istilah 'jahil' atau 'biladah'). Dalam fase tersebut, seseorang dikatakan sebagai 'fitroh' atau john locke menyebutnya sebagai tabula rasa. Imam syafii atau pelajar lainnya menghafalkan sesuatu bukan dalam rangka memperbaiki lupa, tetapi "mengisi dan berlatih" menerapkan teori atau ilmu yang baru. 

Dari sini saya berkesimpulan bahwa Lupa tidak berantonim dengan hafal, karena menghafalkan bukan untuk menghilangkan lupa, dan melupakan bukan upaya menghilangkan hafalan. 

Bagiku, lupa adalah potensi dalam diri manusia yang "perlu dikembangkan, dilatih, dan ditingkatkan" karena lupa adalah bagian yang terkategorikan sebagai soft skill dalam diri manusia.

Misal; melupakan kebaikan kita kepada orang lain disebut dengan ikhlas. Orang-orang yang ikhlas adalah orang melupakan kebaikan kita kepada orang lain, dan mengingat kebaikan mereka kepada kita.

Melupakan kemarahan disebut dengan 'hilim', karena hilim adalah sifat manusia yang mulia, dia melupakan sisi kebencian dan keburukan pada orang lain sebab terfokus kepada sisi baiknya seseorang. Sifat ini biasanya dimiliki oleh para wali dan orang tua kepada anaknya. 

Melupakan nikmatnya dunia, disebut dengan zuhud. Orang yang zuhud adalah yang berhasil melupakan nikmatnya dunia dan terobsesi oleh nikmat akherat. Pelakunya adalah para sufi dan para salikin. 

Lupa pada keterbatasan diri, disebut dengan orang yang gigih. Karena kegigihan adalah upaya melampaui batas-batas yang nampak di dalam diri, karena terfokus kepada anugrah besar yang lain ketika mengejar cita-cita. 

Tekun adalah melupakan kebodohan diri sehingga ia terus meniti satu persatu untuk menguasai dan pelajaran tertentu, ia melupakan hari kemarin bahwa ia bodoh. 

Melupakan masa lalu yang kelam bisa menciptakan rasa optimis untuk menyongsong hari esok. Melupakan celaan, ocehan, omongan negatif dan hinaan orang lain akan mempercepat seseorang untuk meraih cita-citanya. Melupakan kata-kata yang menjatuhkan akan membuat seseorang tetap berdiri dan istiqomah dalam melakukan sesuatu. Dst. 

Sekali lagi lupa adalah potensi, soft skill, kemampuan yang perlu dilatih dikembangkan atau bahkan diapresiasi untuk dibanggakan karena seringkali lupa ini menjadikan "Manusia menjadi manusia yang benar-benar manusia".

So, jika lupa membuatmu menjadi lebih baik, kenapa tidak untuk melatih dan meningkatkan skil lupa yang kita miliki.

Bagi saya, Ingat dan lupa bukan dua kata yang saling berantonim, tetapi dua suku yang nyaris bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Seperti ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ง, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜บ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan sama sekali. 


โ„œ๐”ข๐”ฃ๐”ฉ๐”ข๐”จ๐”ฐ๐”ฆ, 28 ๐”„๐”ค๐”ฒ๐”ฐ๐”ฑ๐”ฒ๐”ฐ 2022 โ„ญ๐”ฆ๐”ญ๐”ž๐”จ๐”ž๐”ฑ ๐”–๐”ฆ๐”ซ๐”ค๐”ž๐”ญ๐”ž๐”ฏ๐”ซ๐”ž ๐”—๐”ž๐”ฐ๐”ฆ๐”จ๐”ช๐”ž๐”ฉ๐”ž๐”ถ๐”ž

SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar