Agama Yang Tak Lagi didengar Atau Agama Yang Tak Lagi Mendengar?

 Oleh Ajang M Abdul Jalil

Kita hidup di era milenium yang bisa dikatakan zaman memuncaknya teknologi dan serba digitalisasi. Kemunculan revolusi industri yang akan bahkan sudah menginjak era 5.0 adalah hidup yang serbakompleks. Ditambah lagi telah dirintisnya Teknologi 'Artificial Intellegence' yang dikembangkan oleh para Elit papan atas semisal Elon musk, Bill gates yang cukup menggemparkan dunia. Dimana ketika AI sudah diterbitkan akan banyak prosedur kerja manusia menjadi total kerja mesin.

Untungnya 'Geoffrey Hinton' sang bapak AI menghentikan proyek penelitian dari Konsep mengerikan tersebut. Andaipun ada, itu hanya sisa-sisa penghabisan kontrak sebelumnya yang harus dirampungkan karena sudah teken kontrak dengan pihak Google. Jadi pengembangan AI hanya akan berjalan dari pematangan Tiga proyek saja, 'Machine learning', 'deep learning', dan perambatan algoritma mundur dll.

Percikan dari beberapa konsep sederhana dari AI saja sudah cukup meresahkan beberapa pihak, apalagi jika semuanya dipublish dan teken kontrak untuk beberapa proyek lanjutan. Diantara hal yang mengerikan jika proyek ini terealisasi akan banyak lapangan pekerjaan yang tutup atau bahkan bangkrut karena sudah tergantikan oleh mesin. Tapi penutupan lapangan pekerjaan itupun bersamaan dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru pula, karena menurut hemat penulis adalah hal mustahil jika suatu teknologi akan dijalankan oleh segelintir orang.
Lebih jauhnya lagi, dengan teknologi yang lebih canggih, justru akan menemukan energi terbarukan dan menghancurkan eksploitasi besar-besaran dari SDA yang tidak dapat diperbarui.

Kabar buruknya adalah akan banyak pekerjaan yang saat ini ditangani manusia yang diganti peran dengan mesin. Kabar gembiranya adalah akan ada pula lapangan pekerjaan yang dibuka oleh kaula muda dan terpotongnya sebuah jarak, ilustrasinya adalah istilah WFH (Work From Home). Kabar bijaksananya adalah era ini akan terjadi perpindahan, pembaruan pengalihan dan minimnya eksploitasi yang tidak terbarukan.
Sesuatu dikatakan sebagai sejarah jika itu didongengkan oleh para pemenang, sedangkan para pemenang adalah dia yang bertahan dan selalu berinovasi dalam setiap zaman. Ia adalah kaum inklusif dan terbuka terhadap segala pemberitaan dan keadaan, hanya orang-orang 'up to date' lah yang akan keluar sebagai pemenang. Artinya sejarah akan ditulis oleh mereka yang inklusif terhadap segala bentuk perkembangan.

Begitupun agama, jika kita melihat perspektif agama sebagai "Pandangan Umum" yaitu tentang petunjuk hidup baik di dunia maupun kehidupan setelah dunia, maka ia harus responsif terhadap segala situasi dan keadaan. Jika agama mampu dipertaruhkan sebagai pelita, maka ia akan menjadi pemenang.

Namun sayangnya, agama adalah sejenis ritual yang sangat sakral dan dijadikan "berhala" untuk tambahan jadwal rutinitas manusia, ia dijadikan sebagai bahan "dongeng sebelum tidur" bagi adik-adik calon penerus bangsa. Agama hanya sebuah "Kosakata" untuk dipertontonkan dalam ritual semacam "Stand Up Komedi Bersyari'ah" (Red : Tabligh Akbar)
Lebih dalam lagi, agama hanya dijadikan komoditas bisnis yang berbasis spiritual. Di dalamnya hanya sebagai candu, "ngarepehken budak cerik" ( Red : obat penenang) atau bahkan jadi semacam opium yang membuat seseorang candu dalam kehidupannya. Yang pada akhirnya manusia akan mengalami "overdosis agama". Na'udzubillah tsumma na'udzubillah..

Sejatinya, Para Nabi dalam sejarahnya adalah tokoh yang dikirimkan oleh Allah, Alah, ell, Elohim, Yahofah, Sanghyang, God atau apapun istilah lainnya yang mendeskripsikan tentang "Yang Maha", untuk manusia agar membawakan kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia. Ia adalah petunjuk atau indikator hidup di dunia dan di Akherat.
Bisa diilustrasikan jika pemakaian obat atau suatu produk selalu ada petunjuk pemakaian dan indikator pemakaian, lalu bagaimana dengan hidup manusia, apa indikatornya? Bagaimana aturan pakainya? Tentuk semuanya ada aturan dan step by step nya yang akan menjadikan tepat hidup atau setidaknya bisa menghindarkan manusia dari menjalani hidup.

Ilustrasi diatas adalah analogi sederhana bahwa penting sekali menjadikan agama sebagai "petunjuk hidup" dan sekaligus menepis pendapat para "Atheist" yang mengatakan bahwa "mereka tidak butuh agama". Karena mustahil rasanya dia menciptakan sebuah produk tanpa petunjuk dan mustahil untuk sembuh jika tidak mengikuti aturan dosis dari dokter.
Lalu bagaimana agama menjadi petunjuk hidup di era yang serba teknologi dan digitalisasi atau bahkan zaman kebangkitan AI?

Inilah rumusan masalah yang harus dijawab secara panjang dan mendetail dalam menempuh hidup saat ini. Namun perlu dicatat, "Aturan adalah sebuah undang-undang yang ditulis oleh sang Pembuat dan disampaikan oleh sang Praktisi Ahli". Rasanya akan sangat menakutkan jika indikasi itu disampaikan secara eksperimentalis, kalau kata Bu titik mah "Buat anak (umat) kok coba-coba".
Dari sini, pentingkah kiranya kita membutuhkan seorang Wasithah, Mursyid, Muqoddam dalam bidang akhlaq, karena ia semacam orang tua bagi ruh manusia. Kita membutuhkan para Mujtahid dalam bidang fiqih untuk menegaskan hukum-hukum yang baru karena mengahadapi masalah yang baru.

Bagi masyarakat pesantren, akan sangat sulit untuk menemukan kedua perantara tersebut karena diharuskan mempunyai kriteria yang ideal dan kapasitas yang mumpuni. Bahkan jika kita menggunakan standar pembentukan tokoh penuntun tersebut rasanya mustahil sekali untuk ditemukan. Mengingat para Imam sebelumnya mendalami penguasaan tersebut berpuluh-puluh tahun lamanya. Semisal harus menguasai beberapa cabang ilmu dan tingkat kesalehan yang hampir mendekati malaikat.

Namun rasanya, menurut hemat saya standarisasi atau kriteria itu juga perlu ada reka ulang mengingat apa yang dibutuhkan berbeda dengan yang dibutuhkan di zaman dulu.
Misal, jika dahulu disamping penguasaan ilmu Syariat, dibutuhkan pula skill tambahan berupa ilmu Kanuragan karena diperlukan ilmu-ilmu "kadugalan" untuk mengusir penjajah dan mempertahankan hak-hak masyarakat. Perlu penguasaan sektor ekonomi diabad pertengahan mengingat kemiskinan merajalela di zamannya.

Begitupun saat ini, rasanya di era ini dibutuhkan pula skill tambahan bahkan di tingkat "expert" dalam bidang-bidang IT. Semisal jika dulu ada spesifikasi khusus pendidikan Pesantren yang Nuansa Hikmah atau kebatinan yang mendidik santrinya untuk menguasai Kanuragan dan ilmu supranatural. Nah bisa saja saat ini membutuhkan pesantren dengan spesifikasi khusus bidang Teknologi, IT dan Digitalisasi. Semisal Pondok Pesantren Nurul Aiti, Pesantren Misbahul Tesla dan sebagainya.

Artinya, jika ilmu supranatural adalah ma'unah dan karomah para Ulama di zaman dulu, bisa saja IT, Digitalisasi, AI adalah ma'unah dan karomah ulama di masa kini. Kemampuan seseorang dalam menciptakan lapangan pekerjaan adalah mau'nah dan karomah di masa kini.
Saya rasa jika Sang Tokoh yang terpandang sebagai tokoh Kharismatik adalah yang mempunyai karomah dan ma'unah spiritual, bisa saja saat ini tokoh yang paling ditakuti adalah para "Hacker" atau minimal "Gammers" tetapi Hacker dan Gammer yang berakhlaqul Karimah.
Namun sayang, cikal bakal dari pembentukan ini belum mampu "ngigelan" perkembangan zaman. Artinya alat-alat teknologi masih dipandang sebagai hal-hal destruktif yang bisa merusak moral manusia. Karena masih dianggap banyak hal yang negatif daripada positif, berdalih dengan "Dar'ul mafasid muqoddamun min jalbil mashalih". Benda-benda baru masih dianggap musuh bukan sebagai mitra.
Contoh sederhana munculnya aturan larangan memegang "Smartphone" untuk kalangan santri atau murid, padahal dengan alat bernama Smartphone bisa saja mereka diarahkan untuk menjadi pelajar bahasa dengan hemat biaya untuk menjadi seorang "Bilingual" belajar bahasa Asing dengan gratis dan tanpa melibatkan bahasa asing.

Akses informasi dan berita secara praktis dan tanpa ribet, kita bisa melihat perkembangan zaman secara "Up To Date" zaman sekarang, jika kita mengoptimalkan akses berita, "moal Aya paribasa katinggalen berita".
Namun sisi lain, meski banyak hal positif yang bisa diambil, kita belum menemukan upaya "Tawazun" (penyeimbang) agar setidaknya bisa meminimalisir hal negatif terjadi. Kita belum menemukan instrumen di bidang pengawasan atau bahkan pemblokiran jika seandainya program pengoptimalan positif dalam sebuah teknologi.

Inilah yang harus kita pikirkan bersama, bagaimana derasnya arus sungai yang besar ini tidak melulu menjadi banjir, erupsi, erosi dan longsor, melainkan menjadi Tenaga Air Pembangkit Listrik, pengairan ke tempat yang kering, pemerataan irigasi.

Teknologi, Internet, AI, Digitalisasi tidak lagi dijadikan kambing hitam terhadap rusaknya moral dan akhlaq generasi muda, tetapi bagaimana ia justru menjadi potensi membangun manusia yang bisa memajukan taraf hidup dalam sudut pandang yang multidimensional.
Jihad yang paling relevan saat ini adalah memerangi kemiskinan, memerangi kebodohan, memerangi penjajahan dalam bentuk teknologi yang negatif.
Kita tidak melulu harus lari dari peperangan, atau menjadi pengecut untuk menghindari atau menjauhi sesuatu yang jelas-jelas menyerang di depan mata. Karena lari dari peperangan adalah "Haram Hukumnya."

Menghadapi peperangan memang tidak menjanjikan untuk menang, tetapi menghindari peperangan adalah satu-satunya cara untuk tidak menjadi pemenang. Selama agama abai terhadap perkembangan zaman, selama itu pulalah agama tidak akan di dengar.

Intaha, Singaparna 1 Juni 2023.
SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar