Hadirin member Majelis Ilegaliyah Rahimakumullah.
وَهَذَا أَوَانُ الشُّرُوعِ فِي الْمَقْصُودِ مُسْتَمِدًّا مِنْ حَضْرَةِ الْمَلِكِ الْمَعْبُودِ.
Sekarang tibalah saat memulai tujuan utama, dengan memohon pertolongan dari hadirat Raja Yang Maha Disembah.
قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ ٱللّٰهُ تَعَالٰى، وَنَفَعَنَا بِهِ، آمِينَ:
Berkata penyusun — semoga Allah Ta‘ala merahmatinya dan memberi manfaat kepada kami melalui ilmunya, Āmīn:
بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
أَيْ: أَبْدَأُ بِكُلِّ ٱسْمٍ لِلذَّاتِ ٱلْأَقْدَسِ، لَا بِغَيْرِهِ، مُتَلَبِّسًا بِهِ لِلتَّبَرُّكِ.
Maksudnya: Aku memulai dengan menyebut seluruh nama Allah yang Maha Suci, bukan selain-Nya, sebagai bentuk mengharap keberkahan.
ٱلرَّحْمَٰنِ: أَيْ ٱلْمُنْعِمِ بِجَلَائِلِ ٱلنِّعَمِ، كَٱلْإِيمَانِ، وَٱلْعَافِيَةِ، وَٱلْعَقْلِ، وَٱلْغِنَىٰ عَنِ ٱلنَّاسِ.
"Ar-Raḥmān": yaitu Yang Maha Pemberi nikmat-nikmat agung seperti iman, kesehatan, akal, dan kecukupan dari manusia.
ٱلرَّحِيمِ: أَيْ ٱلْمُنْعِمِ بِدَقَائِقِهَا، أَيْ قَلِيلِهَا وَصَغِيرِهَا، كَزِيَادَةِ ٱلرِّزْقِ وَنَحْوِهَا.
"Ar-Raḥīm": yaitu Yang Maha Pemberi nikmat-nikmat halus dan kecil, seperti tambahan rezeki dan semisalnya.
وَلَا يُنَافِي ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ: إِنَّ نِعَمَ ٱللّٰهِ كُلَّهَا عَظِيمَةٌ، لِأَنَّ ٱلْمُرَادَ ٱلْقَلِيلَةُ وَلَوْ بِٱلنِّسْبَةِ إِلَىٰ شَيْءٍ آخَرَ.
Hal ini tidak bertentangan dengan pernyataan bahwa seluruh nikmat Allah itu agung, karena yang dimaksud nikmat kecil adalah jika dibandingkan dengan nikmat lainnya.
وَٱعْلَمْ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ شَارِعٍ فِي كُلِّ فَنٍّ أَنْ يَتَكَلَّمَ عَلَىٰ ٱلْبَسْمَلَةِ بِمَا يُنَاسِبُ ٱلْفَنَّ ٱلْمَشْرُوعَ فِيهِ، وَٱلشُّرُوعُ ٱلْآنَ فِي فَنِّ ٱلتَّصَوُّفِ.
Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang memulai dalam suatu bidang ilmu membahas basmalah sesuai dengan bidang tersebut. Adapun kita sekarang memulai ilmu tasawuf.
فَيَنْبَغِي أَوَّلًا أَنْ نُبَيِّنَ حَدَّهُ، وَمَوْضُوعَهُ، وَبَقِيَّةَ ٱلْمَبَادِئِ، ثُمَّ نُلْحِقَ ذَٰلِكَ بِٱلْكَلَامِ عَلَىٰ ٱلْبَسْمَلَةِ، فَنَقُولُ:
Maka patutlah terlebih dahulu kita menjelaskan definisi, objek kajian, dan prinsip-prinsip lainnya, kemudian kita sambung dengan pembahasan tentang basmalah. Maka kita katakan:
أَمَّا حَدُّهُ: فَهُوَ عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ ٱلنَّفْسِ، وَصِفَاتُهَا ٱلذَّمِيمَةُ وَٱلْحَمِيدَةُ.
Adapun definisinya: Ia adalah ilmu yang dengannya diketahui keadaan jiwa serta sifat-sifatnya yang tercela dan terpuji.
وَأَمَّا مَوْضُوعُهُ: فَهُوَ ٱلنَّفْسُ مِنْ حَيْثُ مَا يَعْرِضُ لَهَا مِنَ ٱلْأَحْوَالِ وَٱلصِّفَاتِ.
Adapun objek kajiannya: adalah jiwa, ditinjau dari berbagai kondisi dan sifat yang menyertainya.
وَأَمَّا ثَمَرَتُهُ: فَهُوَ ٱلتَّوَصُّلُ بِهِ إِلَىٰ تَخْلِيَةِ ٱلْقَلْبِ عَنِ ٱلْأَغْيَارِ، وَتَحْلِيَتِهِ بِمُشَاهَدَاتِ ٱلْمَلِكِ ٱلْغَفَّارِ.
Adapun manfaatnya: ialah sebagai sarana membersihkan hati dari selain Allah, dan menghiasinya dengan penyaksian terhadap Sang Raja Maha Pengampun.
وَأَمَّا حُكْمُهُ: فَهُوَ ٱلْوُجُوبُ ٱلْعَيْنِيُّ عَلَىٰ كُلِّ مُكَلَّفٍ، لِأَنَّهُ كَمَا يَجِبُ تَعَلُّمُ مَا يُصْلِحُ ٱلظَّاهِرَ، كَذَٰلِكَ يَجِبُ تَعَلُّمُ مَا يُصْلِحُ ٱلْبَاطِنَ.
Adapun hukumnya: wajib ‘ain bagi setiap mukallaf, karena sebagaimana wajib mempelajari perbaikan lahir, begitu pula wajib mempelajari perbaikan batin.
وَأَمَّا فَضْلُهُ: فَهُوَ فَوْقَانُهُ عَلَىٰ سَائِرِ ٱلْعُلُومِ، مِنْ جِهَةِ أَنَّهُ يُوَصِّلُ إِلَىٰ مَا ذُكِرَ.
Adapun keutamaannya: ia lebih tinggi dibanding ilmu lainnya, karena mengantarkan pada tujuan pembersihan dan penyaksian Ilahi yang telah disebutkan.
وَأَمَّا نِسْبَتُهُ لِلْعُلُومِ: فَهِيَ أَنَّهُ أَصْلُ كُلِّ عِلْمٍ، وَمَا سِوَاهُ فَرْعٌ، وَنِسْبَتُهُ لِلْبَاطِنِ كَنِسْبَةِ ٱلْفِقْهِ إِلَىٰ ٱلظَّاهِرِ.
Adapun hubungannya dengan ilmu-ilmu lain: ia adalah induk dari semua ilmu, dan yang lainnya hanyalah cabang. Hubungannya dengan batin sebagaimana fiqih berhubungan dengan lahir.
وَأَمَّا وَاضِعُوهُ: فَهُمُ ٱلْأَئِمَّةُ ٱلْأَعْيَانُ، ٱلْعَارِفُونَ بِرَبِّهِمُ ٱلْمَنَّانِ.
Adapun para penyusunnya: ialah para imam besar yang arif kepada Tuhan mereka Yang Maha Pemberi.
وَأَمَّا ٱسْتِمْدَادُهُ: فَهُوَ مِنْ كَلَامِ ٱللّٰهِ، وَكَلَامِ رَسُولِهِ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَوِي ٱلْيَقِينِ وَٱلْعِرْفَانِ.
Adapun sumber pengambilannya: berasal dari firman Allah, sabda Rasul-Nya—penghulu anak cucu Adnān—shallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta ucapan para pemilik keyakinan dan makrifat.
وَأَمَّا مَسَائِلُهُ: فَهِيَ قَضَايَاهُ ٱلَّتِي يُبْحَثُ فِيهَا عَنْ عَوَارِضِهِ ٱلذَّاتِيَّةِ، كَٱلْفَنَاءِ وَٱلْبَقَاءِ وَٱلْمُرَاقَبَةِ، وَغَيْرِ ذٰلِكَ.
Adapun permasalahannya: adalah persoalan-persoalan yang membahas hal-hal yang bersifat melekat padanya, seperti fana, baqā’, muraqabah, dan lain sebagainya.
Wallahu A'lam
Mantap sekali, istiqamah terus
BalasHapus