Bagian ke 5 terjemah Sirajutthalibin (Masih Manaqib)


Jama'ah Majelis Ilegaliyah Rahimakumullah...

قالَ ابنُ السَّمْعانيِّ :
وَقَدْ زُرْتُ قَبْرَهُ بِالطَّابَرانِ قَصْبَةِ طُوسٍ، سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عُمَرَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الطُّوسِيَّ مُذَاكَرَةً يَقُولُ : تَمَثَّلَ الإِمَامُ إِسْمَاعِيلُ الْحَاكِمِيُّ بَعْدَ وَفَاةِ الإِمَامِ أَبِي حَامِدٍ الْغَزَالِيِّ بِهذَا الْبَيْتِ :
Aku, Ibnu al-Sam‘ani, pernah mengunjungi makamnya di Ṭābarān, kawasan Ṭūs. Aku mendengar Abu Ja‘far ‘Umar bin Muhammad bin Ahmad al-Ṭūsī dalam suatu perbincangan mengatakan bahwa setelah wafatnya Imam Abu Ḥāmid al-Ghazālī, Imam Ismā‘īl al-Ḥākimī mengungkapkan bait syair ini:

عَجِبْتُ لِصَبْرِي بَعْدَهُ وَهُوَ مَيِّتٌ * وَكُنْتُ امْرَءًا أَبْكِي دَمًا وَهُوَ غَائِبُ
Aku heran dengan kesabaranku setelah ia wafat,
padahal dulu aku menangis darah hanya karena ia pergi jauh.

وَقَالَ أَبُو الْمُظَفَّرِ الأَبْيُورْدِيُّ يَرْثِيهِ :
Abu al-Muẓaffar al-Abiyūrdi menulis ratapan atas wafatnya al-Ghazālī:

بَكَى عَلَى حُجَّةِ الإِسْلَامِ حِينَ تَوَى * مِنْ كُلِّ حَيٍّ عَظِيمِ الْقَدْرِ أَشْرَفُهُ
Setiap orang mulia dari seluruh penjuru menangisi
Hujjatul Islām saat ia pergi untuk selamanya.

فَمَا لِمَنْ يَجْتَزِي فِي اللهِ عَبْرَتَهُ * عَلَى أَبِي جَامِدٍ لَاحَ يُعَنِّفُهُ
Apa salahnya jika air mata menetes karena Allah untuk Abu Hāmid?
Tak seorang pun mencela tangis itu, bahkan yang keras hati sekalipun.

تِلْكَ الرَّزِيَّةُ تَسْتَوْهِي قُوَى جَلَدِي * وَالطَّرْفَ تَسْهَرُهُ وَالدَّمْعَ تَنْزِفُهُ
Musibah itu mengguncang keteguhanku,
membuat mataku sulit tidur, air mataku terus mengalir.

فَمَا لَهُ خِلَّةٌ فِي الزُّهْدِ تُنْكِرُهَا * وَمَا لَهُ شَبَهٌ فِي الْعِلْمِ تَعْرِفُهُ
Tak ada cela dalam kezuhudannya,
dan tak ada yang menyamai ilmunya.

مَضَى فَأَعْظَمُ مَفْقُودٍ فُجِعْتُ بِهِ * مَنْ لا نَظِيرَ لَهُ فِي النَّاسِ يُخْلِفُهُ
Ia pergi, dan tiada yang lebih membuatku kehilangan
selain dia yang tak ada tandingannya di kalangan manusia.

وَقَالَ الْقَاضِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُعَافَى :
Qāḍī ‘Abd al-Malik bin Aḥmad bin Muḥammad bin al-Mu‘āfā berkata:

بَكَيْتُ بِعَيْنٍ وَاجِمِ الْقَلْبِ وَالْهٍ * فَتًى لَمْ يُوَالِ الْحَقَّ مَنْ لَمْ يُوَالِهِ
Aku menangis dengan mata sedih dan hati gundah
atas wafat pemuda yang tak diikuti kecuali oleh pencinta kebenaran.

وَسِحْتُ دَمْعًا طَالَمَا قَدْ حَبَسْتُهُ * وَقُلْتُ لِجَفْنِي وَاللهِ ثُمَّ وَاللِّهِ
Air mataku mengalir, yang dulu kutahan lama,
dan aku berkata pada mataku, demi Allah, demi Allah!

أَبَا حَامِدٍ مَحَى الْعُلُومَ وَمَنْ بَقَى * لِشَدِّ عُرَى الإِسْلَامِ وَفْقَ مَقَالَهِ
Wahai Abu Ḥāmid, engkau telah menghidupkan ilmu—
siapa lagi yang akan memperkuat tali Islam seperti engkau?

Baik, kita lanjutkan bagian berikutnya:


(الغَزَالِيُّ)

 بِتَخْفِيفِ الزَّايِ خِلَافًا لِابْنِ الأَثِيرِ فِي قَوْلِهِ : إِنَّهُ بِالتَّشْدِيدِ نِسْبَةٌ إِلَى غَزَالَةَ : قَرْيَةٍ مِنْ قُرَى طُوسٍ

"al-Ghazālī", dengan za' yang ringan (tidak ditekan), berbeda dengan pendapat Ibnu al-Atsīr yang mengatakan bahwa dibaca dengan penekanan (tasydīd), karena ia disandarkan ke desa Ghazālah, salah satu desa di Ṭūs.


(الطُّوسِيُّ) 

بِضَمِّ الطَّاءِ : نِسْبَةٌ إِلَى طُوسٍ، بَلْدَةٍ مِنْ أَعْمَالِ نَيْسَابُورَ.

"al-Ṭūsī", dengan ṭā’ yang dibaca dhammah (u), merupakan nisbah kepada Ṭūs, sebuah kota di wilayah administratif Naisābūr.

(قُدِّسَ اللهُ رُوحَهُ، وَرَفَعَ اللهُ فِي الجَنَّةِ دَارَ الثَّوَابِ دَرَجَتَهُ)

(جُمْلَةٌ دُعَائِيَّةٌ خَبَرِيَّةٌ لَفْظًا، إِنْشَائِيَّةٌ مَعْنًى، إِذِ المَقْصُودُ بِهَا الدُّعَاءُ)

"Semoga Allah menyucikan ruhnya, dan meninggikan derajat tempat tinggalnya di surga balasan."

Kalimat ini secara bentuk adalah berita, tetapi maksudnya adalah doa, maka secara makna ia bersifat permohonan (insha’iyyah).

Hal ini lebih kuat daripada sekadar ucapan “Ya Allah, sucikan dan angkat derajatnya”, karena menunjukkan kepastian dan pengharapan.

وَهُوَ أَبْلَغُ مِنْ قَوْلِكَ: "اللَّهُمَّ قَدِّسْ وَارْفَعْ"، لِأَنَّهُ يُشْعِرُ بِتَحْقِيقِ الوُقُوعِ تَفَاؤُلًا.

Ucapan ini lebih fasih dan kuat maknanya dibandingkan doa biasa, karena mengisyaratkan bahwa doa tersebut sudah atau pasti dikabulkan—sebagai bentuk optimisme dan penghormatan.

وَآثَرَ الفِعْلِيَّةَ الدَّالَّةَ عَلَى التَّجَدُّدِ وَالحُدُوثِ لِحُدُوثِ المَسْئُولِ بِهَا.

Bentuk fi’il (kata kerja) dipilih karena menunjukkan sesuatu yang terus terjadi dan diperbarui, sesuai dengan harapan agar anugerah itu terus diperbarui bagi Imam al-Ghazālī.

كَمَا أَفَادَهُ العَلَّامَةُ ابْنُ الْمُدَابِغِيّ، وَهَذَا الدُّعَاءُ مِنَ الفَقِيهِ عَبْدِ الْمَلِكِ لِشَيْخِهِ حُجَّةِ الإِسْلَامِ كَمَا عَلِمْتَ.

Sebagaimana dijelaskan oleh al-‘Allāmah Ibn al-Mudābaghī, doa ini berasal dari sang faqih, ‘Abd al-Malik, yang mempersembahkannya kepada gurunya, Hujjatul Islām, sebagaimana telah engkau ketahui.


قال الفقيه: أملى على شيخي الإمام أبو حامد هذا الكتاب.

Berkata sang faqih: Guruku, Imam Abū Ḥāmid, mendiktekan kepadaku kitab ini.


وهو في الأصل مصدر "كتب" إذا خَطَّ، وهو مصدر سماعي، والقياس "كتبا"، فأُطلق على المكتوب مجازًا ثم صار حقيقة عرفية في المكتوب.

Secara asal, "kitāb" adalah bentuk mashdar dari kata kerja "kataba" yang berarti menulis. Mashdar ini bersifat simā‘ī (didengar, tidak mengikuti pola qiyāsī). Awalnya dipakai secara majazi untuk menyebut tulisan, lalu kemudian menjadi istilah lazim (ḥaqīqah ‘urfiyyah) bagi hal yang tertulis.


والعبارة على حذف مضاف، أي مدلول الكتاب، لأن الألفاظ مدلول للمكتوب الذي هو النقوش.

Ungkapan ini mengandung penghilangan kata yang dipahami, yakni "makna dari kitab", sebab kata-kata adalah petunjuk terhadap sesuatu yang tertulis (yakni coretan/cetakan).


ثم إن الكتاب صار حقيقة عرفية في الألفاظ، فلا يحتاج لتقدير مضاف كما ذكره العلامة العدوي.

Namun, karena kata "kitāb" sudah menjadi istilah lazim bagi ucapan yang tertulis, maka tidak perlu lagi menyisipkan kata yang dihilangkan (seperti “makna”), sebagaimana dijelaskan oleh al-‘Allāmah al-‘Adawī.


(المختصر) اسم مفعول من "الاختصار": وهو الذي قل لفظه وكثر معناه، المسمى "منهاج العابدين إلى جنة رب العالمين"، كما قاله العلامة الزبيدي.

Kata "al-Mukhtaṣar" adalah bentuk isim maf‘ūl dari kata "ikhtiṣār", yang berarti sesuatu yang lafaznya sedikit namun maknanya banyak. Nama kitab ini adalah Minhāj al-‘Ābidīn ilā Jannati Rabb al-‘Ālamīn, sebagaimana disebutkan oleh al-‘Allāmah az-Zabīdī.


قال السجاعي: إن المختصر لغةً: ما قل لفظه وكثر معناه. واصطلاحا: ما قل لفظه سواء كثر معناه أو قل أو ساوى، فالقيد معتبر لغة لا اصطلاحا، لأنه قد تكون المعاني قليلة كالألفاظ.

Menurut as-Sajjā‘ī, secara bahasa "mukhtaṣar" adalah sesuatu yang lafaznya sedikit dan maknanya banyak. Namun dalam istilah, yang disebut mukhtaṣar adalah sesuatu yang lafaznya sedikit—apakah maknanya banyak, sedikit, atau setara. Jadi, syarat banyaknya makna hanya berlaku dalam bahasa, bukan istilah ilmu.


قال الخليل بن أحمد: الكتاب يختصر ليحفظ، ويبسط ليفهم، والاختصار ممدوح شرعا.

Kata al-Khalīl ibn Aḥmad: "Kitab diringkas agar mudah dihafal, dan diperluas agar mudah dipahami." Maka ringkasan (ikhtiṣār) itu terpuji secara syar‘i.


قال صلى الله عليه وسلم: "أوتيت جوامع الكلم، واختصر لي الكلام اختصارا".

Rasulullah SAW bersabda: “Aku dianugerahi jawāmi‘ al-kalim (ucapan singkat yang padat makna), dan kata-kata diringkas bagiku dengan ringkasan yang luar biasa.”


(وهو أي هذا الكتاب آخر كتاب صنفه)، أي: جمعه وجعله أصنافا بتمييز بعضها عن بعض.

Dan kitab ini adalah kitab terakhir yang beliau susun. Maksudnya: beliau menghimpunnya dan menjadikannya beberapa bab yang dibedakan satu sama lain.


فمؤلف الكتاب يفرد الصنف الذي هو فيه عن غيره، ويفرد كل صنف مما هو فيه عن الآخر، فالصوفي يفرد مثلا باب العلم عن باب التوبة.

Sang penyusun kitab memisahkan setiap topik ke dalam bagian khusus, seperti seorang sufi yang memisahkan bab ilmu dari bab tobat.


قيل: أول من صنف الكتب الربيع بن صبيح، وقيل: سعد بن أبي عروبة، وقيل: ابن جريج، كما قاله الخطيب في شرح المنهاج.

Dikatakan bahwa orang pertama yang menyusun kitab adalah ar-Rabī‘ bin Ṣubayḥ. Ada pula yang mengatakan Sa‘d bin Abī ‘Urūbah, dan ada juga yang mengatakan Ibn Jurayj, sebagaimana dinyatakan oleh al-Khaṭīb dalam Syarḥ al-Minhāj.


والتصنيف هنا بمعنى التأليف، وهو في العلوم الواجبة لا المندوبة، كعلم العروض، خلافًا لمن عده من جملة فروض الكفاية من البدع الواجبة التي حدثت بعد عصر الصحابة، كما ذكره العلامة ابن حجر.

Kata "taṣnīf" di sini bermakna "ta’līf" (penyusunan atau penulisan), dan hal ini berlaku pada ilmu-ilmu yang wajib, bukan yang anjuran (mandūb), seperti ilmu ‘arūḍ (ilmu irama syair), berbeda dengan pendapat yang menganggapnya sebagai bagian dari fardhu kifāyah dari jenis bid‘ah wajib yang muncul setelah zaman para sahabat, sebagaimana disebut oleh al-‘Allāmah Ibn Ḥajar.


ولعل محل الوجوب إذا توقف عليه حفظ العلم عن الضياع.

Mungkin kewajiban itu timbul apabila kelestarian ilmu tergantung pada penulisan tersebut, agar tidak hilang.


وفي "الكنز" للأستاذ البكري: تصنيف العلم مستحب، كذا ذكره الشرواني عن ابن قاسم.

Dalam kitab al-Kanz karya Ustadz al-Bakrī disebutkan: "Penyusunan ilmu itu hukumnya sunnah," sebagaimana juga dinukil oleh asy-Syarwānī dari Ibn Qāsim.


وكتابة العلم مستحبة، وقيل واجبة، وهو وجيه في الأزمنة المتأخرة، وإلا ضاع العلم.

Menulis ilmu juga dianjurkan, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib. Pendapat ini kuat untuk masa-masa akhir seperti sekarang ini, sebab jika tidak ditulis, maka ilmu akan hilang.


وإذا وجبت كتابة الوثائق لحفظ الحقوق، فالعلم أولى، كما ذكره العلامة ابن حجر أيضًا.

Jika penulisan dokumen diwajibkan demi menjaga hak-hak, maka ilmu tentu lebih utama untuk ditulis, sebagaimana juga ditegaskan oleh al-‘Allāmah Ibn Ḥajar.


(ولم يستمله منه)، أي: لم يطلب بالإقبال على هذا المختصر من الشيخ، (إلا خواص أصحابه)، وهم المفضلون بالعقل الصافي والفهم الثاقب حتى لا تزلزل عقائدهم شبهة، كما قاله الجرهزي.

Dan tidak ada yang menerima (mengambil manfaat) dari kitab ini kecuali para murid pilihan beliau, yakni mereka yang dikaruniai akal yang jernih dan pemahaman yang tajam, sehingga tidak goyah keyakinannya hanya karena syubhat, sebagaimana dikatakan oleh al-Jurhazī.


(وهو – أي الكتاب المختصر، أي مضمونه – الحمد).

Kitab yang diringkas ini – maksudnya isi atau pembukaannya – dimulai dengan kata “al-ḥamdu” (segala puji).


هو لغةً: الثناء، واصطلاحًا: فعل ينبئ عن تعظيم المنعم لإنعامه قولًا أو فعلًا أو اعتقادًا.

Secara bahasa, “ḥamdu” berarti pujian. Dalam istilah, ia adalah tindakan (ucapan, perbuatan, atau keyakinan) yang menunjukkan pengagungan terhadap Dzat yang memberi nikmat karena nikmat-Nya.


(مملوك)

، الله، فلا فرد منه لغيره تعالى وإن انتقم...

(Al-ḥamdu) adalah milik khusus Allah. Maka tidak ada yang dapat mengambil bagian dari pujian itu untuk selain Allah Ta‘ālā, meskipun Dia membalas (mengazab).



SHARE

About Ajang Muhammad Abdul Jalil

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar